Renungan : Hidupku Sebagai Hadiah UntukMu, Bapa!

Sudahkah Anda merasa bahwa hidup Anda berarti? Mungkin ya, mungkin tidak. Berbagai hal yang Anda lakukan di sepanjang kehidupan Anda, dapat membuat Anda merasa berarti. Penerimaan oleh sesama, relasi yang baik dan lancar, itu juga dapat membuat Anda merasa bahwa hidup Anda berarti. Namun percayakah Anda, bahwa satu-satunya cara untuk membuat hidup Anda menjadi semakin berarti adalah dengan menyerahkan hidup Anda kepada Allah. Menyerahkan secara totalitas, bukan hanya setengah-setengah. Menyerahkan dengan tulus bukan dengan paksaan.
Menyerahkan hidup kita kepada Allah artinya kita memberikan hidup kita sebagai hadiah bagiNya, seraya berkata, “Lihat, Bapa! Aku datang padaMu dan menyerahkan hidup dan kehidupanku kedalam tanganMu sebagai hadiah atas segala hal yang telah Engkau lakukan di sepanjang hidupku!”. Ada sebuah ilustrasi yang saya kutip dari status facebook teman : Beberapa hari menjelang Natal, putri pendeta Jeff Callender yang berusia tiga tahun begitu gembira melihat banyaknya hadiah. Suatu pagi, ia memungut, memeriksa, mengoncang-goncangkan dan menebak isi setiap bungkusan. Lalu tiba-tiba, ia memungut sebuah pita merah besar yang jatuh dari salah satu bungkusan dan kemudian menempelkannya di kepalanya. Dengan mata berbinar dan senyum lebar, ia berkata kepada ayahnya, “Lihat saya, Ayah! Saya ini sebuah hadiah!”
Renungkan kata-kata anak tersebut! “Lihat saya, saya ini sebuah hadiah!” demikianlah hendaknya kita! Kita sebaiknya tidak hanya menjadi penerima hadiah-hadiah dari Allah, namun kita juga harus mau untuk menjadi sebuah hadiah bagiNya dan kemudian dengan kepolosan dan ketulusan seorang anak kecil kita berseru pada Tuhan, “Lihat Bapa, saya ini sebuah hadiah!”. Wah, mungkin Tuhan akan tersenyum bahagia ketika melihat kita datang kepadaNya.
Menyerahkan hidup kita kepada Allah bukan selalu berarti kita mengkhususkan diri kita untuk menjadi seorang pelayanNya (Pendeta, pastor). Kecenderungan kita ketika mendengar kata menyerahkan hidup kepada Allah selalu berkisar mengenai keputusan itu. Tidak selalu begitu! Apapun profesi Anda sekarang, Anda dapat menyerahkan hidup Anda kepada Tuhan. Agar dapat Ia pakai sesuai dengan rencanaNya!
Keputusan untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan bukan karena kita terpaksa atau diharuskan selaku orang yang mengaku percaya kepada Tuhan. Sekali-kali jangan pernah Anda melakukannya karena terpaksa, namun lakukanlah karena Anda menyadari akan betapa banyaknya hal-hal yang luarbiasa yang telah Tuhan karuniakan kepada Anda, disepanjang hidup Anda! Mari sebutkan satu-satu! Kesehatan, keluarga yang harmonis, usaha pekerjaan yang diberkati, hubungan yang baik dengan tetangga dan teman, nilai-nilai yang bagus ketika disekolah, jemaat-jemaat yang semakin bertumbuh imannya, daerah yang semakin maju dan makmur, dlsb.
Ah, Saudara, tidak akan ada habisnya jika kita berbicara mengenai pemberian Allah didalam hidup kita ini. KasihNya selalu baru setiap pagi dan rahmatNya besar! Tak pernah sekalipun Ia meninggalkanmu! Engkau selalu diberkatiNya dan kehidupanmu telah dirancangNya dengan sedemikian rupa jauh sebelum engkau lahir! Aduh, saudara, kurang apa Bapa kita itu? Yang selama ini bodoh ya kita, anak-anakNya. Kita lebih senang berada dalam kebohongan duniawi, mau sejahtera ya korupsi, mau cepat dapat titel ya nyogok, mau dibilang gaul ya pakai narkoba, mau yang enak-enak ya larinya ke tindakan yang masuk kategori DOSA. Tidak mau bersusah payah dan bekerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan! Padahal jika kita baca di kitab Yesaya 49:16a “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku” Luar biasakan sebenarnya? Allah telah merancang segala sesuatu kepada kita dan itu pasti.
***
Natal adalah saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan kembali mengenai anugerah serta pemberian Allah selama ini, disepanjang hidup kita. Bukan hanya merenungkan, namun juga mensyukurinya dan meresponinya dengan bertekad untuk merubah kehidupan menuju pribadi yang lebih baik.
Natal juga merupakan saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan betapa besarnya hadiah yang diberikan oleh Allah kepada kita pada hari itu. Hadiah terbesar? Ya, yakni Yesus Kristus. Ia adalah hadiah terbesar bagi kita, karena Ia datang keduania ini semata-mata untuk kepentingan manusia, yakni dalam rangka menyelamatkan manusia dari hukuman dosa dan memberi keselamatan serta kehidupan kekal bagi manusia-manusia yang percaya padaNya. Dalam rangka mewujudkan itu semualah, Ia harus melewati serangkaian hal yang sebenarnya sangat tidak layak untuk Ia alami karena Ia adalah seorang Tuhan dan Raja, dan asalnya bukan dari dunia ini namun dari sorga. Ia lahir di sebuah kandang domba, dibaringkan di palungan, ditolak di tempatnya sendiri, bergaul dengan orang-orang berdosa, dicerca dan diludahi, dikhianati, dan puncaknya adalah Ia disalibkan. Namun kesemuanya itu memiliki tujuan yang mulia, yakni menyelamatkan umat manusia.
Oleh karena itu, Natal adalah saat bagi kita untuk mengucapkan syukur kita kepada Allah bukan saja hanya karena Ia telah mengaruniakan segala sesuatu kepada kita, namun juga karena Ia telah mengirim seorang penebus bagi kita. Tanpa kelahiranNya, kita masih dibelenggu dosa, tanpa pengorbananNya, kita akan hidup dan mati dalam keberdosaan yang kekal tanpa ada harapan untuk lepas dari hukumannya. Yesaya 9:5 “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

***

Sekarang, pertanyaannya adalah “Apakah kita mau mempersembahkan hidup kita kepadaNya sebagai hadiah kita untuk kelahiranNya?”. Saya harap, kita semua mau! Tidak ada kerugian yang kita alami ketika kita menyerahkan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan!
Kini, Kristus telah lahir kedunia, segeralah untuk mengembil keputusan untuk menyerahkan hidup Anda kepadaNya, dan Ia akan lahir serta hadir di hati dan hidup Anda!
Sebuah cerita, sebuah panti asuhan dikunjungi oleh beberapa gereja. Disana, dari pihak gereja memberikan berbagai bantuan untuk panti asuhan itu dan untuk menghibur anak-anak di tempat itu dibuatlah sebuah perlombaan menghias pohon natal. Singkat cerita, seorang pendeta melihat-lihat anak-anak yang sedang sibuk menghias pohon natalnya masing-masing. Ketika sampai di depan sebuah pohon natal yang dihias oleh seorang anak perempuan, ia tertegun dan merasa heran. Apa yang membuat ia merasa heran dan bertanya-tanya? Ternyata antara hiasan-hiasan yang ada, anak tersebut meletakkan dua bayi didalam sebuah palungan. Pendeta itu kemudian bertanya kenapa ada dua bayi didalam palungan tersebut, bukankah hanya ada Yesus sendiri yang lahir saat itu. Anak kecil itu kemudian menjawab sambil berlinangan air mata, “Bapak pendeta, aku tidak punya siapa-siapa sekarang, tapi aku punya Yesus. Aku tidak punya apa-apa sebagai hadiah bagi kelahiranNya, karena aku miskin dan kecil. Oleh karena itu, aku memberikan diriku padaNya sebagai hadiah bagiNya. Ketika ada dua bayi dalam palungan ini, itu aku dan Yesus, pikirku aku dapat menghangatkan Ia dan hanya itu yang bisa ku berikan padaNya!”

Lagi-lagi kepolosan dan ketulusan seorang anak kecil menyadarkan kita untuk menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. PIKIR, PERTIMBANGKAN, DAN LAKUKAN ITU!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s