Wŏ Zhèngzài Xuéxí Hànyŭ

Lama gak posting ngalor ngidul kaya dulu lagi. Kangen juga sama writing style-ku yang dulu. Ceplas-ceplos, ngalor-ngidul, kesana-kemari, kanan-kiri, maju-mundur, tabrak segala titik koma. Ah, Akhir-akhir ini postingan blog ini kayanya serius terus, mungkin karena blog ini sudah berusia 3 tahun lebih dan juga karena saya sudah berstatus sebagai maha-nya para siswa. Mbuh, gak ada hubungannya…. Ya, sudahlah. Dari berpanjang dan berlebar, postingan kali ini ngalor ngidul wae….

Setiap hari kita selalu melakukan komunikasi dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Ketika kita melakukannya, hal yang paling utama kita gunakan adalah “bahasa”. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa bahasa memiliki posisi yang sangat krusial dalam berkomunikasi. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ada banyak bahasa di dunia ini, mulai dari bahasa daerah sampai dengan bahasa nasional. Satu negara saja bisa memiliki ratusan bahasa, salah satunya Indonesia. Selain bahasa Indonesia, ada bahasa-bahasa daerah (suku). Ketika kita berbicara dengan orang yang memiliki bahasa yang sama dengan kita, tentunya kita tidak mendapatkan kesulitan yang besar. Kita dapat berbicara dengan mudah dan dapat memperkecil resiko kesalahpahaman. Tetapi ketika kita harus berbicara dengan orang-orang yang berasal dari negara yang berbeda dengan bahasa yang berbeda pula dengan kita, mungkin saja hal ini akan menjadi suatu kesulitan ketika kita tidak memiliki kemampuan untuk berbicara di dalam bahasa lain.

Berawal dari hobbi menonton film-film bergenre action, terutama film-film kungfu berbahasa mandarin (terutama film-filmnya Jackie Chan, serta sederet aktor Chinese lainnya seperti Jet Li, Andy Lau, Stephen Chow, Donny Yen, Nicholas Tse, Jay Chou, dan lain-lain) membuat saya menjadi tertarik untuk belajar bahasa yang satu ini. Ditambah lagi dengan hobi baru saya, yakni mendengarkan lagu-lagu mandarin, keinginan untuk belajar bahasa ini semakin menggebu-gebu. Weleh😎 . Hingga akhirnya saya pun memutuskan untuk mengisi tahun 2014 ini dengan serius mempelajari bahasa ini. Yah, meskipun secara otodidak alias belajar sendiri. Karena jikapun saya mengambil kursus, mungkin saja saya tidak bisa membagi waktu antara kuliah dan kursus. Alhasil, saya pun rela jalan kaki ke Gramedia serta merelakan “sang fulus” terbang demi membeli kamus dan buku belajar bahasa Mandarin.

Mempelajari bahasa ini lumayan sulit. Jika dibandingkan dengan bahasa Jepang yang pernah saya pelajari semasa SMA, mungkin bahasa Jepang lebih mudah dibandingkan bahasa Mandarin. Tentu saja kesulitan yang sangat mencolok dari segi cara membacanya. Untunglah saya memilih buku yang dilengkapi dengan CD Audio Listening. Tapi tetap saja saya merasa kesulitan. Hehehe….

Belajar bahasa mandarin memang susah. Setiap hari, saya mewajibkan diri sendiri untuk menghafal beberapa kata baru. Namun meskipun hanya menghapal pinyin dan artinya saja (hanzi tidak saya hapalkan dulu), saya membutuhkan waktu yang lumayan lama. Hampir satu bulan belajar, baru sekitar 50 kata yang saya hapal. Hufh, rumit. Apalagi jika melihat pada struktur kalimat atau tata bahasanya, yang sudah pasti berbeda dengan bahasa Indonesia. Weh, mumet! Tapi meskipun demikian saya tetap merasa jika bahasa mandarin sangat menarik untuk dipelajari.

Impian ku, suatu saat nanti, sebagaimana saya bisa mengerti dengan mudah kalo nonton film atau mendengarkan lagu yang berbahasa Inggris, demikian juga dalam hal bahasa mandarin. Yah, tidak apa-apa lah setiap hari ke China lewat bahasanya, suatu hari nanti “mungkin” diri ini bisa juga berada di sana. Akkayyahahahahh, One Day…. Cemungut!!!

Nĭ hăo! Wŏ jiào Lìyà. (Halo! Nama saya Lia)

Wŏ zhù zài Banjarmasin (saya tinggal di Banjarmasin)

Dànshì, Wŏ bùshi zài nālĭ chūshēng de. (Tapi, saya tidak lahir di sana)

Wŏ shì Ampah rēn. (saya orang Ampah)

Wŏ shì teologi xì dì sì gè xuéqï de xuéshēng (saya adalah siswa semester 4 jurusan teologi)

Jīnnián Wŏ Zhèngzài xiăngfă Xuéxí Hànyŭ (tahun ini saya sedang berusaha belajar bahasa Mandarin)

Suīrán xué hànyŭ bĭ jiào nán, (walaupun bahasa mandarin agak susah,)

dànshì wŏ juéde hěn yŏuyìsi. (tapi saya merasa Bahasa Mandarin sangat menarik.)

Xièxie (terima kasih).

One thought on “Wŏ Zhèngzài Xuéxí Hànyŭ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s