Cerpen : Sure, I Can’t Belive It

Seandainya bisa,  ingin sekali Elis  kembali ke hari itu, untuk menghindari musibah ini. Tapi sayangnya tidak bisa, karena Elis sadar, ia bukan Tuhan, juga ia tidak berhak untuk meminta kepada Tuhan untuk kembali ke hari naas itu di hari dan tanggal yang tak akan Elis lupakan.

***

Selasa, 21 Agustus. Betapa bahagianya Elis, bisa berkumpul kembali dengan keluarganya di kampung halamannya, Amsterdam (Ampah sedikit muter kedalam). Meskipun hanya 3 hari, Elis merasa senang dan berusaha untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Karena jika tidak, Elis harus menunggu dan menahan kerinduannya selama empat bulan. Wuawww…..

Tapi, hari ini ia harus kembali lagi ke kota tempatnya berkuliah. Karena lusa, kampusnya sudah aktif dalam kegiatan perkuliahan.

“Lis, bangun!” sebuah suara yang familiar membangunkannya. “Balik ke Banjar atau tetap di sini?”

Elis hanya tersenyum dan melihat ibunya. Sambil mengucek-ngucek mata, ia menyahut sekenanya, “Maunya sih disini saja, bu. Gak usah balik! Tapi takut dosenku pada ngamuk, ya udah, aku balik aja kesana”

“Sesukamulah” Sahut ibunya sambil mencubit lengan Elis, “Sudah sana, mandi dulu. Tante dan ommu sudah menunggu!”

Elis melihat jam di ponselnya. Oh My God!!!! Ternyata baru jam 1.30

“Ouh nou…. muasa aku mandi jam segini? Hellllo….apa kata dunia? Gak ah, mending cuci muka aja!” teriaknya.

Setelah makan nasi putih opor ayam dan minum a glass of coffe yang katanya untuk menghindari ngantuk, di tambah dengan panjang lebar sedikit banyak pembicaraan yang di tutup dengan doa bersama, kini saatnya, Elis harus pergi meninggalkan kampung halaman tercintanya. Sedih memang, namun itulah kenyataannya.

Seraya berbasa basi sedikit yang di penuhi dengan keharuan, Elis memasang jaketnya, kaos kaki, kaos tangan, masker dan tidak ketinggalan sepatu juga helm. Sebelumnya wajib periksa kelengkapan motor, lumayan, SIM ada, STNK punya, KTP apalagi. Dalam waktu singkat Elis sudah berada di atas motor dengan dandanan seperti seorang racer. Sepupunya, Aryo sampai bingung melihat Elis. Apalagi ketika Aryo melihat tulisan di jaket kakak sepupunya ini, “The Extreme Rider”. Wauw…cewek apa cowok, sih?

Waktu itu, pukul setengah empat pagi waktu Indonesia bagian barat. Elis, Aryo, om dan tantenya memulai perjalanan panjang meninggalkan Amsterdam menuju Banjarmasin. Sebuah motor Mio dan sebuah motor Shogun, beradu cepat, beradu tancap, menyusuri jalan sepi di pedalaman Kalimantan itu. Hari masih gelap, sangat memungkinkan untuk dua motor ini memacu kelajuan mencapai dan kadang melebihi 80 Km/Jam.

Waktu masih menunjukkan pukul 06.30 WIB, tapi kenyataannya ialah, mereka telah sampai di kota Kandangan. Betapa luarbiasa cepatnya. Padahal waktu mereka dari Banjarmasin menuju Amsterdam, perjalanan terasa sangat lambat, mungkin karena mereka melakukan perjalanan di malam hari, jadi jalannya pun paling maksimal 50 Km/Jam.

***

            Pukul delapan, mereka mampir di sebuah warung di desa Sungkai untuk minum seraya mendinginkan mesin motor untuk yang ke sekian kalinya.

“Luar biasa! Gak terasa sekali, ya. Kalau cepatnya seperti tadi, satu jam saja kita sudah sampai rumah” Kata Om Elis.

“Hebat!” Sahut Tante Elis.

“Luar biasa…..”

“Tapi jalan ini udah mulai padat. Semoga saja demikian”

“Ya, orang-orang juga pada pulang dari kampung mereka.”

“Semoga saja, satu jam saja kita sudah sampai rumah.”

“Setelah ini, apa lagi?” Tanya Aryo

“Kalau tidak salah Amuntai” Sahut Elis

            “Gak ada ah!” Sahut Aryo cepat. Semuanya tertawa. Setelah 30 menit berlalu, mereka melanjutkan perjalanan.

Kondisi jalan di Sungkai yang masih dalam tahap perbaikan dan berdebu, lumayan sulit di tempuh. Apalagi saat itu, hari sudah semakin siang dan jalanan mulai padat.

Di depan ada sebuah mobil, melihat om dan tantenya menyelip mobil itu, Elis juga menyelipnya. Demikian berulang kali terjadi, tidak terhitung berapa banyak motor, mobil, truk, bahkan bus yang mereka selip. Padahal jika melihat kondisi jalan yang rusak dan padat, Hal ini amatlah beresiko.

Sekarang Elis bersiap-siap untuk menyelip sebuah mobil di hadapannya. Sudah setengah dari mobil itu ia selip, naasnya dari arah berlawanan datang sebuah motor pemulung yang menggandeng gerobak di belakangnya. Sialnya, pemulung itu menghindari sebuah lobang di jalan tersebut dan mengarahkan motornya ketengah.

Prakkk…. Tak ada ruang bagi Elis untuk menghindari gerobak itu. Motor yang di kendarainya oleng, ia lepas kendali. Tak ada cara lain, kecuali mengarahkan sepedanya kesembarang tempat yang penting di pinggir jalan. Dengan segenap kesadaran yang ada seraya menyebut nama Tuhan, Elis mengarahkan motornya kearah kanan, dan menabrak gundukan tanah.

Tragis!

Dunia terasa gelap bagi Elis. Segala kekuatiran dan kegelisahan menghantuinya. Ketakutan menghampirinya. Ia terbaring di pinggir jalan itu. Banyak orang menghampirinya. Tampak wajah tante dan omnya sangat cemas. Elis mencoba untuk bangkit berdiri, namun kakinya terlalu lemah untuk berdiri, sehingga ia terduduk lagi. Di rasakannya tangannya terasa sangat perih. Di lihatnya, Aryo terisak menangis sambil memegangi kakinya. Di lihatnya kakinya sendiri, astaga!!!

Gila! Ini pasti tidak nyata, ini mimpi! Bagaimana mungkin, sepatu olahraga yangsangat ia sayangi robek tercabik atasnya, hampir menjadi dua bagian. Kaos kaki di dalamnya juga ikut robek dantampak darah di kaki kanannya itu.

Dunia menjadi sangat gelap bagi Elis, gelap! Segelap pikirannya akan  hari esok dan masa depan. Memang gelap namun tak sampai membuatnya tak sadarkan diri.

Sisa hari itu di habiskannya dengan penuh perjuangan. Setelah proses yang mengerikan di puskesmas dan proses yang berbelit di kantor polisi, mereka melanjutkan perjalanan yang tertunda hampir 3 jam.

***

             Kini, sudah hampir 1 bulan, Elis bertarung menghadapi kenyataan. Hatinya memberontak, akal sehatnya tak mampu untuk menerima semua ini. Ia ketinggalan pelajaran selama 1 minggu lebih. Ketika ia sudah bisa turun kuliah, ia tidak percaya diri dan minder, ia tidak merasa nyaman ketika puluhan pasang mata memandanginya dan kakinya yang di perban. Ia bosan menjawab lusinan pertanyaan dalam sehari tentang mengapa kakinya di perban dan mengapa jalannya timpang? Oh, dunia serasa tidak damai lagi….

Kadang ia mengeluh dalam hati,

“Sejujurnya, aku hampir tak sanggup lagi. Sakit ini, derita ini, rasa kuatir, rasa takut membelenggu. Terlebih jika aku memikirkan esok, lusa, dan masa depan. Tak pernah ku bayangkan, perjalanan pulang kampung itu membawa musibah kala ku kembali ke sini. Dulu, memikirkan salah satu bagian tubuh di jahit saja sudah membuatku merasa ngeri, namun kini, ternyata aku harus mengalaminya.

Ah, kenapa ?Belum apa-apa, aku sudah mendapatkan halangan. Belum kuat kokoh pondasi yang ku bangun, aku sudah di rapuhkan. Belum jauh aku berlayar, namun aku sudah karam, kandas tak jauh dari pantai. Kenapa?

Di saat begini, aku percaya Tuhan itu ada. Aku percaya Ia berkuasa!! Namun kenapa, hingga saat ini, aku tak merasakan jika Ia menolongku, menguatkanku, memberiku kesembuhan? Satu-satunya yang masih ku miliki dan ku sadari tentang bagaimana Ia ada, Ia menolongku, menjagaku, hanyalah nafas kehidupan. Yang sampai saat ini masih boleh aku miliki, aku nikmati. Dengan nafas ini, aku masih hidup. Dapat melihat sakitku, dapat merasakan deritaku, dapat menggunakan segenap indra untuk fokus, dapat menggerakkan kaki secara perlahan.

Tangis ini telah kutahan, aku tak akan menangis. Aku takkan menyalahkan keadaan, aku takkan menyalahkan orang-orang, aku takkan menyalahkan diri sendiri, aku takkan menyalahkan kesialan, dan aku takkan menyalahkan Tuhan! Aku percaya ada rencana, aku percaya ada tujuan, aku percaya ada hal-hal yang tersembunyi di balik ini semua.

Namun ketika ku teringat akan hari esok. Aku menjadi lemah, aku rapuh, aku goyah, dan aku menangis. Mengamuk, memberontak, dan mengasihani diri sendiri. Aku memang ingin tabah, ingin kuat, ingin sabar…. tapi aku tetap manusia biasa, yang bisa jadi lemah, bisa jadi takut, dan bisa jadi menyerah. SURE, I CAN’T BELIVE IT…..”

Semoga ia tabah menghadapi pencobaan ini hingga di suatu saat nanti, ia bisa berlari tanpa pedulikan luka di kaki dan di hatinya.

“Berjuanglah, kawan! Badai pasti berlalu, akan datang waktunya dimana dikau kan berjaya!”

3 thoughts on “Cerpen : Sure, I Can’t Belive It

  1. Hm…. Gimana my short story kali ini? Ini ku tulis dengan menggunakan pola FTS alias Flash True Story yang berbasiskan dari pengalaman pribadi. Jarang lo, aku bisa nulis cerita semacam FTS, biasanya sih khayalan semata. Artinya, cerpen ini adalah “SESUATU”……😆 hehehe…. Salam Kompak dan Persahabatan selalu buat semua!

  2. Ping-balik: Cerpen : The Legend of Idaman in Smansa Duta | Lia Af anak AMPAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s