Antara Pendeta dengan Kecerdasan, Motivasi, Gambaran Diri, dan Frustasi

Antara Pendeta dengan Kecerdasan, Motivasi, Gambaran Diri, dan Frustasi

Oleh : Lia Afriliani

Seorang pendeta bukan hanya menjadi seorang pelayan atau orang yang berbicara tentang Alkitab dari mimbar kemimbar atau rumah kerumah, namun pendeta memiliki ruang lingkup penugasan yang lebih dari pada itu. Pendeta adalah seorang pemimpin sekaligus guru bagi jemaatnya. Ia harus mampu untuk melayani sekaligus memimpin dan mengajar jemaatnya mengenai kebenaran Firman Tuhan, perilaku yang benar, cara bersikap, berpikir dan berkata-kata. Pendeta juga harus menjadi teladan bagi banyak orang, tak peduli berapapun usia sang pendeta, masih muda ataukah ia sudah tua, yang jelas ia harus bisa menjadi teladan, bersikap dewasa, mampu berpikir secara matang, dan memiliki akhlak moral serta budi pekerti yang baik. Mungkin hal ini kedengarannya sangat menuntut dan sepertinya berat, namun sekali lagi yang harus diingat oleh seorang pendeta bahwa ia adalah seorang pemimpin, seorang guru, seorang sahabat, dan seorang gembala untuk jemaat-jemaatnya.

Oleh karena itu ada banyak hal yang harus diketahui dan dimiliki oleh seorang pendeta, diantaranya adalah kecerdasan, motivasi, gambaran diri, dan frustrasi.

  • Kecerdasan

Kecerdasan merupakan suatu kemampuan seorang individu dalam memahami dan mengerti mengenai berbagai hal yang ada di sekitarnya ataupun juga yang dialaminya. Kecerdasan ini dapat dipengaruhi oleh hal-hal dari dalam dan luar diri individu itu sendiri. Kecerdasan bisa juga merupakan suatu pembawaan sejak kecil namun juga bisa didapat ketika telah berlatih untuk menjadi pandai/cerdas. Pada hakikatnya, kecerdasan ada pada tiap orang, tergantung mereka mau tidaknya untuk mengelola dan mengembangkan kecerdasan yang mereka miliki itu. Untuk seorang pendeta, hendaknya ia juga memiliki kecerdasan, karena itu akan sangat membantu dalam karya pelayanannya.

Menurut saya, ada beberapa jenis kecerdasan yang bermanfaat bagi seorang pendeta, yakni :

  1. Kecerdasan Linguistik.

         Merupakan kecerdasan dalam mengolah kata. Komponen intinya adalah kepekaan terhadap bunyi, struktur, makna fungsi, kata, dan bahasa. Kecerdasan ini sangat berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, beragumentasi, dan berdebat serta mahir dalam mengingat fakta.

         Seorang pendeta sangatlah memerlukan kecerdasan ini, karena dengan memiliki kecerdasan ini, ia akan dengan sangat mudah dapat untuk menyusun kata-kata dalam khotbahnya maupun ketika ia diminta untuk menulis sebuah renungan. Jika ia sudah memiliki kecerdasan ini, hendaklah agar ia terus mengasah dan mengembangkannya.

  1. Kecerdasan Logis-Matematis.

         Merupakan kecerdasan dalam angka dan logika serta kemampuan mengolah alur pemikiran yang panjang. Berkaitan dengan kemampuan berhitung, nalar, dan berpikir logis. Berfikir dengan pola sebab-akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, dan memecahkan masalah.

         Kecerdasan ini membantu seorang pendeta untuk dapat berpikir secara logis dan sistematis. Ketika ia memiliki kecerdasan ini, segala sesuatu akan dipaparkan secara logis, kritis, terkonsep, dan masuk akal.

  1. Kecerdasan Spasial.

         Kecerdasan Spasial adalah kemampuan seseorang untuk melihat secara rinci gambaran visual yang terdapat disekitarnya. Mereka mempunyai kepekaan tajam terhadap detail visual, menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi dan juga dalam hal desain.

         Pendeta yang memiliki kecerdasan yang satu ini akan menjadi sangat mudah ketika ia harus menghubungkan khotbahnya dengan realitas masa kini. Ia dapat menggambarkan apa yang sedang terjadi di dalam kehidupan berjemaat dengan terperinci, sehingga kebutuhan jemaat mengenai kerelevansian Firman Tuhan dengan masa sekarang dapat terjawab.

  1. Kecerdasan Musikal.

         Kecerdasan Musikal adalah kepekaan dan kemampuan menciptakan dan mengapresiasikan irama, pola titik nada dan warna nada serta apresiasi untuk bentuk ekspresi emosi musikal. Mempunyai kepekaan tajam terhadap nada, dapat menyanyikan lagu dengan tepat, dan dapat mengikuti irama musik.

         Pendeta sebagai pemimpin jemaat juga harus bisa memimpiin jemaat dalam menyanyi, oleh karena itulah, kecerdasan musikal merupakan kecerdasan yang sangat di perlukan oleh setiap pendeta (walaupun tidak setiap pendeta memiliki kecerdasan ini).

  1. Kecerdasan Antar Pribadi (Interpersonal).

         Pendeta adalah orang yang banyak berinteraksi dalam kehidupan pelayanannya, ia akan berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, tua muda, miskin kaya. Oleh karena itu, ia harus bisa untuk menjadi pribadi yang menyenangkan bagi setiap orang yang berinteraksi dengannya. Kecerdasan ini menuntut kemampuan untuk menyerap dan tanggapan terhadap suasana hati, perangai, niat dan hasrat orang lain ketika sedang melakukan interaksi.

  1. Kecerdasan Intra Pribadi (Intrapersonal).

         Kecerdasan Intra Pribadi (Intrapersonal) adalah kecerdasan dalam diri sendiri, hal ini diperlihatkan dalam bentuk kemampuan dalam membangun persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan kemampuan tersebut dalam membuat rencana dan mengarahkan orang lain.

         Pendeta bukan saja bisa dipengaruhi oleh orang disekitarnya, namun ia juga harus bisa untuk mempengaruhi orang yang ada disekitarnya. Oleh karena itulah, ia harus menjadi teladan bagi orang disekitarnya, sehingga ia bisa membawa pengaruh dirinya yang baik dan menularkannya bagi orang lain.

     Kecerdasan lainnya yang dipandang perlu adalah

  1. Kecerdasan Spiritual

         Ia harus memiliki kecerdasan spiritualitas, artinya ia harus benar-benar mantap dalam relasi atau hubungan pribadinya dengan Tuhan. Hal ini penting dan wajib utnuk dimiliki oleh karena pendeta merupakan pemimpin rohani jemaat dan ia menuntun atau membentuk spiritulitas jemaatnya, sehingga sebelum ia melakukan itu, ia harus terlebih dahulu memiliki spiritual yang baik.

  1. Kecerdasan Emosi

         Ketika seseorang sudah lepas dari bangku pendidikan, IQ dinyatakan hanya memiliki peranan kecil jika dibandingkan dengan EQ. Seorang pendeta sekalipun, ia tidak hanya harus pintar secara intelektual, namun ia juga harus pintar dalam mengendalikan emosinya. Mungkin kecerdasan emosi ini berkaitan dengan kecerdasan antar pribadi, yakni mengenai bagaimana seseorang dalam berinteraksi dengan sesamanya.

Jemaat tentu akan senang  memiliki pendeta  yang memiliki kecerdasan tinggi, karena dengan demikian pelayanannya akan penuh kuasa dan wibawa sebab dalam ia berbicara atau berinteraksi ditengah jemaat, ia akan berbicara secara logis, rasional, sistematis, dan dapat di percaya. Ia juga memiliki berbagai keahlian atau kemampuan yang dapat diandalkan (Amsal 8:12 “Aku, hikmat, tinggal bersama-sama dengan kecerdasan, dan aku mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan” ).

Namun itu saja tidak cukup, aspek intelektualnya itu dibutuhkan untuk mendukung  dan menopang layanan spiritual/ rohaninya. Pada hakikatnya, seorang pendeta adalah pemimpin jemaat, ia adalah pemimpin rohani bagi jemaat. Oleh sebab itu, ia juga wajib untuk memiliki cerdas spiritualitas, sebab sebagai pemimpin  spiritual/ rohani, maka hal-hal   spiritual dan rohanilah yang perlu tampil dari dalam diri pendeta (ia terlebih dahulu harus seperti yang di katakan dalam II Korintus 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.)

Selain itu juga, ia harus cerdas dalam mengendalikan emosinya sebagaimana yang dikatakan dalam Yakobus 1:19 “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”.

Demikianlah pentingnya kecerdasan bagi seorang pendeta sebagai pemimpin jemaat. Ada banyak jenis kecerdasan yang bisa dikuasai oleh pendeta untuk menunjang pelayanannya, namun dua hal yang sangat vital yakni, emosi dan spiritualitas.

 

  • Motivasi

Motivasi adalah pendorong bagi manusia untuk melakukan sesuatu/perbuatan (motif). Dengan motivasi, seseorang dapat menjadi bersemangat untuk melakukan apa yang harus ia lakukan. Tindakan motivasi memiliki tujuan untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauan untuk melakukan sesuatu hingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu.

Pendeta sebagai  motivator jemaat akan membawa perubahan bagi jemaat dan dalam kehidupan warga jemaat. Kata atau kalimat yang diucapkan, baik dalam pembelajaran atau dalam interaksi sehari-hari,  memiliki dampak dan pengaruh yang besar bagi warga jemaat. Sebab kata-kata yang diucapkan tersebut memiliki energi, kekuatan dan kuasa yang kuat untuk membuat seseorang tergerak hatinya.

Menurut saya pribadi, ada tiga hal yang perlu untuk diketahui mengenai motivasi ini bagi seorang pendeta :

  1. Pendeta punya motivasi

       Maksudnya disini adalah seorang pendeta harus memiliki motivasi pribadi tentang mengapa ia ingin menjadi pendeta, mengapa ia ingin melayani. Waktu yang tepat untuk merumuskan motivasi ini adalah ketika ia masih berada di bangku kuliah dan kemudian diperbarui pada saat awal ia melayani. Mengapa pendeta harus memiliki motivasi pribadi? Hal ini agar ia dapat bersemangat untuk melakukan pelayanannya, misalnya saja motivasi pribadi seorang pendeta adalah “hidup jadi berkat, mati masuk surga”, motivasi inilah yang akan membuat ia bersemangat melayani, berusaha menjadi teladan, berbuat kebaikan, menaati perintah Tuhan, meningkatkan spiritualitasnya, dan sebagainya.

  1. Pendeta memotivasi

       Sebagai seseorang yang memiliki posisi dihormati adalah suatu kewajiban seorang pendeta untuk bisa memotivasi orang-orang disekitarnya. Memotivasi dari segenap lapisan jemaatnya (anak-anak, remaja, pemuda, ibu-ibu, bapak-bapak, lansia), dan mungkin bukan dalam ruang lingkup jemaatnya saja, namun menyebar keluar dari jemaat (termasuk orang-orang yang memeluk agama lain).

  1. Pendeta dimotivasi

       Satu hal yang perlu disadari oleh jemaat, pendeta bukan manusia super ataupun robot, akan ada waktunya ia mengalami putus asa, kebosanan, kejemuan, pergumulan, permasalahan bahkan juga krisis rohani. Disaat inilah ia juga butuh untuk dimotivasi oleh orang-orang terdekatnya (keluarga, penatua/diakon, dan jemaat), sehingga ia menjadi bersemangat kembali dalam melakukan pelayanannya.

Demikianlah, pentingnya motivasi itu dalam kehidupan seorang pendeta. Garis besarnya ialah ia harus bisa memotivasi orang lain seperti yang dikatakan dalam Titus 3:8 “Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik” dan ia juga memerlukan motivasi dari orang-orang disekitarnya, sebagaimana yang dikatakan kitab Galatia 6:2a “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu”.

  • Gambaran Diri

Gambaran diri adalah mengenai bagaimana seseorang menganggap atau memandang dan merasakan tentang dirinya sendiri. Gambaran diri seseorang mengandung dua hal yakni perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri yang disadari dan yang tidak disadari. Gambaran diri adalah tanggapan dan perasaan individu tentang siapa, apa, dan dimana sebenarnya dia berada. Gambaran diri biasa juga disebut dengan citra diri.

Gambaran tersebut bisa berupa yang sebenarnya, bisa juga hanya sekedar harapan atau citraa diri yang diharapkan atau yang diinginkannya. Apapun gambaran tersebut, itu pasti akan mempengaruhi tingkah lakunya sehari-hari.

Seorang pemimpin jemaat yang baik haruslah memiliki konsep yang kuat dan jelas mengenai gambaran dirinya. Siapakah saya? Itu adalah pertanyaan yang harus ia tanyakan dan jawab. Ia harus dapat menilai dirinya sendiri menurut apa yang ia rasakan. Dengan menetapkan konsep yang kuat dan jelas mengenai gambaran dirinya, maka secara otomatis dari dalam dirinya pasti akan keluar respon terhadap keinginan dan tujuan tersebut.

Ketika gambaran dirinya yang ia tanamkan didalam dirinya adalah gambaran yang negatif, maka secara otomatis respon yang hadir adalah respon yang negatif pula. Karena gambaran diri kita sendiri, kita sendiri pula yang mengonsepnya. Sehingga dengan gambaran yang ia dapatkan ia dapat menilai kelebihan dan kekurangan dalam dirinya. Kelebihan tersebut dapat ia kembangkan lagi dan kekurangan tersebut dapat ia singkirkan, sehingga ia benar-benar dapat menjadi seorang pelayan yang berkarakter dan dapat diandalkan. Gambaran diri yang benar akan memudahkannya dalam berinteraksi dengan orang lain dan dalam pergaulan serta pelayanannya.

Selain itu, seorang pendeta dituntut untuk terus membentuk gambaran diri yang baik pada dirinya, karena ia adalah teladan untuk jemaat yang dilayaninya. Ada pernyataan yang mengatakan “perbuatan berbicara lebih keras daripada perkataan”, demikian pulalah yang berlaku dalam kehidupan pelayanan. Seseorang pendeta akan dihormati bukan hanya karena ia cerdas dan berwibawa, namun juga dari perbuatannya setiap hari. Tidak ada gunanya titel sarjana S.Th, M.Min, M.Th, M.Div, dan titel lainnya jika perbuatannya setiap hari bukan perbuatan yang baik dan sesuai dengan perintah Tuhan.

Seperti yang dikatakan oleh Paulus kepada Timotius “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (I Timotius  4:12), demikianlah juga berlaku untuk kita. Gambaran diri kita haruslah gambaran diri yang baik dan bukan hanya sekedar gambaran diri, namun dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita hari lepas hari.

Gambaran diri bukan hal mutlak yang tidak bisa diubah. Jika kita mau, kita masih bisa untuk mengubah gambaran diri kita, semua tergantung pada kita, karena gambaran diri adalah konsepsi kita sendiri.

  • Frustrasi

Frustrasi adalah keadaan batin seseorang dimana ada suatu ketidak seimbangan jiwa dan suatu perasaan tidak puas karena hasrat tidak terpenuhi. Frustrasi berhubungan erat dengan kekecewaan. Ada banyak penyebab yang menjadikan seseorang bisa mengalami frustrasi, diantaranya adalah karena merasa dirinya gagal, dirinya tidak mampu memberikan yang terbaik, dan sebagainya. Ada terdapat banyak reaksi yang muncul ketika sesorang mengalami frustrasi, ada agresi, represi, mengundurkan diri, fiksasi, dan lainnya. Reaksi-reaksi itu timbul karena keinginan untuk melampiaskan ketidak puasan jiwa dan kekecewaan hatinya.

Walaupun sama-sama berbicara mengenai masalah kejiwaan, frustrasi tidak sama dengan depresi, frustrasi adalah reaksi karena tidak puas dan depresi adalah reaksi karena tekanan-tekanan yang membuat mentalnya jatuh. Meski demikian, dua hal ini menurut saya memiliki hubungan atau keterkaitan yang erat. Seorang pendeta yang berambisi untuk menjadikan jemaatnya sebagai jemaat yang melayani bisa saja akan mengalami frustrasi ketika ia tidak dapat mewujudkan ambisinya itu. Ia akan merasa bahwa dirinya gagal dalam membina dan memotivasi jemaatnya. Ketika ia tidak bisa untuk melepaskan dirinya dari frustrasi ini, maka ia bisa saja mengalami depresi karena tekanan-tekanan dari keinginan dan ambisinya itu yang membuat ia menjadi down.

Sebenarnya merupakan hal yang normal ketika seorang manusia mengalami frustasi, karena dalam kehidupan ini pasti ada saatnya ia mengalami masa-masa penuh dengan kekecewaan. Bahkan seorang pendeta sekalipun, adakalanya ia akan mengalami kekecewaan dan frustrasi baik dalam pelayanannya maupun kehidupan pribadinya.

Manusia tidak bisa terus menerus hidup dalam kefrustrasian, karena itu bisa membuat ia menjadi stress dan berakibat buruk pada kondisi kejiwaannya serta mengganggu kehidupannya. Ia membutuhkan cara untuk melepaskan diri dari frustrasi, ia harus berlaku bijaksana. Apalagi bagi seorang pendeta, ia harus bisa melepaskan diri secara cepat dari frustrasi yang ia alami, agar tidak menganggu kesejatian  pelayanan dan keimanannya kepada Tuhan. Ia harus bisa mengendalikan dirinya, mencari ketenangan, dan kemudian mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga akal sehatnya tetap berjalan dan dapat berpikir secara benar.

Namun, tidak selamanya frustrasi itu merugikan, pada dasarnya manusia juga membutuhkan frustrasi, agar ia dapat menjadi pribadi yang lebih baik, berkembang, dan menuju kepada kedewasaan. Manusia membutuhkan frustrasi bukan dalam kadar yang tinggi, namun dalam kadar rendah atau kadar yang dapat ia tanggung dan tidak melampaui kekuatan serta kemampuannya. Demikianlah frustrasi bagi seorang pendeta, ia tidak bisa terus menerus berada didalam kondisi frustrasi namun ia juga memerlukan frustrasi itu sendiri.

Galatia 6:1 mengatakan “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.Demikianlah juga pendeta sebagai seseorang yang akan menghadapi orang banyak dengan berbagai pergumulan mereka, pasti akan menemukan anggota jemaat yang mengalami frustasi. Oleh karena itulah, pendeta sebagai pemimpin jemaat harus memiliki pengetahuan mengenai frustrasi ini, sehingga ia bisa memimpin jemaatnya dan membimbing anggota jemaat yang tengah mengalami frustrasi ini, agar dapat keluar dari keadaan tersebut.

Hendaknya kita bisa membimbing jemaat kita yang tengah mengalami frustrasi didalam jalan Tuhan, kita harus menyadarkan mereka bahwa ketidakpuasan yang mereka alami hanya sementara dan kita juga harus menjaga mereka agar disaat itu mereka tidak menjauh dari jalan Tuhan. Kita sebagai pendeta harus meyakinkan mereka bahwa frustrasi dapat menjadi berkat dalam situasi yang tersembunyi. Frustrasi adalah alat yang dipakai Tuhan untuk membentuk umatNya menuju kedewasaan iman.

***

Seperti yang telah dipaparkan dalam poin-poin diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pendeta memiliki tugas dan peranan penting dalam jemaatnya, berperan bukan hanya dalam hal mengkhotbahi jemaatnya, namun juga sebagai motivator, pembimbing rohani, guru, dan teladan. Sehingga dapat kita katakan bahwa pendeta itu hendaknya selalu berada dalam tiga posisi, yakni didepan sebagai teladan, disamping sebagai teman dan dibelakang sebagai motivator dimana dan kapanpun ia berada.

7 thoughts on “Antara Pendeta dengan Kecerdasan, Motivasi, Gambaran Diri, dan Frustasi

  1. Ping-balik: Bartim mimpiku | Nohara's Face

  2. Makalah ini menjelaskan pentingnya mengembangkan kecerdasan setiap anak didik yang menitik beratkan pada kecerdasan emosional dan spiritual. Hal ini dengan mempertimbangkan tujuan pendidikan nasional bahwa pembelajaran harus memiliki dua aspek pengembangan IPTEK (kecerdasan intelektual) yang memiliki IMTAQ (kecerdasan Spritual). Pengembangan IPTEK pada anak didik disekolah kejuruan merupakan materi sehari-hari. Pengembangan IMTAQ bukan hanya melalui pelajaran agama semata, bisa melalui pelajaran yang lain. Memasukkan nilai-nilai spritual dalam pembelajaran teknik audio video dengan bimbingan guru diharapkan dapat menghasilkan siswa yang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang merupakan tujuan pendidikan nasional.

  3. setuju mbak lia…….. ekspresi penyampaian kecerdasan yang dimiliki juga mendukung dalam pelayanan, dan berusaha selain menjadi guru bagi orang lain juga bisa menjadi guru diri sendiri dan keluarga……….. semoga sukses dan berhasil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s