cerpen : ENAM MENIT TIGA PULUH ENAM DETIK

ENAM MENIT TIGA PULUH ENAM DETIK

OLEH : LIA AFRILIANI

Kulirik jam tanganku, sial, hampir pukul setengah tujuh. Kuhitung jumlah menitnya, ternyata masih ada sembilan menit lima puluh satu detik. Ah, masih sempat, batinku. Segera kugas sepeda motorku dan terus melaju jalan tujuh puluh lima Km/jam.

“Hei, hati-hati. Pelan saja!” Sayup-sayup terdengar suara.

 “Ayo, lebih cepat lebih baik!” Terdengar suara lain.

 “Ingat, kata pepatah, biar lambat asal selamat!” Terdengar kembali suara pertama.

“Oh, tidak bisa. Coba pikir, bagaimana jika kau telat? Sungguh memalukan!”

Itu suara hatiku, namun motor pabrikan Cina keluaran tahun dua ribu delapan ini seakan tak peduli dengan pertengkaran suara hati majikannya. Terus melaju dan melaju, menyelip motor lainnya dengan lincah. Tak terhitung lagi, berapa banyak motor yang sudah kuselip, lagipula peduli amat!

 “Hei, sadarlah. Perhatikan keselamatanmu, jangan sembarangan menyelip!”

“Ah, kau ini. Waktu tidak mungkin menunggu. Ayo kejar waktumu, karena time is money!”

“Apa gunanya kau terburu-buru mengejar waktu? Apakah jika terjadi sesuatu padamu, waktu dapat memperbaikinya?”

Aku menghela napas panjang. Mencoba berpikir jernih, namun

“Lihat, adakah di sepanjang jalan ini kau lihat anak-anak berseragam putih abu-abu? Tidak ada kan. Nah, apa lagi yang harus kau lakukan selain lebih cepat lagi?”

“Kata siapa tidak ada. Mereka masih banyak kok yang masih dirumah, yakinlah akan hal itu! Kita pelan-pelan saja, ya!” Bujuk suara pertama tadi.

 “Dengar, kau mau telat ya? Sekali lagi, hal itu memalukan saja. Anak IPAkan anak teladan, anak IPA jangan telat. Paham?” Suara ini berupaya menghasutku, “Ayo, lebih cepat lagi. Lihat jam tanganmu, bukankah hanya ada tujuh menit tiga puluh tiga detik saja yang tersisa?”

“Anak IPA memang anak teladan. Anak IPA seharusnya berupaya supaya jangan telat. Salahmu sendirikan, tadi malam malah nonton pertunjukan tari daerah!”

Ya, memang benar, kuakui ini salahku. Namun kurasa bukan masalah besar karena sesekali menonton pertunjukan seperti itukan tidak salah. Hm, sarana menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah.

Kulirik jam tanganku, masih ada lima menit tiga puluh tiga detik lagi sebelum pukul setengah tujuh. Dengan membabi buta kugas sepeda motorku, lebih cepat, cepat, dan lebih cepat lagi, seraya mengucapkan beribu doa di hati.

“Bodoh! Santai saja!” seru suara hatiku.

 “Ayo, bagus. Lebih cepat lagi!” rayu suara hatiku yang lain, “Ingat, jam pelajaran pertama, gurunya killer banget, kan! Ayo,cepat. Gas lagi!”

“Meskipun gurunya killer. Tapi kalau kau bicara alasan keterlambatanmu dengan alasan yang masuk akal, kukira Beliau akan mengerti, kok!”

“Oh, Beliau tidak mungkin mau mengerti! Ingat, bagaimana pengalaman teman-temanmu yang lain ketika berurusan dengan guru tersebut!”

“Kau masih muda, jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk mengejar tiga menit lima belas detik ini. Lagipula… Awas!!!”

Hampir serasa melompat jantung dari rongga dadaku karena terkejut. Bus karyawan yang memang sering berhenti mendadak, hampir saja tertabrak olehku. Ah, tidak apa-apa, motorku habis dicuci juga. Lho, apa hubungannya?

Segera kuinjak rem dan buru-buru mencoba menghindar. Pikiranku kacau saat melihat di kejauhan, pintu gerbang sekolah ditutup. Perasaanku galau saat mendengar suara nyanyian yang berasal dari sebuah gereja di dekat sekolahku. Akhirnya, kusadari suatu hal, namun terlambat dunia tiba-tiba menjadi gelap. Entah aku telah meninggalkan dunia ini ataukah hanya pingsan, yang jelas tak kudengar lagi suara-suara hati.

One thought on “cerpen : ENAM MENIT TIGA PULUH ENAM DETIK

  1. Ping-balik: Cerpen : The Legend of Idaman in Smansa Duta | Lia Af anak AMPAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s