Opini : Gereja Putar Haluan, Umat pun Lari

Lama gak posting dan kembali lagi saya beropini. Dari judulnya mungkin aneh dan mungkin ketika Anda membaca tulisan saya ini Anda menemukan konsep pemikiran saya yang salah dan tidak sesuai, maklumlah saya kan baru semester 2 di sekolah teologi, hehehe….. koreksi ya……Dalam membaca opini ini, Anda gak usah sampai memikirkan dogma dan doktrin gereja (karena saya sendiri masih belum terlalu memiliki dasar yang kuat untuk berbicara mengenai hal itu) karena apa yang saya tulis disini adalah kenyataan yang umum yang kita temui dilapangan, ga usah sampai berkerut kening. Mari berikan tanggapan Anda dikolom komentar, karena yang saya tulis ini benar-benar pendapat saya yang mana saya sendiri belum tahu benar atau salahnya. Jadi, mari berkomentar….

Ga ada maksud apa-apa dalam memposting tulisan ini, karena ini adalah tanggapan saya atas apa yang saya lihat, ciyus kok, jadi jika mungkin kenyataan dalam dunia yang tengah terjadi tidak begini, yah sodara-sodari bilang-bilanglah sama saya, maklum, akhir-akhir ini saya sangat terisolasi dari dunia luar… Akkayah:mrgreen:. Ok, dari pada saya berpanjang lebar berbicara yang tidak jelas, lebih baik, check it out saja, jangan lupa komennya, Oke? Deal!!!

***

Hal yang sangat memprihatinkan tengah terjadi di dunia ini, dimana gereja perlahan-lahan mulai ditinggalkan oleh umat. Hari minggu tidak lagi menjadi momen untuk beribadah minggu, namun digantikan dengan kegiatan yang lain. Penurunan ini bahkan terjadi dalam negara yang mayoritas Kristen. Dapat kita bayangkan, sebuah bangunan gereja yang awalnya selalu dipenuhi umat, akhirnya hanya memiliki beberapa orang yang setia beribadah. Parahnya lagi akibat kekosongannya dan tidak adanya umat yang berminat untuk datang beribadah, gereja pun dijual untuk menjadi museum dan bangunan lainnya. Mengapa hal ini terjadi? Inilah pertanyaannya. Bagaimana jika hal ini terus menerus terjadi, bagaimanakah Injil dapat diberitakan diseluruh bumi? Dimana dan siapa yang akan menjadi penerus gereja atau umat Kristen secara umum? Bagaimana kita mempersiapkan umat untuk kedatangan “langit dan bumi yang baru”? Ketika hal ini tidak segera ditanggapi maka gereja tidak lagi menjadi suatu institusi keagamaan yang memperkuat spiritualitas dan memenuhi kebutuhan religius umat namun gereja hanya menjadi sebuah institusi biasa dan tidak lebih dari itu karena telah kehilangan pengaruhnya dan wibawanya.

Ada banyak alasan yang mungkin dilontarkan atas permasalahan diatas, mungkin saja karena kemalasan umat, ketidak tertarikan mereka, mereka merasakan ibadah sebagai hal yang membosankan dan monoton, itu-itu saja, dan alasan-alasan lainnya. Apa yang harus kita lakukan? Jika kesalahan memang dari gereja itu sendiri, bagaimana gereja mengubah cara beribadahnya (tentunya tidak melenceng dari cara beribadah yang benar dan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam tata gereja), mengubah yang dimaksud adalah memberikan sesuatu yang baru dan tidak membosankan bagi umat, misalnya dikemas dengan bentuk ibadah etnik, ibadah kreatif, dan lainnya. Jika kita berbicara tentang ini, maka sangkut pautnya adalah liturgika, dimana penyusunan liturgi dan sebagainya secara tepat dan kreatif agar membantu umat dalam lebih merasakan dan menghayati ibadahnya sehingga dapat merasakan kehadiran Tuhan. Jika kesalahan terjadi terletak didalam diri umat dan pelayan maka yang perlu dirombak adalah diri mereka itu sendiri, bagaimana untuk memunculkan rasa suka beribadah, bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan di rumahNya, bagaimana agar muncul kesadaran bahwa aspek spiritualitas itu sangat penting dalam kehidupan. Hal ini harus dipecahkan dan dicari jalan keluarnya.

Ada sebuah alasan yang bagi saya merupakan alasan yang paling mendasar, yakni ketika gereja memposisikan diri untuk mengajar dan tidak menggembalakan. Kesalahan ini dapat memicu alasan-alasan dalam permasalahan diatas karena jika sejak kecilnya umat hanya diajar dan tidak digembalakan maka yang ada hanyalah sebuah kebosanan dan kejenuhan bahkan kekecewaan karena gereja sebagai suatu wadah keagamaan tidak dapat membantu mereka dalam menghadapi tantangan dan pergumulan hidup. Gereja hanya mendikte ini dan itu, namun tidak pernah membimbing mereka untuk bersama-sama melakukannya. Dalam tulisan ini, saya lebih menitikberatkan pada pembahasan mengenai gereja yang hanya mengajar dan tidak menggembalakan, sehingga diharapkan ini dapat menjadi masukan yang berarti bagi gereja masa kini.

Yehezkiel 3:26-21 : berbicara tentang Yehezkiel yang dipanggil untuk menjadi Gembala untuk memimpin umat.

Efesus 4:1-16 : berbicara tentang bagaimana Allah menetapkan para pejabat khusus di tengah-tengah umat, termasuk para Gembala untuk memimpin umat menuju kepada kepenuhan Kristus.

 

Mengajar dan menggembalakan, dua konsep yang menurut saya sangat berbeda. Mengajar lebih mengacu kepada sistem pendidikan, sedangkan menggembalakan lebih mengacu kepada istilah yang sering dipakai dalam gereja (Kristen). Namun, yang memprihatinkan adalah gereja masa kini lebih banyak menerapkan konsep mengajar daripada konsep menggembalakan, padahal yang seharusnya terjadi adalah gereja menggembalakan umatnya. Gereja mengajar untuk mencapai suatu tujuannya sendiri tanpa memperhatikan bagaimana keadaan umat, kebutuhan umat, dan permasalahan umat. Gereja tidak lagi menjadi gembala bagi domba (umat) namun lebih kepada menjadi guru, dimana terjadilah kurangnya perhatian gereja terhadap pergumulan hidup umatnya, yang penting adalah nas yang ditetapkan untuk hari ini ditafsirkan dan kemudian disampaikan kepada umat, tidak menjadi masalah apakah umat melakukannya atau tidak. Hingga pada akhirnya, gereja juga tidak memberikan teladan yang benar kepada umat, hanya menuntut umat untuk melakukan ini dan itu yang sesuai dengan kebenaran Alkitab dan sesuai dengan yang dipandang sebagai perbuatan orang yang beriman, namun ia sendiri (gereja) tidak melakukannya terlebih dahulu. Hal ini perlu untuk kita pikirkan bersama, tentang betapa jauhnya gereja memutar haluannya. Gereja memang memiliki tiga panggilan gereja, yakni marturia (bersaksi), koinonia (bersekutu), dan diakonia (melayani), bahkan ada satu lagi panggilan yakni didaskalia (mengajar). Namun bukan berarti gereja menerapkan panggilannya yang terakhir ini sesuai dengan konsep dalam dunia pendidikan. Yang perlu kita ingat bahwa sistem pendidikan dan sistem religus itu berbeda dan tidak dapat disamakan meskipun ada beberapa juga yang sama.

Menurut saya tidaklah dapat dipungkiri juga bahwa tidak semua gereja melakukan hal yang seperti tersebut diatas, mungkin ada saja gereja yang masih konsisten menerapkan konsep penggembalaan. Jika memang demikian yang terjadi tingkatkan lagi, agar umat benar-benar menjadi orang Kristen sejati, ketika gereja bisa menggembalakan mereka, secara otomatis pula umat pun bisa saling menggembalakan satu sama lainnya. Namun jika gereja kita telah terlanjur hanya mengajar, mari perlahan-lahan kita coba ubah pola tersebut menjadi gereja yang menggembalakan.

Apa itu konsep mengajar dan menggembalakan?

Ini adalah sebuah pertanyaan dasar agar kita mengerti apa yang terjadi selama ini. Mengajar dan menggembalakan itu adalah dua hal yang berbeda.

Mengajar

Mengajar itu identik dengan memprioritaskan tuntutan kurikulum. Mengajar biasanya lebih berbasis teori dan materi, ketika itu sudah disampaikan apa yang akan dilakukan oleh yang menerimanya tidak menjadi masalah, artinya jika ia mau menerapkannya, ya syukur, jika tidak pun tidak masalah, yang penting teori dan materi tersampaikan. Dalam mengajar pula, pengajar dan yang diajar kadang tidak saling mengenal satu sama lain secara mendalam, hubungan sangat bersifat sempit dan terbatas, karena hanya bertemu disaat proses mengajar dan diajar. Yang terjadi adalah apa yang dipelajari tidak lagi memberikan jawaban atas kebutuhan yang pribadi diajar namun malah bisa menjadi beban baginya karena ia dipaksa berpikir tentang sesuatu yang mungkin saja tidak sedang ia alami, ia dipaksa menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Jika hal yang seperti ini terjadi di gereja, maka suasana yang tidak nyaman akan semakin kompleks dan dapat membuat umat menjauh dari gereja.

Menggembalakan

Berbicara tentang menggembalakan, saya lebih senang untuk mengaitkannya dengan pekerjaan seorang gembala. Masih ingat lagu anak-anak dulu yang kalau tidak salah sebagian syairnya berkata begini “aku ini si gembala sapi …..jika hari sudah petang, sapi pulang kekandang, saya turut dari belakang,  jika sudah tutup kandang,  ………” ? dari sini dapat dilihat pekerjaan seorang gembala, yakni menjaga dan menuntun piaraannya, bahkan sampai petang tiba. Masih ingat cerita Daud yang membunuh serigala yang ingin menerkam dombanya? Itu juga merupakan gambaran gembala. Tuhan Yesus sebagai seorang gembala yang baik, dimana Ia rela menyerahkan nyawanya untuk domba-dombaNya (Yoh 10:1-18).

Seorang gembala akan menjaga dombanya dengan benar, ia memberi mereka makan dan minum yang cukup, ia akan berusaha menyembuhkan jika ada diantara dombanya yang sakit, ia akan mencari jika ada diantara dombanya yang hilang, ia tidak bersembunyi atau lari ketakutan ketika ada yang ingin mengganggu dombanya, bahkan ia tidak segan untuk mempertaruhkan nyawanya. Seorang gembala mengenal domba-dombanya dengan baik dan ia akan sangat akrab dengan domba-dombanya. Konsep menggembalakan sangat berkaitan dengan konsep melayani.

Dari apa yang telah dipaparkan diatas, dapat terlihat bahwa konsep penggembalaan lebih baik dan lebih sesuai dengan tujuan dasar gereja.  Dengan konsep penggembalaan, persoalan umat dapat diketahui dan dapat dicari jalan keluarnya. Jika konsep mengajar, hanya mementingkan teori disampaikan, konsep menggembalakan lebih mementingkan bagaimana umat dan gereja melakukan sesuatu.

Dalam konteks kehidupan gereja, beberapa contoh nyata gereja yang mengajar :

  1. Didalam ibadah sekolah hari minggu, dimana seorang guru sekolah minggu mengikuti kurikulum pelajaran yang teratur dan mengarahkan seluruh proses pembelajaran pada kemampuan anak yang dapat diukur. Maksud semuanya ini tentu baik, misal kurikulum yang berbasis pada sejarah Kerajaan Allah, atau kurikulum yang berbasis karakter dan sebagainya. Namun kurikulum tersebut tidak berangkat dari realitas kebutuhan anak dan pergumulan hidup yang sedang ia alami.
  2. Segala sesuatu yang hanya terbatas dimimbar saja, artinya apa yang disampaikan kepada umat dari atas mimbar tidak mereka lakukan. Mereka mengajarkan umat untuk melakukan perbuatan baik, melakukan perintah Tuhan, menerapkan kasih, dan sebagainya, namun apakah mereka juga melakukannya? Tidak, ternyata kata-kata indah yang diucapkan dimimbar ternyata tidak merembet dan meresap kedalam kehidupan nyata.

Ketika gereja hanya mengajar saja, maka gereja sudah melenceng dari apa yang diharapkan. Dimana gereja hadir ditengah dunia sebenarnya sebagai sarana umat untuk lebih mengenal siapa itu Tuhan, sarana untuk membantu umat menghadapi pergumulan hidup, gereja hendaknya menjadi sahabat bagi umatnya, dan gereja membimbing umat untuk mencapai spiritualitas yang tinggi, yang utamanya lagi, gereja membantu menjawab kebutuhan umatnya. Gereja bukan untuk menetapkan suatu gol yang harus dicapai tanpa melihat realita umat. Gereja bukan hanya dimandatkan untuk berkoar-koar menafsirkan Alkitab, namun gereja dituntut untuk memberikan contoh dan teladan kepada umat, terlebih lagi gereja dituntut untuk mampu mengajak umat untuk melakukan sesuatu. Itulah penggembalaan, suatu pemberian perhatian, pembimbingan, dan mengajak untuk melakukan sesuatu.

Apa yang membuat kita yakin bahwa gereja harus menggembalakan bukan hanya mengajar?

Ada banyak ayat-ayat di Alkitab yang menegaskan tentang hal ini. Saya mengambil nas amanat agung yakni dari Matius 28:19-20, disana tertulis bahwa “karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”. Dari sini sudah jelas, gereja tidak hanya disuruh mencari umat dan membabtis mereka, namun terlebih lagi gereja diperintahkan untuk mengajar. Mengajar yang bagaimana? Mengajar untuk melakukan, artinya gereja dituntut selain mengajarkan yang harus dilakukan juga dituntut untuk melakukan apa yang diajarkan untuk dilakukan. Coba Anda bandingkan dengan konsep mengajar diatas tadi, tidak ada yang harus dipraktekkan atau dilakukan karena hanya mengajar, karena hanya untuk mengejar target dalam kurikulum.

 Mengapa gereja harus menjadi gereja yang menggembalakan?

Dari penjelasan-penjelasan diatas tampak secara tersirat apa yang menjadi alasan gereja untuk melakukan penggembalaan, berikut ini alasan lainnya :

Allah memberikan “damai sejahtera”

Allah yang diimani oleh kita adalah Allah yang memimpin dan memberi hidup “sejahtera” kepada umatNya.

Umat hidup dalam dunia yang penuh dengan pergumulan

Artinya, umat tidak hidup di sebuah dunia yang penuh dengan imajinasi, umat hidup didalam dunia nyata yang berisikan berbagai tantangan. Dunia yang ditempati gereja adalah dunia yang penuh ketiadaan “damai sejahtera”.

Umat sangat mungkin gagal menggapai “sejahtera”

Dalam situasi dimana dunia penuh dengan tantangan, pergumulan, dan kekacauan, maka akibatnya kemungkinan umat untuk tidak mengalami “sejahtera” tersebut sangat besar.

Penggembalaan menjawab pergumulan umat

Isi atau pesan penggembalan yang ditujukan kepada umat langsung menuju pada pokok pergumulan mereka. Ketika mereka mengalami dukacita, mereka diarahkan agar mampu menghadapi dan mengatasi kedukaan itu dengan baik. Ketika mereka mengalami sukacita adalah agar mereka mampu menyikapi sukacita tersebut secara dan baik dan bahkan menghantar mereka kepada kemuliaan nama Tuhan. Penggembalaan juga diharapkan dapat menjawab persoalan umat sesuai dengan kelompok umur mereka. Tentunya masing-masing kelompok memiliki persoalan masing-masing sesuai dengan tingkat umur mereka, disitulah gereja menjadi gembala dengan melihat perbedaan-perbedaan antara kelompok umur ini dengan yang itu dan bagaimana metode penggembalaan yang tepat bagi mereka.

Kiranya dari paparan diatas jelaslah bagi kita bagaimana gereja bertindak dalam dunia. Bagimana mengajar dan menggembalakan adalah dua konsep yang berbeda. Bagaimana sebenarnya yang harusnya dilakukan oleh gereja. Gereja harus menggembalakan! Itu adalah sebuah poin penting dan hendaknya diterapkan terutama dari jenjang pelayanan kategorial yang paling penting di dalam gereja yakni pelayanan SHM. Dimana ketika anak-anak benar-benar digembalakan semenjak kecilnya, maka ia akan menjadi umat yang suka beribadah, ia tidak akan bosan untuk datang kegereja dan bersekutu dengan Allah. Mengapa? Karena ia akan merasa bagaimana ia tidak hanya dituntut untuk melakukan ini dan itu, namun ia juga diperhatikan oleh gembala/gerejanya. Ia akan menganggap segala persoalan dalam hidupnya pasti memiliki jalan keluar yang tepat. Sehingga ia akan menjadi umat yang tidak akan “lari” dari gereja dan menjauh dari Tuhan, walaupun mungkin saja ada banyak hal yang lebih menyenangkan daripada beribadah yang ditawarkan oleh dunia.

Umat masa kini memerlukan gereja yang konsisten dengan tugas panggilannya, gereja yang selalu hadir membantu menjawab pergumulan mereka, dan gereja yang rela untuk menggembalakan mereka.

MARI, JANGAN PUTAR HALUANMU!

4 thoughts on “Opini : Gereja Putar Haluan, Umat pun Lari

  1. Ping-balik: Halaman tidak ditemukan | Lia Af anak AMPAH

  2. Ping-balik: Teologi Berbasis Analisa Sosial | Lia Af anak AMPAH

  3. Jakarta, 11 Dzulqa’dah 1435/6 September 2014 (MINA) – Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Robert O. Blake Jr. menyatakan perkembangan Islam di negaranya terus meningkat dan tidak terpengaruh dengan isu terorisme.
    Menurutnya, umat Islam di AS terus mengalami peningkatan dari sisi jumlahnya.
    “Walau pun ada isu terorisme, namun hal itu rasanya tidak mengurangi laju pertumbuhan Muslim di sana, bahkan warga Amerika semakin bersemangat mempelajari Islam,” kata Blake dalam acara kuliah perdana di Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ), Jakarta, Sabtu.
    Blake yang pernah menjadi duta besar di beberapa negara Islam Timur Tengah itu juga menyatakan pemerintahannya memberikan kesempatan kepada semua agama di AS selama mereka tetap menjaga kerukunan dan keamanan negara.
    “Selama agama itu tetap menjaga ketertiban masyarakat, pemerintah kita akan memberikan ruang bebas bagi mereka untuk menyebarkan ideologinya,”paparnya.

  4. Kedua, merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakannya dalam agama sebelumnya yaitu Kristen. Dalam Islam mereka merasakan hubungan dengan Tuhan itu langsung dan dekat. Beberapa orang Kristen taat bahkan mereka sebagai church priest mengaku seperti itu ketika diwawancarai televisi. Allison dari North Caroline dan Barbara Cartabuka, seorang diantara 6,5 juta orang Amerika yang masuk Islam pasca 9/11, seperti diberitakan oleh Veronica De La Cruz dalam CNN Headline News, Allison mengaku “Islam is much more about peace.” Sedangkan Barbara tidak pernah merasakan kedamaian selama menganut Katolik Roma seperti kini dirasakannya setelah menjadi Muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s