Nihon no bijutsu – Seni Jepang

Layaknya Negara-negara lain di dunia, Jepang juga kaya akan berbagai macam seni. Meskipun teknologi (globalisasi) semakin update, namun kebudayaan seni tetap mereka lestarikan. Disini akan disebutkan beberapa seni di Jepang dan penjelasan singkatnya.

A. IKEBANA
Ikebana yakni seni merangkai bunga berasal dari tradisi orang Jepang untuk mempersembahkan bunga di kuil Buddha. Tradisi ini sudah dimulai sejak zaman Heian. Seni ini juga berawal dari kekaguman manusia kepada keindahan dan keajaiban tumbuhan.

Ikebana berusaha untuk menciptakan harmoni dalam bentuk linier, ritme, dan warna. Tidak mementingkan keindahan bunga, namun lebih pada aspek pengaturannya berdasarkan harmoni tersebut. Ikebana lebih menekankan pada aspek seni untuk mencapai kesempurnaan dalam merangkai bunga, yakni bagaimana cara merangkai serta melihat bunga dalam pandangan dua dimensi atau tiga dimensi.

GAYA DALAM IKEBANA
• RIKKA, standing flower, banyak digunakan untuk upacara keagamaan. Gaya ini menampilkan keindahan landscape tanaman..
• SHOKA, rangkaian ikebana yang difokuskan pada bentuk asli tanaman, hampir bersifat bebas karena terpengaruh gaya seni merangkai bunga Eropa.
• JIYUKA, rangkain yang bersifat bebas dimana rangkaiannya berdasarkan atas kreativitas serta imajinasi.

PERLENGKAPAN
1. Kawat dengan berbagai ukuran
2. Gunting
3. Floral tape (warna hijau dan cokelat)
4. Selotip
5. Tang bunga
6. Kenzan, alas berduri tajam tempat menusukkan bunga
7. Pipet
8. Batu-batuan kecil

Seni ini berbeda dengan penggunaan bunga yang murni bersifat dekoratif saja, karena setiap unsur dari sebuah karya ikebana dipilih secara sangat cermat termasuk bahan tanaman, wadah di mana ranting dan bunga akan ditempatkan, serta keterkaitan ranting-ranting dengan wadahnya dan ruang di sekitarnya.

B. ORIGAMI
Origami adalah sebuah seni lipat yang berasal dari Jepang. Bahan yang digunakan adalah kertas atau kain yang biasanya berbentuk persegi. Sebuah hasil origami merupakan suatu hasil kerja tangan yang sangat teliti dan halus pada pandangan.Origami merupakan satu kesenian melipat kertas yang dipercayai bermula sejak kertas diperkenalkan pada abad pertama di zaman Tiongkok kuno pada tahun 105 Masehi oleh Ts’ai Lun.
Pembuatan kertas dari potongan kecil tumbuhan dan kain berkualitas rendah meningkatkan produksi kertas. Contoh-contoh awal origami yang berasal dari Tiongkok adalah tongkang (jung) dan kotak.Origami pun menjadi populer di kalangan orang Jepang sampai sekarang.
Kata origami berasal dari bahasa Jepang, yakni gabungan dari kata oru bermakna melipat dan kami berarti kertas. Ketika kedua kata itu bergabung, ada perubahan sedikit namun tidak merubah artinya yakni dari kata kami menjadi gami.
Sehingga yang terjadi bukan orikami tetapi origami, maksudnya melipat kertas. Saat ini, kata origami telah dikenal dan digunakan di seluruh penjuru dunia untuk menyebut seni melipat kertas.
Kertas yang digunakan untuk origami berwarna-warni. Warna umumnya hanya ada pada satu sisi sementara sisi lainnya putih polos. Namun pada perkembangannya menjadi bermacam-macam, seperti berwarna pada kedua sisi, atau bercorak/berpola sehingga semakin menarik. Di Jepang, akan sangat banyak menemukan bermacam-macam desain kertas untuk origami dengan bahan, corak, pola, tekstur, warna dan lain sebagainya.
MACAM-MACAM KERTAS YANG DIGUNAKAN
• Kertas Chiyogami
• Kertas Washi

C. SENI TEATER

Seni teater di Jepang ada banyak sekali, yakni antara lain:

a) KABUKI

kabuki adalah sebuah bentuk teater klasik yang mengalami evolusi pada awal abad ke-17. Ciri khasnya berupa irama kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh para aktor, kostum yang super-mewah, make-up yang mencolok (kumadori), serta penggunaan peralatan mekanis untuk mencapai efek-efek khusus di panggung. Make-up menonjolkan sifat dan suasana hati tokoh yang dibawakan aktor. Kebanyakan lakon mengambil tema masa abad pertengahan atau zaman Edo, dan semua aktor, sekalipun yang memainkan peranan sebagai wanita, adalah pria.

b) NOH
Noh adalah bentuk teater musikal yang tertua di Jepang. Penceritaan tidak hanya dilakukan dengan dialog tapi juga dengan utai (nyanyian), hayashi (iringan musik), dan tari-tarian. Ciri khas lainnya adalah sang aktor utama yang berpakaian kostum sutera bersulam warna-warni, dan mengenakan topeng kayu berlapis lacquer. Topeng-topeng itu menggambarkan tokoh-tokoh seperti orang yang sudah tua, wanita muda atau tua, dewa, hantu, dan anak laki-laki.

Noh adalah teater musikal dengan menggunakan topeng yang disebut omote dalam istilah noh. Dalam noh, abstraksi dan simbolisme diekspresikan secara kuat melalui unsur gerak tari, dengan sebagian besar cerita yang bertemakan tragedi. Sebaliknya, sebagian besar peran dalam kyōgen tidak diperankan memakai topeng. Kyōgen mengembangkan lebih lanjut unsur-unsur komedi dan seni meniru gerak-gerik (pantomim) yang ada pada Sarugaku, termasuk naskah dialog dan penggambaran karakter secara realistik. Sebagian besar cerita yang dipentaskan dalam kyōgen adalah cerita satir, cerita yang menertawakan kegagalan, dan cerita humor.

c) KYOGEN
Kyogen adalah sebuah bentuk teater klasik lelucon yang dipagelarkan dengan aksi dan dialog yang amat bergaya. Ditampilkan di sela-sela pagelaran noh, meski sekarang terkadang ditampilkan secara tunggal, Dalam konteks sehari-hari, istilah “kyōgen” dalam bahasa Jepang bisa berarti tindakan untuk menipu orang lain (orang yang pura-pura dirampok disebut kyōgen-gōtō), berbohong atau bercanda, atau tarian yang memancing tawa.
NAMA PERAN :
• Peran utama : shite
• Peran pembantu: ado
• Peran pembantu yang naik berkelompok : Tachishū
• Pimpinan kelompok peran pembantu : Tachigashira.

d) BUNRAKU
Bunraku, yang menjadi populer sekitar akhir abad ke-16, merupakan jenis teater boneka yang dimainkan dengan iringan nyanyian bercerita dan musik yang dimainkan dengan shamisen (alat musik petik berdawai tiga). Bunraku dikenal sebagai salah satu bentuk teater boneka yang paling halus di dunia. Kesenian ini bermula dari pementasan ningyo johruri oleh seniman Uemura Bunrakuken I di Osaka sehingga diberi nama “bunraku”. Sebelumnya, kesenian ini juga disebut ayatsuri jōruri shibai (sandiwara johruri ayatsuri), dan baru secara resmi dinamakan bunraku sejak akhir zaman Meiji (1868-1912)
Sebuah boneka dimainkan oleh tiga orang dalang yang disebut ningyō tsukai. Sewaktu memainkan boneka, dalang tidak menyembunyikan diri dari pandangan penonton. Gerak-gerik boneka dibuat bagaikan hidup, dengan kedua tangan dan kaki yang bisa digerak-gerakkan, serta wajah boneka yang bisa berubah ekspresi sesuai karakter yang dimainkan. Boneka memiliki mekanisme penggerak pada wajah (mata dan mulut), dan sendi-sendi kedua belah lengan, kaki, dan jari-jari tangan yang bisa digerak-gerakkan. Dalang hanya bertugas menggerakkan boneka, sedangkan semua dialog yang diucapkan boneka menjadi tugas ‘tayū’ dengan iringan musik
Tingkatan dalang diatur hirarki yang ketat, berdasarkan tingkat keterampilan dan pengetahuan. mekanisme penggerak pada wajah (mata dan mulut), dan sendi-sendi kedua belah lengan, kaki, dan jari-jari tangan yang bisa digerak-gerakkan. Dalang hanya bertugas menggerakkan boneka, sedangkan semua dialog yang diucapkan boneka menjadi tugas ‘tayū’ dengan iringan musik shamisen. Dalang paling berpengalaman menggerakkan bagian kepala dan lengan kanan. Dalang dengan pengalaman di bawahnya bertugas menggerakkan lengan kiri, sedangkan bagian kaki digerakkan dalang yang paling yunior. Dalang kepala mengenakan geta berhak tinggi (20 cm hingga 50 cm) dari kayu untuk mengimbangi posisi dalang ketiga yang menggerakkan bagian kaki boneka.

UNSUR PERTUNJUKAN
• Tayu (penyanyi)
• Pemain shimasen
• Ningyo tsukai (dalang)

BONEKA
Boneka yang digunakan dalam bunraku memiliki berbagai macam kepala (kashira). Kepala boneka laki-laki dan perempuan dalam berbagai bentuk dan ekspresi wajah digunakan untuk menampilkan beraneka ragam karakter, pekerjaan, status sosial, dan umur.
a. Kepala boneka (kashira) laki-laki
• Bunshichi: kepala boneka dengan ekspresi maskulin laki-laki tampan tapi sudah lama menderita, digunakan untuk tokoh utama cerita tragedi
• Kenbishi: kepala boneka dengan garis mulut yang tegas menandakan kemauan keras, digunakan untuk samurai, orang kota, dan sebagainya
• Ōdanshichi: kepala boneka dengan ekspresi lelaki pemberani
• Darasuke: kepala boneka dengan ekspresi mengejek untuk peran orang jahat
• Yokanpei: kepala boneka dengan wajah buruk untuk peran orang jahat yang komikal
• Matahei: kepala boneka dengan ekspresi rakyat biasa, orang kecil, atau penduduk kota yang jujur
• Kiichi: kepala boneka untuk peran samurai tua dengan hati yang penuh cinta
• Genda: kepala boneka untuk peran laki-laki tampan berumur 20 tahunan
• Wakaotoko: kepala boneka laki-laki remaja untuk kisah cinta
• Kōmei: kepala boneka untuk samurai berusia empat puluhan hingga lima puluhan, secara jelas terlihat berkepribadian halus dan bijaksana
• Kintoki: kepala boneka untuk samurai yang kuat dan berperasaan dalam cerita jidaimono.
b. Kepala boneka perempuan
• Musume: kepala boneka perempuan belum kawin berusia 14 atau 15 tahun dengan ekspresi murni tanpa dosa
• Fukeoyama: kepala boneka yang digunakan untuk berbagai peran wanita berusia dua puluh tahunan hingga empat puluh tahunan.
• Keisei: kepala boneka paling cantik untuk peran wanita penghibur kelas tinggi yang sensual
• Ofuku: kepala boneka untuk peran wanita berwajah lucu atau komikal.

cat.: diambil dari berbagai sumber

3 thoughts on “Nihon no bijutsu – Seni Jepang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s