Cerpen : X-3-ME

X-3-ME

     “X-3-ME”, bacanya extreme alias ekstrim ya. Please, jangan dibaca eks tri me atau eks tiga me. Gawulll dikit gitu loh…..

By the way, sore ini benar-benar sore yang X-3-ME bagiku. Bayangkan saja, berkendara tanpa lampu. Hanya mengandalkan cahaya dari layar HP. Layar, lho, layar. Iya, cahaya layar, bukan cahaya senter lho, layar HP…. paham kan? Ck, kalo gak paham, ya udah, aku maklum… Itu tuh kalau bahasa gawullnya itu disebut screen. Hm, masih bingung? Monitor-nya HP!

Nah, malah semakin ngawur. Sudahlah, sampai mana tadi? Oh iya, sampai situ ya. Ya, jadi begitulah, menempuh jarak yang tidak bisa dikatakan dekat dengan bermodalkan cahaya HP. Semakin menjadi X-3-ME, karena jalan yang dilewati gak 80% mulus. Artinya masih ada banyak yang rusak. Semakin klop lagi, karena hampir 60% jalanan adalah kawasan sepi penghuni alias masih berupa hutan belantara –astaga, kata-katanya berlebihan banget. Well, bukan hutan sih, tapi tanah yang gak dikelola oleh pemiliknya –itu pun kalau ada pemiliknya– sehingga ditumbuhi oleh berbagai macam tumbuh-tumbuhan, baik yang tumbuh ke atas, menjalar, merayap, bla, bla, bla…

“Tuhan, tolong aku.”

     Tiada satu dapat menghiburku,

     Tiada s’orang dapat menolongku,

     Hanya Yesus jawaban hidupku…

“Tuhan, aku takut….”

      Bersama Dia hatiku damai

     Bersama Dia hatiku tenang

Ya, hanya itu yang kuucapkan di sepanjang jalan menuju ke rumah. Hanya itu juga lagu yang kuulang-ulang, bahkan aku tidak tahu apakah lagu tersebut benar atau salah liriknya –kuakui sebagian malah kukarang sendiri supaya sesuai konteks, akhh. Aku tidak memikirkannya lagi, yang ada di dalam pikiranku hanyalah Tuhan pasti menolongku –meskipun kecepatan motor hampir 80 Km/jam.

Takut, ya, aku takut. Takut yang berlebihan sampai-sampai tubuhku gemetaran. Apalagi ketika ingat bahwa besok aku harus memimpin ibadah Minggu dan juga sekaligus membawa perjamuan kudus. Sempat juga berpikir, kalau malam ini terjadi sesuatu, gimana besok? Tapi, sekali lagi aku yakin akan kuasa Tuhan.

Mobil dan motor yang sesekali melintas memang tidak banyak membantu malah membuatku merasa takut. Lho, kenapa? Ya, karena pikirku siapa tahu mereka tidak bisa melihat cahaya Hp-ku, takut ketabrak, takut ini dan itu. Tidak terhitung berapa banyak lubang yang dengan suksesnya kutabrak. Tapi puji Tuhan, akhirnya bisa juga sampai rumah, meskipun kepalaku rasanya sakit sekali dan tubuhku gemetaran. Begitu sampai di rumah, satu-satunya yang segera kulakukan adalah merebahkan diri di atas tempat tidur dan berdoa, berterima kasih kepada Tuhan.

    Bersama Dia hatiku damai

     Walau dalam lembah kekelaman

     Bersama Dia hatiku tenang

     Walau hidup penuh tantangan

     “Tuhan, tadi itu luar biasa X-3-ME, tapi Engkau dan pertolongan-Mu adalah super maha X-3ME. Thank you, Lord. Aku masih diberi kesempatan untuk hidup.”

     Bersama Dia pulangku aman

     Meski menembus kegelapan

     Bersama Dia diriku s’lamat

     Meski hanya pakai cahaya hp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s