Saya Prihatin Meski Hanya NATO

 

Kemarin,  ketika secara “tidak sengaja” menengok mading SMA Negeri 1 Dusun Tengah. Saya tertarik dengan beberapa tulisan karya adik-adik kelas mengenai WMS dan minat siswa SMANSADUTA untuk mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan sekolah. Meski sederhana,  tulisan-tulisannya  sangat berbobot dan mengena, sayangnya, ”kok, dipajangnya waktu siswa kelas X dan XI sedang diliburkan?” hahaha… secara otomatis yang bacakan hanya kami, kelas XII.:mrgreen:

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini dengan berbagai jenis spesies opini saya, akanlah lebih “sopan” jika saya memberikan sedikit alasan mengenai lahirnya tulisan ini. Saya memang bukan anggota dari tim WMS, saya juga merasa agak tidak berhak untuk ikut campur. Tapi berbekal pikiran dan opini yang hanya bisa keluar lewat tulisan, maka saya beranikan untuk menulis tulisan ini.tentunya setelah minta ijin dari sang penasehat. Semoga tulisan ini dapat membawa pencerahan bagi yang memerlukannya.

N.B : Silahkan tinggalkan komentar jika ada tanggapan. I hope it.

Hasil analisis saya, Setiap tulisan rata-rata memuat makna akan “MINIM” nya minat siswa dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan sekolah, utamanya dalam kegiatan mading.

Yang mesti kita perdebatkan bukanlah penyesalan atau rasa kesebalan akan semuanya ini. Yang mesti segera kita rumuskan adalah bagaimana agar hal ini dapat berubah menuju yang lebih baik. Kita harus berhenti berharap dan menunggu kesadaran tiap siswa. Bayangkan saja, jika 1 siswa memerlukan waktu untuk sadar selama 1 jam, kalikan dengan jumlah seluruh siswa, tentu hal ini akan sangatlah lama.

Jika ingin mereka bergerak, mengapa tidak membuat kegiatan yang mewajibkan tiap kelas mengirimkan wakilnya? Menurut saya ini adalah hal yang efektif, lebih efektif dari pada menunggu siswa yang berminat dan berbakat serta sadar untuk mengikuti kegiatan tersebut. Pihak perencana dan pelaksanalah yang harus lebih dulu bertindak dan memprakarsai terlebih dulu. sedikit yang berminat ikut kegiatan, bukan berarti bahwa mereka tidak memiliki minat sama sekali atau tidak bermental juara. mungkin mereka masih malu, malu untuk menjadi yang pertama dalam mengikuti kegiatan. sekali lagi, kita mesti kembali pada sistem  wajib ikut (seperti yang telah disebutkan diatas).

Menyenggol sedikit mengenai kepengurusan, selama saya sekolah di sini yang saya perhatikan adalah para anggota tim “hanya” terdiri dari anak-anak yang mencolok dalam bidang pelajaran (dominasi dari IPA) serta mengikuti ekstrakurikuler kepanduan. Bagaimana dengan anak-anak yang lain? Bukankah tiap insan didunia diciptakan dengan karunia bakat kemampuan yang berbeda-beda?

Dan hal yang membuat saya tak perlu untuk menebak lagi sekaligus prihatin adalah anggota timnya hanya sepanjang 1 KM dari garis START mendedikasikan dirinya. mungkin lagi semangat-semangatnya dan penuh rasa bangga di dada, tiap hari wajah mading di permak. Selanjutnya, terbengkalai, seadanya, sampai garis FINISH. Akibatnya yang tersisa bukanlah kebanggaan karena telah mendedikasikan diri, namun hanya ada ucapan “sudah, tugasku selesai” atau entahlah “…….

saya hanya bisa menyarankan, tindakan nyatanya bisa adik-adik lakukan sendiri. tentunya dengan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang tepat. mungkin saya masuk NATO, tapi tak apalah😛 saya NATO, anda NTAO

  • carilah kegiatan yang siswa senang mengikutinya. kalau perlu, ya ditanyakan, mereka senangnya apa? kalau memang memungkinkan, ya laksanakan, jika tidak di pending dulu.
  • libatkan juga siswa lainnya dalam kepengurusan mading. maksudnya begini, setiap 2 minggu sekali atau 3 minggu, mading harus diisi dengan karya-karya siswa per kelas. terserah mereka mengkreasikan apa yang ingin mereka tampilkan disana, ya.. tentunya isinya tidak lepas juga dari pengawasan tim mading (seleksi dulu, apakah layak pajang)
  • Pilihlah siswa yang berdedikasi dan berbakat serta benar-benar menguasai bidang yang akan dipegangnya. Jangan hanya memilih siswa berdasarkan latar belakang kepintarannya dan keikutsertaannya dalam bidang ekstrakurikuler kepanduan. Mesti bagi-bagi ekstrakulikulernya dengan mereka yang tidak memiliki kegiatan ekstra. Juga jangan memilih hanya dengan berdasarkan pertanyaan : “siapa mau jadi tim mading? Daftar sama saya, ya…” akanlah lebih baiknya jika sang senior memaparkan panjang lebar apa saja tugas kewajiban mereka, plus susah senangnya jadi anggota tim.
  • pada beberapa acara, misalnya : menyambut 17 agustus, atau apa saja, usahakan agar jangan hanya kegiatan olahraga saja yang diperlombakan. tidak semua siswa bisa berolahraga dan juga untuk olahraga peserta terbataskan? masa main voli, 1 timnya 9 orang?🙂 selipkan kegiatan sastra atau seni, pasti banyak peminatnya. siswa pasti menyenangi hal ini karena terdapat banyak hal yang dapat dilihat dan dapat diikutinya.

jika masalah utama dari pelaksanaan kegiatan seperti ini adalah dana, menurut saya tidak masalah dengan alasan: “sekolah harus memberikan kebebasan kepada anak didiknya untuk berekspresi dan berkreasi mengembangkan bakatnya, mumpung siswa pada senang sama kegiatan yang positif, ya mari disalurkan dong… kalau sudah begitu, baru namanya SEKOLAH” Dan jika kendalanya adalah dalam rapat, ada yang menolak. menurut saya, orang yang menolak itu mesti memikirkan orang-orang lain yang memiliki kemampun dan bakat berbeda, mengapa tidak mau memberikan peluang untuknya? dunia kan milik bersama. Dan terakhir, jika kendalanya adalah tidak ada yang mau melaksanakannya, ya sudah, aku juga jadi bingung dan kehabisan kata-kata untuk melanjutkan tulisan berbasis NATO ini….

SEMANGAT WMS!!!!

SELAMAT BERJUANG, SMA NEGERI 1 DUSUN TENGAH

 

6 thoughts on “Saya Prihatin Meski Hanya NATO

  1. untuk hal ini saya juga sangat sependapat..memang sih kenyataan yg terjadi seperti ini. untuk hal hal seperti kepengurusan begini memang biasanya diserahkan pada siswa yg populer dan punya kedekatan dengan guru. hal ini juga yg biasanya membuat rasa iri pada siswa lainnya yang sama sekali tidak dilirik karena katanya “tidak aktif” atau “tidak punya kedekatan dengan guru” atau akrab dengan siswa populer yang dianggap cerdas dan berbakat. padahal hal ini terjadi bukan karena alasan itu, namun kurangnya perhatian untuk memberikan kesempatan seseorang menggali bakatnya. kan bakat seseorang tidak harus muncul sebagai keaktifan dan tampil di depan kan?

    hal lainnya yang saya prihatinkan adalah dalam pemilihan pengurus osis. yang dipilih pasti siswa yang saat itu hadir dalam rapat osis dan metode pemilihannya pasti “norak” . treak – treak juga tuh pastinya.. si ‘anu’ si’anu’.. lalu bagaimana nasib siswa yang tidak ikut rapat dan tidak populer namun ternyata dia merupakan emas dalam lumpur yang dalam jiwanya penuh loyalitas dan tanggung jawab? ku rasa, cukuplah sudah hal begini terjadi. akupun akan mendukung opinimu.. musti ada gebrakan untuk jadi lebih elite dalam pendidikan ini.

  2. “Saya, Tertarik dengan TULISAN ini. Usulan-usulan yang bagus, Wujud dari kepedulian dan motivator penyemangat. bagi setiap yang membaca dan tentunya saya pribadi sendiri. Untuk menjadikan sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa dan yang mustahil menjadi masuk akal tidaklah mudah perlu Usaha dan Perjuangan, Memang masih Minim terlihat suatu perubahan tetapi sesungguhnya semua tidak hanya jalan ditempat, usaha-usaha serta pembekalan itu tentunya terus berjalan’ meski banyak yang tidak tau..
    Kerjasama, haruslah ada’ ya, meski suatu kegiatan dijalankan hanya dengan satu,dua orang saja Okelah, dapat berjalan. Tetapi jika satu,dua orang pelopor tersebut tidak didukung dan dimanfaatkan oleh siswa apalah jadinya, “WMS AKAN TERUS BERGERAK” itulah tugasnya. “The Student must had comunicate with other Students and their Teacher” Karya siswa haruslah juga didukung oleh Guru yang mengajari mereka. “Looks not care” Tidak akan memotivasi siswa malah membuat siswa enggan berkarya dan mengungkapkan Apresiasinya.

    DENGAN KEYAKINAN UNTUK MELAKUKAN PERUBAHAN, TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN, Semangat dan Buktikan.

  3. hahahahha biii jangan dibilang norak tapi katroooo lo pemilihan ketua OSIS-nya kaya gini. saya dapat memprediksikan ketua OSIS tahun depan adalah anak IPS bukan saya meragukan anak IPS tapi ketidak adilan akan saya soroti. anak IPS bukannya tidak bagus dalam memimpin. saya ambil contoh satu yaitu ketua OSIS sekarang Alma dari IPS sangat bagus memimpin. baik saya akan masuk ke permasalahan dalam pemilihan diambil dua org perwakilan tiap kelas. merekalah yang berhak memilih atau menyapaikan suaranya baik skg kita htung jumlahnya IPS ada 7 kelas( 4 kelas XII dan 3 kelas XI) , IPA ada 4 kelas ( 2 kelas XI dan 2 kelas XII) sedangkan kelas X ada 5 kelas. hitung perwakilan IPS 7 * 2 = 14, IPA 4*2=8 dan anak X 5*2=10, masalahnya sekarang anak kelas sepuluh yang mengikuti kebanyak co yang ga mau belajar jadi dia ikut yang mana yang banyak/selain itu tidak mengatahui calon yang dia mau pilih. jadi mutlak menang anak IPS kan…. yah seandai menang anak IPS yang loyal pada SMA DUTA tak maslah saya sangat mendukung soalnya hal itu akan mengakrabkan seluruh sekolah.

  4. Hi there, I found your web site by the use of Google while searching for a similar matter, your site came up, it seems to be good. I’ve bookmarked it in my google bookmarks. dkceacgkkgca

  5. Howdy! Would you mind if I share your weblog with my twitter group? Theres lots of people that I think would truly enjoy your content material. Please let me know. Thanks ddfkdagegddb

  6. I’ve been absent for a while, but now I remember why I used to love this site. Thank you, I’ll try and check back more frequently. How frequently you update your site? bbadbbacdfdbcagg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s