Iya Pini Mangen Ngaku Unuk Ali Jaji Ulun Luangan!

Ada kalanya disituasi tertentu, kita tidak ingin mengakui kesukuan kita yang sebenarnya. Namun ada pula saatnya, kita sendiri lupa akan  kesukuan kita. Malah seringkali kita lebih mengetahui dan tertarik untuk mempelajari kesukuan orang lain, daripada kesukuan kita sendiri. Namun, mengaku atau tidak, lupa atau ingat, kita tetap merupakan bagian dari kesukuan tersebut.

Merupakan suatu kebanggaan ketika kita berani mengakui asal dan identitas diri kita sebagai bagian dari sebuah suku, apalagi ditunjang dengan pengetahuan yang  memadai tentang suku kita tersebut, baik dari segi bahasa, sejarah, adat budaya, dan lain sebagainya. Hal itu akan membuat kita serasa menjadi “duta” dari suku kita untuk mengenalkan suku kita kepada orang lain yang belum mengenalnya. Tapi tak bisa dipungkiri juga, meskipun kita “serba tahu”, ada saja situasi yang membuat kita malu untuk mengakui dari suku mana kita berasal, malu menggunakan bahasa suku kita, dan malu untuk mengenalkan budaya kita kepada orang lain. Yang lebih parahnya lagi dan sering terjadi adalah kita menjadi bagian dari suatu suku, namun kita tidak pernah mengenal dan tidak pernah mengetahui mengenai suku kita tersebut.

Kenyataan inilah  yang terjadi kepada diriku. Ditinjau dari silsilah keluarga, aku bukan hanya anak Ma’anyan namun juga anak Lawangan.  Sialnya, aku sangat miskin pengetahuan mengenai suku Dayak Lawangan tersebut. Ironis bin tragis.  Mungkin hal ini terjadi karena memang keluarga dirumah tidak menggunakan bahasa Lawangan dalam berkomunikasi, lingkungan sekitar tempat tinggal merupakan lingkungan orang Ma’anyan, dan mungkin juga karena akunya yang kurang membuka diri untuk mengenal lebih dalam mengenai suku yang satu ini.

Dari hasil searching di mbah Google, ternyata lumayan banyak juga tulisan-tulisan yang memaparkan mengenai suku Lawangan ini. Misalnya di :

Namun karena aku sendiri sadar bahwa aku merupakan bagian dari suku Lawangan tersebut, maka aku akan berusaha untuk mengangkat nama Lawangan agar bisa dikenal dengan caraku sendiri, sama seperti bagaimana aku berusaha mengenalkan nama Ma’anyan. Meskipun mungkin pengetahuan yang aku miliki terbatas, kemampuan berkomunikasi dengan bahasa itu sama sekali nol besar, dan sumber terdekat sangat sedikit, semoga hal itu tidak menghalangi aku dalam mengenalkan Suku Dayak Lawangan kepada dunia. Amin, hehehe…

***

Suku Dayak Lawangan merupakan sebuah suku yang mayoritas bermukim di Kalimantan Tengah, terutama di Kabupaten Barito Timur. Di daerah asal saya sendiri, yakni Ampah, orang Lawangan bermukim terutama di Laber dan Moloh, di tengah-tengah komunitas mereka sendiri namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa mereka bisa juga tinggal berbaur dengan suku lain. Lawangan kadangkala dikaitkan dengan Ma’anyan, namun kalah terkenal jika dibandingkan dengan Ma’anyan. Padahal dua suku ini berada dalam satu organisasi suku yakni “DUSMALA” (Dusun, Ma’anyan, dan Lawangan).

Beberapa subetnis suku Dayak Lawangan adalah

  1. Suku Dayak Benuaq
  2. Suku Dayak Bawo
  3. Suku Dayak Bentian
  4. Suku Tamboyan

Sebagaimana layaknya mata pencaharian suku Dayak secara umum, mata pencaharian orang Lawangan adalah bertani, berkebun karet, berkebun kopi, berternak, dan berburu. Dari segi agama, masih ada yang menganut kepercayaan dahulu yakni kaharingan, namun ada juga yang pindah ke agama Kristen dan Islam.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Lawangan, dimana saya sendiri mengakui jika bahasa ini adalah bahasa yang sulit. Dimana adanya penekanan-penekanan khusus dalam mengucapkannya dan sulitnya untuk menulis kata-kata tersebut. Selain itu, dari setiap subetnis suku Lawangan tidak semua kata-kata itu sama, misalnya ada yang menggunakan kata “kamali” (kami) namun ada juga yang menggunakan kata “oit” (Lawangan Bawo). Hal ini membuat saya merasa bahasa ini lumayan sulit untuk dipelajari. Disini saya cantumkan beberapa contoh kata dalam bahasa lawangan yang saya ketahui :

Indonesia

Lawangan

Asal mula

Sentume

Benar

Bone

Hari

Olo

Ingat

Kingat

Laki-laki

Upo

licin

kolew

Muda

Tia

Nama

Aran

Perempuan

Bawe

Saya

Ap

Tua

Tuha

Ironisnya sekarang, hanya sebagian dari suku dayak  Lawangan yang masih konsisten dalam menggunakan bahasa asli mereka. Kebanyakan entah karena merasa malu atau memang karena tidak bisa, maka lebih memilih menggunakan bahasa Ma’anyan, Banjar, atau Bahasa Indonesia. Hal ini secara otomatis membuat bahasa Lawangan menjadi hanya dikenal oleh sebagian saja.

***

Kam Dayak Luangan, adat kam yo iro wara eso unik. Bahasa kam iro bowen bone. Kisah-kisah kam yo iro sentume dian na’an merensia, sentume Regan Tatau Menteledok Loyang Danum, ali kisah Ayus, Intong, ali Tia Pelule iro menarik bone. Da iro, IYA PINI MANGEN NGAKU UNUK ALI JAJI ULUN LUANGAN!

(Artinya kira-kira begini : Kalian Dayak Lawangan, adat kalian yakni wara sangat unik. Bahasa kalian itu bagus sekali. Cerita-cerita kalian tentang sejarah asal mula manusia, sejarah Regan Tatau Menteledok Loyang Danum, dan cerita tentang Ayus, Intong, dan Tia Pelule itu sangat menarik. Oleh karena itu, jangan malu mengaku diri dan menjadi orang Lawangan!)

2 thoughts on “Iya Pini Mangen Ngaku Unuk Ali Jaji Ulun Luangan!

  1. “sejarah Regan Tatau Menteledok Loyang Danum, dan cerita tentang Ayus, Intong, dan Tia Pelule itu sangat menarik” dan pada ulun Paser juga sangat mengenal cerita-cerita itu,,, hanya saja pada “Tia Pelule” dikenal oleh orang Paser sebagai “Pea Pelulo”,,, mgkin hanya faktor sedikit perbedaan pada bahasa/penyebutan. Bahasa Paser juga dikelompokkan dalam bahasa Luangan, yakni sangat memilikii kesamaan dengan Benuaq, Bentiant, …
    Salam kenal dan salam persahabatan dari kami ulun Paser yang bisa dikatakan bagian dari bangsa Luangan juga…

    ~Tabe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s