Sekedar Beropini

Lewat postingan sederhana ini, saya hanya sekedar ingin berpikir kritis dan mengkritisi apa yang bisa saya kritisi. Hehehehe, yah, sekalian menghiasi blog tercinta ini.

Puji-pujian sebagai salah satu unsur pendukung dalam ibadah. Melewati puji-pujian, kita memuji Allah, bahkan kadang lagu bisa menjadi sarana kesaksian efektif tanpa harus melewati khotbah.

Selama resmi menjadi mahasiswi STT GKE, saya mengenal berbagai macam lagu-lagu baru, diluar kidung jemaat, yang sejujurnya masih asing di telinga saya. Saya kadang merasa tidak nyaman ketika harus bernyanyi menggunakan lagu-lagu di luar dari kidung jemaat. Yah, maklumlah, selain memang saya tidak bisa bernyanyi,😆 , saya juga baru kali ini mendengar lagu-lagu yang menurut saya baru (maklum, selama di Ampah gak pernah aktif dalam kegiatan SPP/R😆 ). Yah, mungkin anda tahu saja lagu-lagu yang seperti apa yang saya maksudkan, seperti misalnya satu hal yang kurindu, setia, bagai rajawali, Bapa yang kekal, dan lagu lainnya (pokoknya, lagu di luar Kidung Jemaat atau dengan kata lain lagu-lagu kontemporer).

Mungkin tidak salah, dan sebenarnya sangat tidak layak untuk di persalahkan. Bukankah semakin banyak lagu-lagu yang baru, berarti tingkat kreativitas para pemusik Kristen sedang berada di tingkat yang bisa di bilang sangat berkualitas. Dan kita pun wajib untuk mendukung kekreativitasan mereka, agar mereka semakin mampu untuk menciptakan lagu-lagu baru untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan.

Ada hal yang salah menurut saya. Kita terlalu mengagumi lagu-lagu mereka sehingga dalam liturgi (maaf: liturgi ibadah kampus/asrama) pun lagu-lagu tersebut yang kita gunakan. Jika kita senantiasa belajar lagu-lagu tersebut kapan kita belajar lagu-lagu yang di gunakan oleh jemaat? Setahu saya, sebagian besar jemaat masih menggunakan lagu-lagu dari KJ ditambah dengan dari PKJ.

Menggunakan lagu yang demikian tidak salah, asalkan bukan untuk gaya-gayaan namun benar-benar dengan hati yang tulus untuk memuji Tuhan, hati yang rindu untuk memuji dan mengagungkan nama Tuhan.

Namun, ada pertanyaan yang harus di sadari oleh kita, “Bisakah nanti kita membawa lagu-lagu tersebut kedalam jemaat?” Kalau masih di dalam ruang lingkup ibadah pemuda remaja, mungkin bisa, bahkan mereka sepertinya lebih menyukai lagu-lagu di luar KJ. Namun, bagaimana jika kita membawa lagu-lagu tersebut kepada anggota jemaat yang bukan remaja, sebut saja orang dewasa bahkan yang sudah tua?

Saran saya, mungkin kita harus berbenah dirilah sedikit. Mulai sekarang, kita belajar untuk mengurangi dosis lagu-lagu tersebut, mari kita lebih menggunakan lagu yang secara realitas masih di gunakan oleh jemaat. Dalam 478 lagu yang ada di KJ, belum tentu setengahnya kita bisa. Kalaupun bisa, mungkin saja salah nada. Bikin malu almamater ketika kita turun ke jemaat, tapi tak bisa membimbing jemaat nyanyi lagu KJ. Gimana bisa khusyuk dan khidmat saat ibadah ketika sang pelayan tidak bisa membimbing jemaat bernyanyi, untung jika ada song leader, jika tidak?

Apakah kita mau menghapuskan lagu-lagu KJ dari kehidupan jemaat? Sangat ironis, jika di suatu saat GKE bernyanyi tanpa Kidung Jemaat…..

Sekali lagi, ini hanya opini pribadi dari saya, mohon di maklumi dan semoga berkenan….:mrgreen:

One thought on “Sekedar Beropini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s