Membuat Perspektif yang Benar Mengenai Beban

Lumayan lama gak update posting, serasa jadi blogger murtad deh. Ada gak ya, penghuni dumay yang kangen sama aku? Wkwkwk #siap-siap kresek, bro. Hehehe…. harap dimaklumi, masih nebeng wifinya kampus yang rada-rada galau, seringkali gagal update postingan, tapi kalau buka fesbuk, lancarnya minta ampun. Hiks…. gak ngerti juga….

Ok, daripada berlama-lama gak jelasnya, mending kita masuk saja kedalam postingan yang kali ini menggunakan bahasa yang santai saja. Ngalor ngidul gak jelas, tapi gak papalah yang penting mengena kedalam pikiran and hati Anda sekalian…😆. Tulisan ini bukan maksud untuk mendikte Anda, namun sekedar untuk menyadarkan yang belum sadar…. gkgkgkgk

***

Gimana sih Anda memandang beban itu?

Beban yang saya maksudkan di sini ialah banyaknya persoalan permasalahan dan lainnya yang harus kita tanggung sepanjang kehidupan ini. Pekerjaan yang bertumpuk, tugas-tugas kuliah atau sekolah yang banyak, persoalan rumah tangga, keadaan ekonomi kita, hubungan relasi kita dengan sanak saudara dan teman juga tetangga, permasalahan di tempat kerja kita, dan lain sebagainya, itu semua bisa menjadi beban. Bahkan juga ketika seseorang di tuntut untuk harus berhasil dan tidak mengecewakan orang-orang yang mendukungnya itu juga beban. Jadi, beban itu bukanlah hal yang asing bagi kita.

Bagaimana perspektif kita terhadap beban itu sendiri? Apakah kita memandangnya sebagai sesuatu yang menyakitkan? Membosankan? Merepotkan? Memuakkan? Mungkin ya, mungkin tidak, tergantung seseorang memandangnya, tidak bisa dipungkiri mungkin saja ada orang yang memandang beban dengan hati yang gembira dan ikhlas menerima, karena baginya beban itu adalah sesuatu yang dapat membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik dan dewasa.

Yeah, untuk memahami beban ini, ada baiknya kita melihat anggota tubuh kita. Coba bayangkan, kalau salah satu anggota tubuh anda, anda pakai terus tanpa henti, tanpa istirahat. Juga bayangkan kalau anggota tubuh itu tidak digunakan, dibiarkan saja rileks dalam waktu yang cukup lama. Misalkan saja kaki, kalau di pakai terus, pasti saja kita merasa sakit, kram, dan lainnya, namun ketika kita tidak mempergunakannya dalam waktu yang lama, bisa-bisa kita lumpuh dan tidak bisa berjalan. Gimana? Udah pada setujukan?

Jadi dapat disimpulkan, bahwa manusia itu perlu dibebaskan dari beban tetapi ia juga membutuhkan beban itu sendiri. Lho, apa artinya? Artinya gini, seberat apapun beban permasalahn dalam kehidupan kita, sekronis apa tingkat stress yang kita alami, kita perlu istirahat, kita perlu refreshing, kita perlu santai. Jelas? Karena dengan itu, kita dapat merasakan suasana baru, bahkan dengan rileks tidak menutup kemungkinan jalan pikiran kita akan terbuka. Beneran lho… seperti saya, beberapa waktu yang lalu, kepala saya serasa mau pecah, mata rasanya udah mau keluar dari tempatnya, gara-gara tugas yang menumpuk. Bayangin, yang bikin aku semakin stress adalah bahan-bahan untuk topik tugas-tugas tersebut gak ada yang berbahasa Indonesia, oh my God, Cuma adanya di buku yang berbahasa Inggris. Udah itu, disusul lagi sama hasil midtest yang dengan kejamnya memvonis tanpa ampun dengan dua kata TIDAK LULUS. Ouh, no….

Singkat cerita, saya pun merasa jika saya perlu refreshing juga, perlu mendinginkan otak…. Untungnya, gak lama setelah itu (mungkin lebih tepatnya, sebelum saya mati karena stess tingkat dewa) kampus ngadain acara reatret ke Tambang Ulang, Bati-Bati. (#suasananya membuatku merindukan Amsterdam). Oiii… Dampaknya pun luarbiasa, setelah balik ke Banjarmasin, otak rasanya encer banget, inspirasi ngalir dengan lancar, gak kerasa tugas dan beban-beban lain sebagai hal yang berat lagi, namun lebih pada “Oh, betapa mudahnya ini”.

Eh, malah cerita…. sampai mana kita tadi? OK, jadi Anda setujukan bahwa kita perlu dibebaskan dari beban.

Selanjutnya, kita juga membutuhkan beban. Lho, kok butuh beban, tadi gak mau stress, ini malah nyari-nyari stress, benar-benar stress ini orang. Gini ya maksudnya, kita gak bisa lepas dari beban. Ibarat rokok tanpa asap, gitu juga dengan this life, gak lengkap tanpa beban. Karena beban bisa bikin hidup kita berwarna, jadi kaya permen nano-nano gitu, colourfull…. sepeti ilustrasi anggota tubuh di atas, kalo gak ada beban ya lumpuh. Kalo manusia hidup gak ada beban, kapan ia bisa jadi pribadi dewasa? Kapan dia bisa belajar?

So, kesimpulannya adalah manusia perlu dibebaskan dari beban tetapi ia juga membutuhkan beban.

***

Semoga jelas, ya saudara-saudari. Bagaimana pendapat Anda? Mari berkomentar…. Kalo gak di komentari, kasih likenya, kalo gak di like, paling gak dibaca aja deh, kalo gak di baca, ya udah, add fesbuk saya saja ya, wkwkwk #nelan mouse

2 thoughts on “Membuat Perspektif yang Benar Mengenai Beban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s