Indonesia, Transformasi, dan Pemuda

Istilah “transformasi” dapat memiliki makna yang berbeda tergantung dari bidang apa kita memandangnya. Walaupun demikian dapat diambil kesimpulan bahwa transformasi adalah suatu perubahan yang diikuti dengan proses dari situasi yang satu menuju yang lain. Berbicara mengenai perlu tidaknya dilakukan transformasi didalam bangsa ini, tentunya itu sangat perlu. Negara ini akan tetap terpuruk keadaannya tanpa ada kemajuan, yang parahnya lagi dikuatirkan malah mengalami kemunduran. Dalam rangka transformasi di Indonesia, tentunya ada banyak hal yang ingin diwujudkan demi terciptanya kemajuan negeri ini. Namun, tidak akan ada kemajuan jika hanya menunggu hadirnya perubahan tersebut, kita harus bangkit dan bergerak aktif untuk memulai gerakan perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.

Perubahan seperti apa yang kita harapkan? Inilah beberapa perubahan yang diperlukan dewasa ini. Hal utama adalah bagaimana menegakkan, menghayati, dan melaksanakan falsafah Pancasila didalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam bidang pendidikan, kita perlu melakukan peningkatan kualitas pendidikan. Tidak ada lagi istilah membeli ijazah atau gelar sarjana, semuanya harus benar-benar bersih agar dapat tercipta SDM berkualitas dan berpendidikan yang dapat diandalkan. Selanjutnya adalah dalam bidang ekonomi, bagaimana menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran, salah satunya dengan berwirausaha. Perubahan lain adalah dalam bidang penegakan hukum dan HAM, tidak ada kata toleransi bagi yang bersalah dimata hukum. Transformasi di Indonesia seharusnya tidak hanya mengikuti perubahan, namun dapat berada dalam perubahan, hingga akhirnya kita dapat memimpin perubahan itu sendiri. Untuk itulah, bangsa ini sangat memerlukan adanya pemimpin transformasi yang berkualitas, jujur, dan memiliki sikap takut akan Tuhan.

 Pertanyaannya apakah hubungan pemuda dengan transformasi?

Kembali di bulan Oktober ini kita memperingati sebuah hari yang bersejarah yakni hari sumpah pemuda pada 28 Oktober. Kembali kita diingatkan akan isi sumpah pemuda, disadarkan apa fungsi dan peranan kita sebagai pemuda, dan terkadang kita juga membuat komitmen-komitmen baru di hari ini. Seberapa besar sudah bakti dan karya kita untuk bangsa ini? Mungkin masih setitik kecil jika dibandingkan dengan yang telah diberikan oleh negara ini bagi kita atau mungkin masih belum ada yang bisa kita lakukan bagi negara ini.

Bisakah kita menjadi seorang pelaku transformasi? Bahkan menjadi seorang pemimpin transformasi? Jika memang mampu, mengapa tidak? Mulailah dari hal-hal kecil, seperti bersikap jujur, bersikap toleran dengan sesama, ikut serta aktif dalam kegiatan yang bermanfaat dan positif, belajar secara giat. Jika kita bukan orang yang jenius/pintar secara intelek, tapi kita pasti adalah orang yang punya kelebihan di bidang lain.

Jika ada orang yang berkata kepada kita “Tau apa kamu, kamu tu masih muda, jangan ikut campur!” atau tidak semua orang bisa menghargai setiap usaha yang kita lakukan. Jangan menyerah, tetaplah menjadi seorang transformator dalam keseharianmu. Jadikan diri kita sebagai generasi yang berbeda dari generasi yang sebelumnya. Lakukan pembaruan di dalam setiap aspek kehidupanmu. Dimana ada hal-hal yang masih kuno, monoton, dan tidak menarik, beranikanlah diri untuk memberikan sedikit nuansa perubahan. Mungkin kita sendiri memandang kecil apa yang kita lakukan itu, tetapi transformasi tidak hanya muncul dari hal-hal besar saja, hal-hal kecil pun bisa menjadi awal mula suatu transformasi besar!

So, Bagi semua Young Generation, Tunjukkan semangat sumpah pemudamu dengan membawa transformasi dan menjadi transformator dalam keseharianmu!

Selamat melaksanakannya dan Zhu ni xingfu kuaile!

3 thoughts on “Indonesia, Transformasi, dan Pemuda

  1. 23. Guru-guru yang baru dilantik atau novis juga perlu bersedia dengan pengetahuan dan kemahiran supaya dapat mengharungi perubahan persekitaran yang dinamik. Guru perlu mengajar murid untuk mempraktikkan ilmu dan mengaplikasikan serta mencetuskan idea baharu. Bagi menghasilkan modal insan yang setanding dengan aras antarabangsa sekurang-kurangnya pada tahap ‘kategori tiga teratas’ dalam sistem pendidikan terbaik dunia, maka profesion keguruan perlu ditransformasikan. Selaras dengan PPPM 2013-2025, Institut Pendidikan Guru (IPG) perlu membawa perubahan melalui penggunaan prinsip Strategi Lautan Biru dengan mencipta pasaran atau produk yang belum ada saingan, menjadikan saingan tidak relevan, fokus kepada bukan pelanggan sedia ada dan mencipta serta meneroka permintaan baharu. Dengan perkataan lain, IPG perlu mengorak langkah memperluaskan pasaran latihan perguruan ke luar negara dan secara tidak langsung melebarkan kebolehpasaran graduan IPG sendiri. Sudah sampai masanya IPG menghasilkan kurikulum pendidikan guru bertaraf antarabangsa supaya latihan perguruan dapat diperluaskan dengan menawarkan latihan perguruan kepada negara dunia ketiga.

  2. 23. Guru-guru yang baru dilantik atau novis juga perlu bersedia dengan pengetahuan dan kemahiran supaya dapat mengharungi perubahan persekitaran yang dinamik. Guru perlu mengajar murid untuk mempraktikkan ilmu dan mengaplikasikan serta mencetuskan idea baharu. Bagi menghasilkan modal insan yang setanding dengan aras antarabangsa sekurang-kurangnya pada tahap ‘kategori tiga teratas’ dalam sistem pendidikan terbaik dunia, maka profesion keguruan perlu ditransformasikan. Selaras dengan PPPM 2013-2025, Institut Pendidikan Guru (IPG) perlu membawa perubahan melalui penggunaan prinsip Strategi Lautan Biru dengan mencipta pasaran atau produk yang belum ada saingan, menjadikan saingan tidak relevan, fokus kepada bukan pelanggan sedia ada dan mencipta serta meneroka permintaan baharu. Dengan perkataan lain, IPG perlu mengorak langkah memperluaskan pasaran latihan perguruan ke luar negara dan secara tidak langsung melebarkan kebolehpasaran graduan IPG sendiri. Sudah sampai masanya IPG menghasilkan kurikulum pendidikan guru bertaraf antarabangsa supaya latihan perguruan dapat diperluaskan dengan menawarkan latihan perguruan kepada negara dunia ketiga.

  3. Posisi seorang mahasiswa secara sederhana dapat di gambarkan sebagai sosok seseorang yang barada di tengah-tengah level. Ketika mahasiswa berperan di masyarakat meka menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri, di kalangan intelektual seorang mahasiswa juga dianggap berada diantara mereka. Dengan kata lain keberadaan mereka (mahasiswa) berada di tengah-tengah level, apapun yang di lakukan oleh mahasiswa dalam keikut sertaannya untuk merekayasa serta menstranformasikan kebudayaan mempunyai nilai strategis dan esensial dalam proses pendewasaan serta perubahan social yang terjadi dilingkungan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s