Metode Menarik untuk Pemberitaan Firman (3) Tema: Ikut Tuhan

Syalom. Masih seputar metode pemberitaan Firman Tuhan. Silahkan dibaca, semoga bermanfaat dan selamat melayani. Untuk nastnya, silahkan ditentukan sendiri. Yang pasti HARUS memiliki keterkaitan dengan keputusan untuk mengikut Tuhan. Continue reading “Metode Menarik untuk Pemberitaan Firman (3) Tema: Ikut Tuhan”

Iklan

Metode Menarik untuk Pemberitaan Firman (2) (Tema: Tokoh-tokoh Alkitab)

Pemberitaan Firman Tuhan yang disampaikan secara kreatif dan menarik menjadi suatu kebutuhan yang krusial sekarang ini. Dengan metode yang menarik dan tidak monoton, maka diharapkan pemberitaan Firman dilakukan secara efektif. Sehingga diharapkan melalui pemberitaan Firman yang menarik, maka tujuan utama dari pembelajaran di jemaat bisa menjadi berhasil, yakni mengubah sikap dan memperbaharui hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Continue reading “Metode Menarik untuk Pemberitaan Firman (2) (Tema: Tokoh-tokoh Alkitab)”

Mulai Menulis “Lagi” (Semoga) 

Lama tak berjumpa dalam aksara. Mungkin ada yang berpikir bahwa saya sudah kehilangan minat untuk ngeblog lagi. Ah, jangan vonis blogger malang ini dengan sesadis itu. Tangan masih gatal untuk merangkai kata. Otak masih suka bergentayangan mencari topik tulisan. Hati masih sangat tertarik dengan tulis menulis. Sibuk?  Alasan klasik! Ya, saya memang sibuk. Tapi tidak terlalu sibuk juga sih. Karena sebenarnya masih punya waktu untuk bisa menulis lagi. Tidak ada bahan atau topik?  Penulis hebat tidak pernah habis topik. Satu objek bisa menghasilkan 10 tulisan dengan beragam perspektif. Apa masalahnya??? Diri yang tidak mampu memberi secuil waktu untuk sekedar buka dashboard blog atau bahkan mulai menulis lagi. 

Beberapa waktu yang lalu, ada sesepuh yang kembali mengingatkan, kenapa jarang menulis lagi? Ayo menulis lagi! Terima kasih banyak atas ajakannya, Pak Budi Santosa.  Saya kira tidak ada yang memperhatikan apa yang saya lakukan. Ternyata salah. Masih ada orang yang tetap memantau dan peduli dengan kegiatan yang telah saya geluti sejak 2010 ini. Benar, seperti masakan. Orang yang menikmati, orang yang menilai rasanya.  Bagian kita adalah memasak dan menghidangkannya. Inilah bagian yang saya suka, memasak dan menghidangkannya. Soal rasa, soal kedua. Rasa suka dan puas di hati itu yang utama. Menulis, berpikir, merangkai kata, berbagi ilmu, bahkan sekedar cuap-cuap tidak jelas pun sudah jadi kebahagiaan. Apalagi jika ada yang menikmati manfaat dari apa yang saya hidangkan dalam blog ini. Semakin lengkap bahagia saya. 

Sekarang mungkin bukan jamannya ngeblog lagi.  Ngeblog mungkin sudah kurang tenar. (mungkin,  CMIIW)  ngeblog sudah digantikan dengan vlog serta tidak kalah ramainya media sosial, seperti instagram, fb, dll.  Mungkin dia sudah terlewatkan masa jayanya. Tapi satu yang pasti, dunia masih perlu orang yang mau berbagi. Itu artinya juga, dunia masih perlu orang yang ngeblog. Termasuk blog sederhana ini dan blogger yang terkadang lalai ini. 

Satu harapan, saya tampaknya perlu mendisiplinkan diri kembali untuk menulis lagi. Mengasah kemampuan, mengekspresikan pikiran, sekaligus mengeksresikan seluruh kegilaan yang bersarang di otak, hati dan  jiwa. Cieeee… Ya, semoga bisa. Doakan saja. Maaf karena postingan kali ini gak mutu. Makasih sudah mampir baca. 

Lama tak berjumpa dalam aksara. Mungkin ada yang berpikir bahwa saya sudah kehilangan minat untuk ngeblog lagi. Ah, jangan vonis blogger malang ini dengan sesadis itu. Tangan masih gatal untuk merangkai kata. Otak masih suka bergentayangan mencari topik tulisan. Hati masih sangat tertarik dengan tulis menulis. Sibuk?  Alasan klasik! Ya, saya memang sibuk. Tapi tidak terlalu sibuk juga sih. Karena sebenarnya masih punya waktu untuk bisa menulis lagi. Tidak ada bahan atau topik?  Penulis hebat tidak pernah habis topik. Satu objek bisa menghasilkan 10 tulisan dengan beragam perspektif. Apa masalahnya??? Diri yang tidak mampu memberi secuil waktu untuk sekedar buka dashboard blog atau bahkan mulai menulis lagi. 

Beberapa waktu yang lalu, ada sesepuh yang kembali mengingatkan, kenapa jarang menulis lagi? Ayo menulis lagi! Terima kasih banyak atas ajakannya, Pak Budi Santosa.  Saya kira tidak ada yang memperhatikan apa yang saya lakukan. Ternyata salah. Masih ada orang yang tetap memantau dan peduli dengan kegiatan yang telah saya geluti sejak 2010 ini. Benar, seperti masakan. Orang yang menikmati, orang yang menilai rasanya.  Bagian kita adalah memasak dan menghidangkannya. Inilah bagian yang saya suka, memasak dan menghidangkannya. Soal rasa, soal kedua. Rasa suka dan puas di hati itu yang utama. Menulis, berpikir, merangkai kata, berbagi ilmu, bahkan sekedar cuap-cuap tidak jelas pun sudah jadi kebahagiaan. Apalagi jika ada yang menikmati manfaat dari apa yang saya hidangkan dalam blog ini. Semakin lengkap bahagia saya. 

Sekarang mungkin bukan jamannya ngeblog lagi.  Ngeblog mungkin sudah kurang tenar. (mungkin,  CMIIW)  ngeblog sudah digantikan dengan vlog serta tidak kalah ramainya media sosial, seperti instagram, fb, dll.  Mungkin dia sudah terlewatkan masa jayanya. Tapi satu yang pasti, dunia masih perlu orang yang mau berbagi. Itu artinya juga, dunia masih perlu orang yang ngeblog. Termasuk blog sederhana ini dan blogger yang terkadang lalai ini. 

Satu harapan, saya tampaknya perlu mendisiplinkan diri kembali untuk menulis lagi. Mengasah kemampuan, mengekspresikan pikiran, sekaligus mengeksresikan seluruh kegilaan yang bersarang di otak, hati dan  jiwa. Cieeee… Ya, semoga bisa. Doakan saja. Maaf karena postingan kali ini gak mutu. Makasih sudah mampir baca. 

Berhak Berbahagia

Saya percaya bahwa kebahagiaan itu akan hadir dalam hidup ketika tangan selalu terbuka.  Jika tangan saya terus mengenggam, maka ada segalanya akan terpendam.  Namun jika senantiasa terbuka,  niscaya banyak hal luar biasa yang bisa ditemukan untuk menjadi sumber bahagia.  Tangan terbuka artinya bersedia berbagi,  bersedia memberi,  bersedia membantu.  Semakin banyak yang bisa saya bagi,  semakin berbahagia saya.  Semakin sedikit saya berbagi,  semakin kritis kebahagiaan saya.  Orang menerima atau menolak, mengkritisi atau menyetujui,  membuang atau mendengar, ini hanyalah ragam respon atas kebahagiaan saya. Yang perlu saya ingat adalah orang  miskin selalu ada pada kita.  Miskin dalam artian membutuhkan bantuan kita. 

Saya percaya bahwa untuk bahagia, tak perlu selalu dengan hal besar atau luar biasa.  Hal sederhana sekalipun bisa menjadi sumber kebahagiaan yang luar biasa.  Permasalahannya adalah terletak dari bagaimana kita memandang apa yang sedang kita kerjakan saat ini.  Jika kita memandang sebagai beban,  niscaya tak akan ada secuil pun kebahagiaan yang melekat.  Sementara jika kita lihat sebagai suatu amanat,  maka sukacita mengerjakan akan terus menyertai. Tak perlu gengsi mengerjakan hal sepele atau sederhana.  Kerjakan bagianmu dengan sepenuh hati, maka itu akan menjadi sumber kebahagiaan bagimu kelak. 

Saya juga percaya,  bahwa untuk membuat orang lain bahagia, saya tidak harus menjadi orang yang sempurna.  Sebab jika saya berupaya untuk menjadi sempurna,  sesuai dengan apa yang orang kehendaki, maka saya akan menjadi pribadi yang tidak berbahagia.  Bagi saya,  saya tidak perlu sempurna untuk membuat orang lain menyenangi saya.  Saya hanya perlu membuat diri saya merasa bahagia dengan apa adanya diri saya,  sehingga kemudian ini membuat orang lain bisa menerima saya sebagaimana adanya.

Saya sangat percaya bahwa kebahagiaan tidak diukur pada berapa banyak harta yang dimiliki. Sebab jika demikian,  maka saya adalah orang yang paling tidak berbahagia karena ketiadaan harta yang saya miliki.  Namun bagi saya,  kebahagiaan saya adalah penghasilan yang cukup untuk kebutuhan hidup dan penghasilan yang masih bisa disisihkan untuk berbagi kepada sesama, terlebih persembahan kepada Tuhan. 

Saya percaya juga bahwa bahagia itu adalah ketika kita dicintai,  dihargai,  dihormati,  disayangi,  dianggap berharga,  serta dirindukan oleh orang lain.  Namun ini tak akan terjadi,  jika kita tidak memberi diri untuk mencintai,  menghargai,  menghormati,  menyayangi dan merindukan orang-orang yang kita kasihi. Bahagia ada di sini,  ketika kita bukan hanya menjadi penerima,  tetapi juga pemberi.  Bahagia ada di sini,  dimana ada relasi yang indah antara kita dan sesama. 

Saya percaya bahwa sebenarnya tidak ada alasan untuk berkata bahwa saya tidak bahagia. Bahkan dalam pergumulan sekali pun.  Cara pandang dan cara bertindaklah yang bisa menjauhkan saya dari kebahagiaan.  Manusia tak selalu pintar.  Saat kebahagiaan berada satu langkah lurus di depannya,  terkadang ia mau berjalan berlangkah-langkah,  entah serong kiri atau kanan,  hingga akhirnya bukan kebahagiaan,  namun terperosok dalam lubang keterpurukan.  Sekali lagi,  saya percaya bahwa kebahagiaan itu bisa diraih karena memang senantiasa disediakan. 

Akhirnya,  setiap orang berhak untuk bahagia,  dengan caranya masing-masing.  Inilah caraku,  secuil yang bisa dibagikan dari bertumpuk-tumpuk alasan mengapa saya percaya bahwa saya berhak berbahagia. 

Blog di WordPress.com.

Atas ↑