Aliran Kegerejaan : Lutheranisme dan Calvinisme

Keanekaragaman wujud kehadiran manusia dalam mengekspresikan imannya telah ada sejak dulu. Keanekaragaman ini terus berkembang sejalan dengan makin meluasnya Kekristenan dalam sejarah Gereja, hal ini mulai dari kecenderungan sekterian dari beberapa tokoh hingga perpecahan antar kelompok. Perkembangan ini akan terus berlanjut dan akan menuntut respon yang kontinu dari Gereja, Jemaat, dan umat manusia secara umum.

Disini hanya akan dibahas dua aliran kegerejaan dalam sudut pandang titik tolak dan kesamaan serta perbedaannya.

A. ALIRAN KEGEREJAAN : LUTHERAN

Lutheranisme bertitik tolak dari reformasi yang dilancarkan oleh Martin Luther terhadap Gereja Katolik Roma (GKR) pada abad ke 16 (dimulai tahun 1517). Ajaran Luther berpusat pada tiga semboyan reformasi, yakni

  • Sola Gratia (hanya oleh anugerah)
  • Sola Fide (hanya oleh iman)
  • Sola Scriptura (hanya didalam Alkitab).

Ajaran Luther menempatkan gereja dalam posisi ecclesia reformata est semper reformanda (Gereja yang diperbarui dan selalu dalam keadaan diperbarui)

a. Pokok Lutheranisme

Pusat Lutheranisme adalah Firman dan Sakramen. Firman berorientasi pada Alkitab dan Khotbah yang didasarkan pada Alkitab, sementara sakramen adalah Firman yang di peragakan sebagaimana ia ditawarkan dalam Alkitab. Luther menetapkan hanya dua jenis sakramen yang sah (Baptisan dan Perjamuan Kudus) dan menolak lima jenis sakramen lainnya dalam kalangan GKR. Baptisan Kudus di pahami sejajar dan setara dengan sunat yakni sebagai tanda perjanjian

Dengan umatNya yang berlaku juga bagi anak-anak. Baptisan didasarkan pada janji Allah yakni pembenaran manusia yang didasarkan atas kasih karunia Allah dan bahwa anugerah Allah mendahului sikap iman subyektif manusia. Artinya, oleh anugerah Allahlah kita dimasukkan kedalam umat Allah dan menerima kasih karunianya.
Mengenai Perjamuan Kudus, dikenal istilah konsubstansiasi, yang artinya di dalam roti dan anggur terkandung hakekat jasmani (tetap sebagai roti dan anggur) dan hakekat rohani (sebagai tubuh dan darah Kristus secara nyata)

2. Tata cara peribadahan

Lebih mementingkan tentang bagaimana jemaat mengalami dengan nyata tindakan penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus yang disampaikan melalui pemberitaan Firman. Nyanyian dan musik merupakan hal yang penting. Benda perlengkapan diruang ibadah diperbolehkan sejauh tidak merintangi pemberitaan Firman dan pelayanan Sakramen.
Tata cara peribadahan sangat menekankan pada keteraturan dan keheningan.

3. Sistem pemerintahan Gereja

Inti ajaran Luther menganggap bahwa Firman dan Sakramen adalah pusat kehidupan Gereja, maka diperlukan adanya jabatan khusus yang ditahbiskan secara khusus, yakni pemberita Firman dan pelayan Sakramen, dalam hal ini adalah Pendeta. Pendeta menjalankan tugas pengajaran dan penggembalaan di bantu oleh Penatua.
Jabatan yang ada dalam fungsinya untuk melayani, maka jabatan itu akan ada sejauh ia diperlukan untuk menjalankan fungsi pelayanannya pada Jemaat atau Gereja. Pembagian tugas dan penetapan jabatan dipandang perlu, namun pada hakekatnya adalah sederajat, karena semuanya memiliki satu fungsi, yakni pelayanan.

B. ALIRAN KEGEREJAAN : CALVINISME

Bertitik tolak dari reformasi yang dilancarkan John Calvin yang mendukung dan meneruskan reformasi Martin Luther terhadap GKR. 3 semboyan Luther juga menjadi semboyan Calvinisme. Calvin menempakan gereja pada posisi ecclesia reformata est semper reformanda.

1. Beberapa pokok Calvinisme

Inti dasar ajaran berawal dari dua tema utama, yakni kedaulatan dan kemuliaan Allah. Keselamatan sepenuhnya atas dasar sola gratia, sementara disiplin gereja semata-mata untuk menjaga kekudusan hidup orang percaya yang sudah Allah karuniakan berdasarkan iman.
Calvin menetapkan dua sakramen (Baptisan dan Perjamuan kudus). Baptisan Kudus dilayankan, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Baptisan adalah tanda pengampunan dan hidup baru, menandakan bahwa kita telah ikut serta dalam kematian dan kebangkitan Kristus dan kita telah menjadi satu dengan Dia. Baptisan merupakan tanda masuknya (inisiasi) kedalam persekutuan Gereja sebagai Tubuh Kristus. Baptisan di pandang sebagai tanda bahwa seseorang telah memperoleh pengampunan dosa dan keselamatan pada salib Kristus. Perjamuan Kudus adalah meterai yang ditetapkan Allah melalui Yesus bahwa semua orang dipersatukan dengan darah Kristus. Dalam Perjamuan Kudus, Kristus hadir melalui roti dan anggur yang dikukuhkan oleh pemberitaan Firman sekaligus mengukuhkan pemberitaan Firman. Perjamuan Kudus lebih dari sekedar peringatan akan kematian Kristus, namun sekaligus menambahkan sesuatu kepada iman orang percaya.

2. Tata cara peribadahan

Menurut Calvin, ibadah dan tata ibadah adalah satu kesatuan dengan pokok-pokok ajaran yang mendasar dan melalui ibadah ajaran itu disampaikan kepada umat. Apa yang diyakini Gereja mengenai imannya harus bisa diungkapkan kepada jemaat dalam kegiatan ibadah.
Doa dan nyanyian disusun sedemikian rupa untuk menyelingi pokok penting ajaran Calvin, yakni pengakuan dosa dan penyampaian berita pengampunan yang disusul petunjuk hidup baru dan pengakuan tentang kedaulatan Allah

3. Sistem Pemerintahan Gereja

Didalam gereja ada empat jabatan menurut Calvin, yakni Gembala atau Pendeta (pastor), pengajar (doctor), penatua (presbyter) dan diaken (deacon). Pendeta bertugas memberitakan Firman dan melayani Sakramen, selain itu bersama dengan Penatua mengawasi kehidupan jemaat. Pengajar adalah orang yang melakukan kegiatan pengajaran mengenai iman kepada Allah. Para diaken dipercayakan tugas mengurusi orang sakit dan berkemalangan.

 Menyikapi aliran kegerejaan

Aliran kegerejaan sudah ada sejak jaman Jemaat Perdana hingga masa ini. Menyikapi kepelbagaian aliran kegerejaan tersebut, yang perlu diperhatikan :

  •  Keterbukaan yang kritis

terbuka berarti menyadari keragaman itu adalah hal yang wajar dalam upaya memahami Allah dan upaya menyembah Dia. Kritis, berarti kita menilai keberagaman tersebut dengan kesadaran bahwa mungkin terjadi penyimpangan yang bertentangan dengan kesaksian Alkitab.

  •   Fanatisme terhadap diri sendiri

Perlunya memiliki sikap fanatisme terhadap tradisi rohani yang dimiliki. Fanatisme dapat diwujudkan dengan mencintai dan mengembangkan ekspresi keimanan yang hidup.

  • Segala sesuatu bersifat kontekstual

perubahan dan perkembangan pemahaman tentang Allah dan upaya menyembah Dia didasarkan dari kebutuhan nyata manusia. Hal ini menuntut, setiap Gereja untuk bersikap luwes terhadap seluruh bentuk ajaran dan ekspresi imannya, termasuk melakukan berbagai modifikasi menyesuaikan dengan konteks jaman.

5 thoughts on “Aliran Kegerejaan : Lutheranisme dan Calvinisme

  1. Sumber http://stakotim.blogspot.com/2011/11/teologi-perjamuan-kudus-menurut-marthin.html
    Teologi Perjamuan Kudus Menurut Marthin Luther dan John Calvin
    Sekilas di sini saya paparkan secara singkat perbedaan pandangan (teologia) kedua Reformator Protestan Tentang Sakramen Perjamuan Kudus.

    Ajaran Luther tentang Perjamuan Kudus dia sebut Kon-substansiasi (kon = sama-sama-substansi= hakekat/zat): roti dan anggur itu tidak berubah menjadi tubuh dan darah Kristus (trans-substansiasi). Tetapi tubuh dan darah Kristus mendiami roti dan anggur itu sehingga ada 2 zat atau substansi yang sama-sama terkandung dalam roti dan anggur itu. Gereja Lutheran memahami bahwa di dalam Perjamuan Kudus Kristus sungguh-sungguh hadir tanpa merubah substansi roti dan anggur namun Dia hadir ketika Perjamuan Kudus dilakukan. Makna kehadiran Kristus diterima, ketika yang menerima Perjamuan Kudus percaya tentang firman Tuhan yang diberitakan melalui Perjamuan Kudus dan percaya kepada penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus.

    Sedangkan Ajaran Calvinis, Calvin menolak bahwa tubuh Kristus turun dari Sorga untuk memasuki roti dan anggur Perjamuan Kudus, apalagi untuk hadir dimana saja Perjamuan Kudus. Menurut Calvin, tubuh Kristus setelah naik ke Sorga, hadir di sebelah kanan Allah Bapa, sebagai jaminan kebangkitan tubuh manusia pada akhir zaman. Jadi untuk dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus, manusia harus diangkat ke Sorga*. Namun manusia bukan berarti diangkat secara jasmaniah tetapi secara rohaniah karena hatinya diarahkan ke atas (sursum corda). Dengan kata lain ia menolak kehadiran jasmani dalam Perjamuan Kudus. Kristus sungguh-sungguh hadir pada waktu Perjamuan Kudus dirayakan, dengan cara yang cocok bagi Tuhan yang telah dimuliakan yaitu dalam Roh Kudus yang tidak terikat pada roti dan anggur. Dengan demikian Calvin menolak ajaran Gereja Roma Katolik tentang trans-substansiasi dan menolak ajaran Lutheran yaitu mengenai kon-substansias.

    * Teologi Calvin ini sangat jelas dalam Liturgi Perjamuan Kudus ke II GKI di Tanah Papua pada bagian ttg panggilan disana dikatakan “Kita hendak duduk pada meja Tuhan kita. Janganlah kita melihat dan ingat akan roti dan anggur saja, tetapi kita menaikkan hati kita kepada Tuhan Yesus Kristus yang duduk di sebelah kanan Bapa-Nya.

    itu menurut pendapat orang yang sudah membandingkannya, tapi bagi saya semua gereja reformasi protestan sama saja, sama-sama sudah keluar dari gereja Katholik Roma yang punya peraturan yang rumit tentang iman kepada Tuhan Yesus. itulah yang jadi reformasi Protestan. Menurut saya lebih mudah menjelaskan seluruh isi Alkitab & Firman Tuhan yang ingin disampaikan Tuhan Yesus karena saya mengerti tujuannya, juga menjelaskan arti semua perumpamaan yang ada dalam alkitab, seandainya ada yang sulit ada yang bisa ditanya, daripada membandingkan dua aliran gereja Reformasi Lutheran dan Calvin yang saya tidak mengetahui perbedaannya dimana, saya cari di google juga ngak ada. inti dari dua aliran ini kan untuk Kerajaan Allah, haruskah ada perbedaan. Pokoknya jelas iman tidak bisa dibeli kayak gereja sebelah, lalu penebusan itu cuma-cuma, percaya kepada Tuhan Yesus, menurut saya itu intinya, Kalvin juga mengakui dasar-dasar ajaran Lutheran yang di buat, lalu perbedaannya dimana. mungkin tata cara ibadah, lalu ada perbedaan pendapat, menurut Anda sebagai orang Kristen, ketika Tuhan Yesus mendengar ada orang diluar sana yang menyembuhkan orang sakit atas nama-Nya tapi bukan berasal dari murid Tuhan Yesus, Tuhan Yesus berkata jangan dilarang, karena kerajaan Allah bisa tersebar darimana saja. Lalu untuk apa mencari perbedaan ajaran Kalvin dan Lutheran. Menurut saya selama ajaran Kristen itu mengajarkan Kasih, pengampunan dengan cuma-cuma, lalu gereja itu hanya menyembah Tuhan Yesus yang hidup. itulah kebenaran. Terima Kasih.

    • Anda benar. Secara dogmatis, Lutheran dan Calvinist tidak berbeda dengan berbagai denominasi protestan yang ada. Perbedaannya cuma soal tata peribadatan, dan itu tidak ssignifikan. Sederhananya begini (ini cuma ilustrasi). Di gereja B, kolekte diantarkan ke mezbah di depan altar, sedang di gereja L, kolekte dipungut di kursi masing-masing. Keduanya tentu tak ada masalah dan taak perlu disamakan. Perbedaan akan menjadi nyata ketika di gereja H diperkenankan acara lelang, untuk mengumpulkan uang, lewat acara jual-beli barang dan makanan di gereja (pasca kebaktian), atau di gereja P diperkenalkan lucky draw di penghujung acara natal. Nampaknya sepele tapi signifikan! Gereja tidak boleh beralih fungsi menjadi praktisi bisnis dalam bentuk apapun! Jadi, untuk mencapai tujuan yang benar, caranya-pun haruslah benar!
      Nah, itulah misalnya bagaimana kita memaknai perbedaan antar aliran.

    • Shalom Saudara.. mengenai Pengampunan yang cuma-cuma, saya menyarankan anda untuk membaca buku The Sovereignity Of God (Kedaulatan Allah) karya Arthur .W. King.

      God Bless..

  2. Saya setuju bahwa tidak ada yang perlu dipertentangkan dari dua ajaran pokok tokoh reformasi Luther dan Calvin. Substansi dari ajaran Kristen yaitu anugerah Allah bagi org percaya adalah sola gracia, sola fide dan sola scriptura.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s