Cerpen : The Legend of Idaman in Smansa Duta

Sabtu sore yang cukup dingin, hujan tanpa lelah terus mengguyur bumi. Sementara itu, berterbanganlah SMS-SMS dari handphone ke handphone melintasi ruang dan waktu tanpa peduli hujan yang semakin lebat.

– Bon, ikam turun kada les?
– Cha, udah berangkatkah?
– Ri, minau puang hanyu?
– Mbo, dah di skull kah?
– Daras banar hujannya, cuy….
– Ha’u, galau aku… Kajut ah, uran na, rasa leh andrau ina harus minau les
– Ni masih nunggu sampai hujannya agak reda
– Smoga lakas ampih, ae…..
– SMS aku lah kalo ikam berangkat….
– Cbb, baru bangun tidur ni. Bingung aku, hujannya deras banget, mana aku gak ada jas hujan lagi.

Ya, sore ini siswa-siswi SMA Negeri 1 Dusun Tengah harus mengikuti les dalam rangka persiapan untuk mengikuti UN bulan April mendatang. Nah, SMS-SMS tadi adalah SMS-SMS dari anak-anak kelas idaman. Galau semuanya, tuh. Pasalnya, hampir semua anak idaman letak rumahnya jauh dari sekolah. Tapi, hujan memang tak mau berkompromi, dengan pedenya ia terus mengguyur bumi sampai pukul enam sore.

***

Seperti minggu-minggu biasanya, setiap hari Senin terjadilah kegemparan di kelas Idaman. Bukan karena kebetulan, tapi karena ada banyak yang belum mengerjakan PR Fisika, jadi satu-satunya cara adalah datang pagi-pagi dan menyalin jawaban dari teman-teman yang sudah selesai.
Di meja Sarah dan Devita, sang juara kelas

“Rah, nyontek, yo…”
“Devi, bagi pang jawabannya….”
“Dev, nomor 1 benarlah jawabannya A?”
“Sabar, nah. Aku lagi nulis jawabannya.”
“Aku nyontek lah…”
“Catat cepatlah, aku mau nulis jawaban nomor 5”

Di meja bendahara kelas, Wita yang biasa dipanggil Mbak Wit

“Mbak…. nyontek, mbak…”
“Mbak, ini apa? 3 atau 5?”

Di meja Ripal

“Pal, nyontek lah…”
“Nomor berapa ikam balum, Pal? Ni jawaban dari yang lain…”
“Kenapa beda, yo, jawaban nomor enam. Sarah, A. Devi , B. Lia Rambo dan Lia As, C. Ripal dan Wita, D. Bingung….”
“Ayo, cepat Sep, halaman belakangnya lagi!”
“Sabar dong, tulisannya harus jelas ni. Nanti ibu Lisa marah kalau tulisannya sembarangan!”

Lia As yang baru datang disambut oleh teman-temannya dengan kata-kata yang serupa.

“Ya, nyontek…”
“Sabar, pang. Belum nyampe meja sudah dibajak. handak diconteki kada?”
“Oke, oke…”
“Ayo, Ya. Lia As baik deh….”

Di mejanya Lia yang dipanggil teman-temannya sebagai Rambo di pojokan sana, tidak kalah hebohnya..

“Mbo, Mbo, sudahkah nomor 3?”
“Sudah” Lia menjawab pendek…
“Nyontek, Mbo…”
“Gak mau”
“Ayolah, Ramboo….” Pinta Rafki dengan wajah memelas. Lia hanya tertawa melihat wajah temannya seraya memberikan buku latihannya yang sudah berisi jawaban.
“Ayo, yang mau menconteki aku. Ku angkat jadi dansanak!” Rizky berteriak.
“Uy, semua, pengumuman…” Teriak Tyo, “Yang mana yang bujur nomor 6 ni?”
“Ey, hitung ba’asa lagi, yo…”
“Oh, Ibu Lisa, maafkan anak-anakmu ini…!” Teriak Nasir tidak mau kalah.
“Satu kelas jawaban kita sama rata, haha…”
“Oh, astaga, salah ni. Nomor 2 tu salah rumus! Mana jawabanku tadi?”

Begitulah kelas idaman, setiap kali ada pelajaran Fisika, seisi kelas pasti kompak untuk menyontek massal. Akibatnya, semua jawaban sama, tak ada satu pun yang berbeda. Sementara mereka sedang serius menyalin jawaban Fisika, akhirnya keluarlah percakapan mengenai les di hari Sabtu kemarin.

“Hei, bro, kamu masuk les gak kemarin?” Tanya Dapri.
“Ngga, hujannya deras sekali, kamu pang?” Sahut Ulah.
“Karena aku gak turun, makanya aku nanya kamu, pintar ae!” Jawab Dapri.
“Des, turun les kah ikam hari Sabtu tu?”
“Kada, di Pangkan hujannya turun deras sekali.”
“Aku ngga ada jas hujan” Jawab Ayu saat ditanya Koco.
“Aku kan sakit hari Sabtu tu” Jawab Siti.
“Ngga ada yang ngantar…” Sahut Johar.

Setelah pembicaraan yang lama dan hasil tanya sana-sini, terdapatlah suatu kesimpulan…

“Astaga! Berarti kita ini sama-sama gak ada yang turunnya hari Sabtu sore tu!” Teriak Deni, si ketua kelas.

Seisi kelas terdiam, semua terpaku dan tidak bisa berkata-kata. Semuanya tidak menyangka jika tak ada satu pun diantara mereka yang turun les. Ditengah keterkejutan mereka itu, lonceng berbunyi menandakan upacara bendera akan dimulai.

***

“Hello, mimpi apa aku semalam, coy?”
“Diskorsing?”
“Oh, no.. Kuharap ini tidak nyata…”
“Diskorsing gak boleh ikut les lagi… Gimana yang nasib kita?”
“Kalau kaya gitu keputusan dari sekolah, gimana cara kita supaya bisa lulus?”
“Mungkin sekolah gak mau kita lulus. Mereka masih sayang sama kita!”
“Ngawur…”
“Oh, bagaimana nasib idaman?”

Anak-anak idaman sangat galau dan kacau setelah mendengar keputusan dari sekolah, mereka tidak diperbolehkan ikut les lagi. Semuanya memasang wajah muram ketika berjalan menuju kelas. Galau, kacau, tegang, berantakan, hancur, hampa, takut, cemas, marah, kesal, sebal, dan sebagainya mereka rasakan. Sampai-sampai guru matematika yang masuk kekelas, hampir tidak mereka sadari, mereka larut dalam kesedihan yang teramat dalam. Mungkin bagi mereka, ini adalah The end of the world.
Rupanya Ibu Siti yang seharusnya mengajar matematika di pagi itu mengerti perasaan siswa-siswinya ini. Bersama Pak Budi, beliau menghibur, menasehati, dan memberikan solusi bagi anak-anak Idaman yang sedang mengalami galau tingkat dewa-dewi itu. Pak Budi dengan caranya yang khas mampu membuat tangis berganti dengan senyum dan tawa, semangat yang sempat drop menjadi menyala-menyala kembali, dan kemarahan berubah menjadi kesabaran. Beliau menulis sebuah syair tentang asiknya bersekolah dan meminta kepada siswa-siswi untuk menyanyikan syair itu dengan nada mereka sendiri. Hingga akhirnya, suasana kelas yang tadinya tegang, perlahan-lahan mulai mencair dan kembali menjadi kelas idaman yang seperti biasa. Dan tentunya, proyek menyontek jawaban Fisika yang sempat terhenti kini menjadi normal kembali dan berjalan seperti biasa.

“Wis, hebatnya pang kita lah…”
“Orang diskorsing itu satu orang ja, ini ngga, ini malah satu kelas!”
“Satu salah, semua diskorsing.”
“Kebersamaan, coy ae!”
“Kita belajar sendiri, ja. Tunjukkan bahwa kita juga bisa!”
“Hahaha… Kapan lagi SMA ini punya siswa yang kaya kita? Langka…”
“Iya, mantap kelas kita ni!”
“Ni dengar, aku punya puisi…”

Kelasku, XII IPA 2 memang sesuatu…
Ya, ya, sesuatu memang!
Kelasku yang indah, penuh kenangan, penuh kejutan, dengan berbagai warna dan rasa.
Penuh cerita laksana bermain di rimba petualangan,
terjun di jurang tantangan, berayun di ranting tekad kuat,
melewati lembah canda, duka, dan tawa senantiasa bersama.
Apapun yang menghalang, tak jadi penghalang bagi kami….

Jangan pandang kami sebelah mata, meski kami terkesan meragukan,
kami punya prestasi, kami punya keunikan :
…. Genesis dengan basketnya
…. Gen’z dengan bandnya
…. D3T2 dengan dancenya
…. Deshasty dengan kepintarannya
…. Kingdom dengan kegokilannya
…. Harazuku dengan stylenya
…. Angel Love Beibhy dengan narzisnya
Dan tak ketinggalan
…. Da’yak-in dengan kejutannya
Kami masih punya stok tosser terbaik,
paski terindah,
pramuka terindah,
pramuka terhebat,
blogger terkeren, dan
INKAI terkuat.
Kami bangga menjadi IDAMAN…

Kelas kami itu sesuatu….
Ya, ya, sesuatu memang!
Jika Anda bisa berada disini itu adalah suatu kehormatan.
Disini bagai hidup bermasyarakat, lengkap,
penuh kemajemukan dan keanekaragaman yang perlu tuk dihayati dan dilestarikan.

Kelasku memang luar biasa….
Anda tak akan rugi jika pernah bertemu, berkenalan, atau bahkan….
menjadi bagian dari kelas ini.
Karena apa yang Anda dapatkan dari kelas kami,
Tak akan Anda temukan di kelas lain…

Ingatlah kami dalam keunikan kami
Karena kami adalah IDAMANnya IDOLA
Jangan mengaku IDAMAN, jika tak berani menjadi IDOLA
Alhamdullilah ya, sesuatu…..

(Sumber : http://nhataliya.wordpress.com/)

“Haha, mantap puisinya!”
“Bujur banar tu, kita kan unik…”
“Tapi lain uniknya anak babi, lho…”
“Kelas kita lengkap, gak ada kelas yang sekomplit kita!”
“Tetap semangatlah, kawan-kawan. Seperti kata Pak Budi tadi, badai pasti berlalu!”
“Hahaha….”
“Suatu ketika nanti, ketika kita tidak lagi bersama-sama, kita pasti akan merindukan kisah ini, The Legend of Idaman in Smansa Duta!”

***

Kawan-kawan, rindukah kalian dengan pengalaman kita ini? Semoga tidak ada yang melupakannya. Tetap semangat, Jadilah IDOLA, jadilah IDAMAN dimana pun kalian berada! Salam Idaman, Salam Sukses……

Baca Cerpen karya saya yang lainnya :

4 thoughts on “Cerpen : The Legend of Idaman in Smansa Duta

  1. Sumpah jadi kangen idaman hbis bca cerpen qm…. ingt klakuanku ktju nyiksa qm, mndandani qm, meambil ikat rambut qm, meacak rambut qm, kakijilan babukahan… aduuh kangen sumpah,,,,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s