Teologi Berbasis Analisa Sosial

Sebagaimana judul yang diangkat untuk tulisan ini, yakni Teologi Berbasis Analisa Sosial, sudah pasti tujuannya adalah untuk memaparkan tentang bagaimana pentingnya analisa sosial menjadi salah satu dasar dalam kita berteologi. Ini opini pribadi saya dan saya yakin bahwa tulisan ini tidak sempurna, oleh karenanya, kritik, saran, dan masukan dari pembaca (khususnya dari yang berkompeten dalam bidang teologi) sangat saya harapkan di kolom komentar. Terima kasih, selamat membaca…….

Awalnya, saya merasa heran ketika di semester 2 saya berkuliah di STT,  saya harus belajar sosiologi. Saya bertanya-tanya “apa sih hubungannya dengan teologi?”. Namun setelah belajar selama satu semester itu, saya menyimpulkan bahwa kita perlu tahu dan mengerti serta mempelajari analisa sosial agar kita dapat mengerti dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat/jemaat di mana kita berada.

Permasalahan dalam gereja tidak hanya mencakup masalah iman dan kepercayaan kepada Allah saja, namun tanpa kita sadari juga mencakup masalah sosial. Justru kadangkala masalah sosial lebih sering terjadi dan membutuhkan perhatian yang besar pula. Gereja sebagai sebuah lembaga yang mendasarkan segala sesuatunya atas dasar teologi ternyata perlu juga untuk memperhatikan dan menganalisa masalah sosial, terutama para pemimpin gereja atau gembala/pendeta. Segalanya itu harus dimulai dari dasar. Sekolah teologi sebagai dasar bagi pelayan Tuhan kelak mestinya menempatkan analisa sosial sebagai salah satu ilmu dasar yang harus ditempatkan di tahun pertama perkuliahan.

PERLUKAH KITA BELAJAR SOSIOLOGI DALAM BERTEOLOGI?

Sebagaimana yang kita ketahui selama ini, yakni sosiologi merupakan salah satu cabang dari ilmu sosial. Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai kehidupan bermasyarakat. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari sosiologi, seperti control social, struktur sosial, penyimpangan dalam masyarakat, dan sebagainya. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa sosiologi merupakan ilmu untuk analisa sosial yang tengah terjadi. Apa hubungannya dengan teologi?

Kita tidak langsung bisa melakukan sesuatu secara baik dan benar tanpa kita ketahui dasarnya terlebih dahulu. Misalnya saja, kita tidak akan bisa berjalan bahkan berlari dengan baik  jika kita tidak memulainya dengan belajar berdiri terlebih dahulu. Demikian pula dengan Teologi, teologi tidak dimulai dari kepala namun dari kaki. Kita tidak dapat belajar teologi langsung ke intinya tanpa mempelajari dasarnya terlebih dahulu. Yang kerap terjadi adalah kita terus berteologi namun melupakan analisa sosial, kita terus mempelajari dan menyebarkan doktrin-doktrin serta dogma-dogma namun kita tidak pernah menjamah kehidupan sosial. Padahal pada kenyataannya agar dapat belajar dan memahami teologi dengan benar, kita perlu memahami analisa sosial terlebih dahulu sebagai basisnya.

Kebanyakan dari kita kesulitan dalam membuat kaitan antara apa yang kita pelajari dan dengan bagaimana ilmu itu diterapkan, oleh karena itu penting bagi kita untuk mempelajari terlebih dahulu apa gejala atau permasalahan yang ada, kemudian mempelajari dari sudut pandang teologi, sehingga pada akhirnya terdapat cara penanganan yang kontekstual. Kita tidak lagi memberikan arahan yang salah karena kita sudah mengetahui apa pokok permasalahannya. Akhirnya, segala sesuatu yang kita pelajari tidak hanya berfaedah hanya selama kita belajar di sekolah teologi, namun juga dapat kita praktekkan di pelayanan nyata kita.

MENCARI KESEIMBANGAN

Kita menempatkan gereja hanya sebagai wadah kita berteologi bukan bersosial. Kita menempatkan gereja hanya sebagai The Religious Institution semata, kita tidak pernah menempatkan gereja sebagai The Social Religious Institution karena dari awalnya memang kita tidak pernah belajar analisa sosial. Gereja yang sejati tidak hanya bersentuhan dengan persoalan agama, iman, dan surga semata. Gereja harus terbuka dan mampu menyentuh kehidupan sosial bukan hanya berteologi di atas mimbar dan di sekolah teologi.

Kita seringkali mengkaitkan kehidupan orang Kristen seharusnya seperti salib, dimana garis vertikal menunjukkan hubungan kita dengan Allah dan garis horizontal mengacu kepada hubungan kita dengan sesama kita. Kita sebaiknya memiliki keseimbangan antara hubungan kita dengan Allah dan juga dengan manusia. Di satu sisi kita harus membuat relasi dengan Allah selaku Tuhan dan Pencipta kita namun kita juga memperhatikan hubungan kita dengan sesama kita.

Kita boleh berteologi dan belajar tentang Allah, namun kita tidak boleh lupa untuk memperhatikan sekitar kita. Tidak ada guna kita belajar teologi jika kita tidak mampu menerapkannya dalam hidup kita. Kita tidak dapat menunjukkan kasih kita kepada Allah tanpa melewati karya nyata kita mengasihi orang-orang yang  ada disekitar kita. Kita tidak dapat hanya berkoar-koar bercerita tentang kebaikan Allah dan janji-janjiNya kepada orang lain, jika kita tidak turut menunjukkan kepada orang itu bagaimana agar ia pun dapat menikmati kebaikan dan janji Allah itu.

MENGIKUTI TELADAN YESUS : PELAYANAN YANG AKTIF

Kecenderungan kita sebagai orang teologi adalah mendasarkan segala sesuatu atas dasar nama teologi, mengkhotbahkan berbagai macam janji Allah, mempelajari alkitab, serta hal lainnya, namun pernahkah kita meneladani teladan Yesus selama hidup dan pelayananNya?

Yesus menghabiskan waktuNya untuk melayani dan berinteraksi dengan orang-orang sekitar, menjawab berbagai kebutuhan mereka, mengajar, serta membuat berbagai macam mujizat. Kita memang tidak sama seperti Yesus. Ia sempurna, kita berdosa. Ia Allah yang menjadi manusia, kita manusia biasa. Kita tidak punya kemampuan untuk melakukan berbagai macam mujizat, namun bukan berarti kita tidak bisa mengikuti keteladanan Yesus. Kita bisa meneladani bagaimana. Kita bisa meneladani bagaimana Yesus turun langsung ketengah orang-orang yang membutuhkanNya. Ia selalu ada untuk mereka. Inilah sebuah pelayanan yang aktif.

Ironisnya, ternyata kita lebih banyak melayani secara pasif. Pengajaran kita hanya sebatas di khotbah saja. Kita masih belum mampu mengikuti teladan Yesus. Kita hanya mengajar dan bukan menggembalakan. (baca tulisan saya : Gereja yang mengajar dan tidak menggembalakan). Kita masih enggan untuk turun langsung ke jemaat, kita hanya menunggu jemaat yang datang pada kita. Akibatnya, kita tidak mengetahui apa saja pergumulan atau permasalahan yang terjadi ditengah jemaat. Pastoral kita pasif, sangat pasif. Kita hanya menunggu, mendengar, dan memberikan arahan, namun kita tidak pernah mencari sendiri apa permasalahan yang tengah dihadapi.

BERANALISA SOSIAL UNTUK MENJAWAB KEBUTUHAN DALAM BERTEOLOGI

Ini adalah poin yang sangat penting dalam belajar teologi. Analisa sosial ditempatkan terlebih dahulu daripada teologi. Kita mempelajari terlebih dahulu permasalahan keadaan sosial yang ada baru kita mencari solusinya secara teologi (dalam takaran yang tepat tentunya).

Hudson Taylor adalah seorang misionaris. Ketika ia melayani di Inggris, ia didatangi oleh seorang perempuan miskin dan anaknya yang sedang kelaparan. Taylor tahu bukan hanya doa yang tengah dibuthkan oleh perempuan itu, namun tindakan nyata, oleh karena itu Taylor memberikan uang kepada perempuan itu.

Kita tidak dapat membantu seorang miskin yang kelaparan tanpa melakukan suatu tindakan yang paling nyata untuknya. Kita tidak dapat hanya mendoakannya, menaruh rasa kasihan, dan menghiburnya dengan kata-kata teologi kita, tetapi kita harus melakukan sesuatu, misalnya memberinya makanan atau uang. Kita tidak dapat hanya mendoakan agar angka pengangguran di negeri ini berkurang, namun kita harus bertindak dan memberi solusi, kita harus memberi mereka jalan keluar, seperti memberi pekerjaan, memberi modal untuk berwirausaha, ataupun memberikan semacam pelatihan keterampilan.

Intinya, kita (orang Kristen, terutama pelayan Tuhan) tidak dapat menjawab permasalahan sosial hanya dengan berteologi, tanpa melakukan suatu tindakan nyata. Namun tentunya juga dengan tindakan nyata yang disertai dengan iman (doa).

Dengan mendasarkan analisa sosial sebagai basis awal kita berteologi tentunya membuat kita dapat mengerti apa saja kebutuhan jemaat yang kita layani, serta kita dapat menakar bagaimana takaran teologi yang tepat untuk menyikapi suatu permasalahan.

KESIMPULAN

Pelayanan yang sejati bukanlah hanya dengan mengkhotbahi orang-orang disekitar kita dengan ajaran agama atau menjejali diri kita dan orang lain dengan teologi, namun lebih dari itu, apa yang ada pada kita hendaknya mampu untuk menjawab kebutuhan yang tengah diperlukan ditengah jemaat atau msayarakat disekitar kita.

Belajar teologi bukan hanya agar kita mampu menjadi pribadi yang paham masalah agama dan kepercayaan, mengerti doktrin gereja, mengerti konsep tritunggal, konsep sakramen, dan hal-hal penting lainnya dalam ilmu teologi. Bukan juga hanya untuk mengejar gelar sarjana teologi ataupun pendeta, namun lebih daripada itu, kita belajar teologi agar kita mampu untuk memberikan jawab untuk setiap permasalahan sosial yang kita temukan berdasarkan analisa sosial serta kemudian mencari jawabnya dalam konteks teologi secara konstekstual dan relevan serta sesuai dengan kebutuhan.

Baca Tulisan saya lainnya :

One thought on “Teologi Berbasis Analisa Sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s