Aku dan SHM

Masih ingat, waktu masih anak-anak, waktu mukaku masih unyu-unyu polos lugu (hahaha, pedenya selangit), yang namanya sekolah minggu itjesuschildrensrworship (2)u entah kenapa ya, gak terlalu berkesan. Mungkin karena saya jarang ikut ibadah sekolah minggu atau memang karena apa yang saya dapatkan saat itu tidak terlalu nempel dihati dan diotak, entahlah, itukan cerita masa lalu…. namun yang jelas sekarang bahwa saya gak pernah menduga kalo bakalan terlibat dalam sekolah minggu. Eng, ing, ong….

Semester 1 yang lalu, di mata kuliahnya Bpk Tulus Tu’u, S.Th, M.Pd yakni mata kuliah Formasi Spiritualitas, kami diberikan tugas untuk melakukan penelitian mengenai pengenalan Sekolah Hari Minggu (SHM), yang dilaksanakan di lingkungan-lingkungan Jemaat GKE Eppata dan Eben Ezer Banjarmasin, yakni mulai dari bulan September sampai dengan Nopember 2012. Selama itu pula, ada banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang berhasil saya dapatkan, diantaranya adalah :

KESIMPULAN PENGENALAN SEKOLAH HARI MINGGU

Oleh : Lia Afriliani

Ketika kita berada di ibadah Sekolah Hari Minggu (SHM), tentunya sangat berbeda dengan ketika kita berada di ibadah kategori lainnya. Hal ini karena, SHM adalah tempat ibadah anak-anak. Disinilah salah satu, tempat mereka belajar sejak kecil mengenai siapa itu Tuhan, disamping dari keluarga dan pelajaran PAK di sekolahnya masing-masing. Dengan SHM, anak-anak merasa bahwa mereka berada didunianya sendiri dan diakui sebagai anggota gereja ditempatnya (orangtuanya) berada.

            Di GKE sendiri, SHM dipandang sebagai kegiatan ibadah yang penting. SHM ini merupakan sarana untuk membangun spiritualitas anak-anak sejak dini. Disini, mereka dapat merasakan bahwa mereka adalah bagian dari GKE, dan mereka memiliki tanggung jawab untuk bersama-sama membawa GKE menuju kemajuan rohani. SHM adalah tempat untuk mempersiapkan dan mengisi kehidupan anak-anak Kristen dengan Firman Tuhan dan ini merupakan kesempatan emas untuk membawa dan meletakkan dasar iman yang kuat pada diri anak.

Berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan di tiga tempat yang berbeda, dapat saya ambil kesimpulan bahwa efektif atau tidaknya ibadah SHM itu tergantung pada pengelompokkan usia anak dan cara guru mengajar. Sesuai dengan analisis saya, secara garis besar adalah sebagai berikut :

1.        Anak-anak kelas kecil

Anak usia ini belum sanggup berkonsentrasi dalam jangka waktu yang lama, perhatiannya cepat teralih pada kegiatan lain. Mereka terkenal aktif dan suka bermain, lebih terbantu banyak dalam belajar melalui panca indera, khususnya mata dan telinga, apa yang ia lihat akan ia coba untuk menirukannya. Ia mudah percaya pada segala yang diceritakan oleh guru kepadanya, karena ia masih belum berpengalaman untuk membedakan hal yang benar dan yang salah.

Guru SHM harus bisa menarik perhatian mereka dengan berbagai cara, seperti melakukan gerakan-gerakan yang unik dan menarik, bercerita dengan menggunakan alat peraga, Inti dari mengajar anak usia ini adalah  metode yang menarik, nyaman, dan bersahabat serta ketika mengajar anak-anak tentang apa yang harus dilakukannya adalah dengan menunjukkan kepadanya bagaimana cara melakukannya.

2.        Anak-anak kelas tengah

Anak-anak usia ini juga tergolong aktif, mereka biasanya masih belum bisa membaca secara lancar, jadi mendengarkan cerita adalah hal yang menyenangkan bagi mereka. Anak-anak kelas tengah senang untuk menirukan perbuatan-perbuatan, ia ingin menjadi seseorang yang menurutnya dekat dengannya. Ia dapat dengan mudah menerima pikiran tentang siapa itu Tuhan walaupun ia masih belum terlalu mengerti mengenai hal-hal yang masih bersifat abstrak (seperti roh kudus, iman).

Guru SHM harus tahu bahwa diusia ini, aktivitas dengan gerakan tubuh sangat disukai oleh mereka, alat peraga dan cerita diusahakan sesuai dengan dunia mereka. Karena anaka-anak usia ini senang menirukan perbuatan, ini adalah saat yang tepat untuk guru SHM memperkenalkan keteladanan Yesus. Fokus ajaran adalah dasar-dasar moral tentang yang benar dan salah.

3.        Anak-anak kelas besar

Mereka mudah menerima, tulus hati dan menuntut supaya gurunya bisa bertindak sesuai dengan pelajaran yang diberikan kepada mereka. Anak-anak usia ini sedang mengembangkan pendapatnya sendiri, sehingga kadang melawan guru SHMnya. Mereka sudah memiliki daya konsentrasi yang baik dan sudah bisa untuk diajak pada cerita-cerita yang panjang, seperti riwayat hidup seorang raja atau nabi. Guru bukan hanya mengajar namun juga harus mempraktekkan apa yang ia ajarkan. Pada usia ini, dibutuhkan guru yang bisa bersikap tegas dan berwibawa.

Garis besar dari pelaksanaan SHM ini adalah mengenai bagaimana guru memegang peranan penting dalam membentuk keimanan dan memperkenalkan Tuhan secara dini kepada anak-anak dengan tepat, karena SHM adalah dasar bagi anak untuk ia belajar mengenai Tuhan dan juga dasar untuk membangun spiritualitas mereka. Selain itu, juga diperlukan bimbingan dari orangtua kepada anak-anak mereka serta kerjasamanya dengan pihak guru SHM. Tujuan dari SHM adalah membentuk karakter anak sesuai dengan Firman Tuhan.

Amsal  22 mengatakan kepada kita “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” itulah kewajiban kita sekalian sebagai orang dewasa yang memiliki tanggung jawab pada anak-anak itu. Hingga suatu saat nanti, mereka dapat berkata , “Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib” (Mazmur  71:17).

Demikianlah hal yang saya dapat selama tiga bulan itu. Sengaja saya tulis disini, agar kiranya dapat menjadi bahan referensi dan materi diskusi (Bukan untuk Co-pas-la-ku (copy paste langsung kumpul)). Serta jikalau ada hal yang salah dari paparan tersebut, silahkan menuliskan tanggapan atau perbaikannya pada kolom komentar.

Semester ini, yakni semester 2, ada tantangan yang baru dan lebih menantang lagi! Wah yang satu ini benar-benar membuat saya jadi selalu merasa galau dari hari Senin sampai dengan hari Minggu, lanjut lagi ke hari Senin terus ke Minggu, dan seterusnya. Dalam mata kuliah psikologi perkembangan yang diampu oleh Bpk Tulus Tu’u, S.Th, M.Pd, kami kembali ditugaskan untuk melakukan penelitian SHM. Penelitian kali ini bukan lagi hanya mengamati, namun juga ikut terlibat dalam pelayanan kepada anak, artinya adalah ikut serta juga mengajar SHM dibawah bimbingan guru SHM lingkungan mana kita ditempatkan. Yah, supaya lebih kerennya bisa dikatakan semacam “Mahasiswa Praktek” lah……

Lho, trus kenapa saya galau? Yang pertama, Saya gak bisa ngomong, hehehe. Seperti kata guru saya, “pikiran sudah jalan 3 meter, tapi mulut baru 1 meter” hehehe….  benar, tapi itulah saya. Nah, karena itulah, setiap hari dalam seminggu saya galau, mikirin apa yang akan saya omongkan dengan anak-anak? Kedua, karena saya takut ketika saya menyampaikan Firman Tuhan, anak-anak tidak bisa menerima apa makna atau pesan dari yang saya ajarkan itu. Wah, nambah lagi masalahnya. Ketiga, saya cemas dan takut ketika memikirkan atau membayangkan ada anak-anak yang tidak mau memperhatikan ketika saya sedang mengajar, mereka asik sendiri. Yang satu ini, benar-benar mimpi yang sangat buruk dan mengerikan, semoga gak pernah terjadi (tapi akhir-akhir ini mulai berpendapat : kayanya kalau sampai kejadian seperti yang ini, saya anggap sebagai karma aja deh. Dulu kan waktu sekolah, kadang ngga memperhatikan guru, hehehe, yeah, hukum karma memang kadang-kadang perlu berlaku:mrgreen: ).

Tugas ini dilaksanakan selama tiga bulan, sejak Pebruari sampai April nanti. Saya ditempatkan di lingkungan Zaitun jemaat GKE Banjarmasin, yang terletak di Komp. DPR gang V. Wah, sodara…. mengajar SHM benar-benar menjadi hal yang baru untukku dan aku terus berusaha untuk memanfaatkannya sebaga kesempatan belajar menjadi seorang guru SHM yang baik untuk anak-anak. Selama bulan Pebruari, saya mengajar di kelas anak kecil dan PAUD, wah luar biasa sulitnya. Saya kadang-kadang bingung tentang bagaimana menjelaskan sesuatu kepada anak-anak yang secara notabene adalah belum nyampe pikirannya. Galaulah saya jadinya. Bulan ini, saya mengajar anak-anak kelas besar. Semoga dapat menjadi lebih baik dan lebih berpengalaman, semoga!

Untuk meningkatkan kualitas pengajaran yang kami lakukan dan menambah pemahaman kami tentang bagaimana cara menginjili anak-anak secara baik, tepat, dan benar, dosen kami, Bpk Tulus Tu’u, S.Th, M.Pd dan Bpk Pdt. Tahan M. Cambah, M.Th, melakukan kerja sama dengan tim KIDS EE yang didatangkan dari Malang, yakni Bpk Simon Siahaan dan Ibu Yoshephien dibantu dengan tenaga KIDS EE lokal.
Pelatihan Kids EE
Kegiatan pelatihan berlangsung sejak tanggal 25 sampai dengan 28 Pebruari 2013, dan dilanjutkan dengan ujian dan praktek mengajar serta pelaksanaan PI kepada anak-anak SHM pada hari Jumat, 01 Maret 2013. Selama itu pula kami diberikan berbagai macam materi, metode, pengetahuan, bahkan kritik dari mereka. Melalui acara ini, kami menjadi lebih mengerti mengenai bagaimana cara untuk memahami anak-anak, menarik perhatian mereka, serta yang tak kalah pentingnya lagi adalah bagaimana cara membawa anak-anak untuk menerima Yesus (menginjili mereka) dan mengajak mereka menjadi saksi Kristus untuk keluarganya dan teman sebayanya.

Untuk mengajar anak-anak SHM, yang harus diperhatikan antara lain :

  1. Memahami tentang anak-anak dan dunianya.
  2. Metode pengajaran yang menarik.
  3. Kekreatifitasan sebagai guru.
  4. Cara berinteraksi dengan anak-anak.
  5. Bersedia mendengar pendapat atau curhat dari mereka.
  6. Jangan terlalu cepat berkata “salah” terhadap jawaban atau pendapat anak.
  7. Bisa membangun suatu hubungan persahabatan/persaudaraan dengan mereka, sehingga mereka merasa nyaman, aman, dan terlindungi ketika bersama kita.
  8. ……… (apa lagi? Tambahin yoooo…….)

One thought on “Aku dan SHM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s