Eksistensi Pluralitas dalam Konteks Indonesia, Berkah atau Musibah?

UntitledAda beberapa kata yang seringkali di-”sama dengan”-kan dengan kata pluralitas, meskipun artinya mungkin saja sedikit berbeda. Kata-kata tersebut antara lain adalah kemajemukan, multi, heterogen, jamak, dan lain sebagainya. Semua kata ini pada dasarnya merujuk pada suatu maksud, yakni untuk menunjukkan suasana yang beragam, tidak tunggal dan lebih dari satu.

Pluralitas mencakup banyaknya agama, suku, budaya, adat, bahasa, gaya hidup dan lain sebagainya di suatu tempat. Terutama dalam konteks Indonesia, sangat mustahil untuk menutupi keberadaan pluralitas. Eksistensi pluralitas senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat di Indonesia. Setiap waktu, selalu terjadi interaksi dan perjumpaan dalam kerangka pluralitas tersebut. Di suatu daerah yang menjadi warga di sana tentunya ada warga asli dan warga pendatang. Di tempat yang sama pastinya akan ada berbagai macam bahasa, adat, dan agama yang berbeda.

Daerah asal penulis sendiri adalah sebuah daerah yang memiliki tingkat pluralitas yang tinggi. Warga asli adalah orang-orang dari suku Dayak Ma’anyan dan Dayak Lawangan. Sekarang sudah ada banyak warga pendatang yang tinggal di sana, seperti dari Suku Jawa, Batak, Madura, Dayak Ngaju, Banjar, Flores, dan lain sebagainya. Ditilik dari sudut pandang pluralitas agama, di sana ada pemeluk Agama Protestan, Katolik, Islam, Hindu, dan Kaharingan. Dari segi pluralitas bahasa, tentunya bahasa yang dipakai sangat beragam, tergantung dari siapa yang berbicara dan kepada siapa ia berbicara. Dalam pandangan penulis, ada banyak hal yang membuat Ampah menjadi daerah yang memiliki tingkat pluralitas tinggi di Kabupaten Barito Timur. Ini baru contoh dari sebuah kelurahan kecil di pedalaman Kalimantan Tengah. Apalagi jika kita berbicara mengenai masalah pluralitas pada tataran se-Indonesia. Tentunya akan ada banyak bentuk pluralitas-pluralitas lain yang akan kita temui.

Pluralitas bukan sekedar apa yang bersifat terlihat, seperti agama, budaya, atau seperti yang telah dinyatakan dalam contoh tadi. Pluralitas itu pada hakikatnya juga menyangkut pada bagaimana pemikiran, filosofi, dan mentalitas. Setiap orang pasti akan memiliki pemikiran dan filosofi yang berbeda tentang sesuatu. Jadi, dari semua ini ada satu hal yang sangat mendasar mengenai eksistensi pluralitas yakni pluralitas bukanlah sesuatu yang asing. Sadar atau tidak, kita senantiasa hidup di dalam pluralitas.

Dalam rangka menikmati eksistensi pluralitas, sebagian orang beranggapan bahwa suasana pluralitas ini adalah suatu berkah. Dianggap sebagai berkah karena dengan adanya pluralitas, mereka bisa merasakan bagaimana hidup bersama dengan orang lain yang berbeda. Melalui interaksi dan perjumpaan dengan orang yang berbeda dari dirinya, seseorang dapat mengasah rasa toleransi dan menghargai perbedaan.

Serangkaian sikap dan pemikiran positif tersebut tidak akan dirasakan oleh orang yang menganggap pluralitas sebagai musibah.  Sikap fanatisme terhadap apa yang menjadi dirinya, membuat ia tidak bisa menerima segala sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Ia tidak bisa berinteraksi dengan setiap bentuk kepluralitasan yang ada diluar dirinya tersebut. Pluralitas adalah musibah karena dianggap bisa menghancurkan apa yang ia miliki. Eksistensi pluralitas ditekan dengan sedemikian rupa supaya dirinya tidak merasa terancam.

Seringkali terdengar upaya oknum, lembaga, ataupun pemerintah di suatu wilayah tertentu yang mengupayakan homogenisasi. Baik itu dengan alasan agama, budaya, bahasa, ataupun dasar lainnya. Hal ini setidaknya bisa dimaklumi karena memang setiap orang memiliki cara dan perspektif yang berbeda dalam melihat suatu realitas. Termasuk dalam hal memandang eksistensi pluralitas. Ada yang merasa bersyukur, namun juga ada yang merasa terancam. Terlepas dari itu semua, dalam konteks Indonesia, upaya menekan pluralitas atau upaya homogenisasi, segencar apapun dilakukan, pastinya tidak akan menghasilkan hasil yang memuaskan. Mengapa? Karena pluralitas adalah Indonesia dan Indonesia terdiri dari berbagai macam pluralitas. Pluralitas menyangkut soal mentalitas, identitas dan karakter masyarakat Indonesia. Jika sampai pluralitas hilang, heterogen menjadi homogen, jamak menjadi tunggal, maka kita telah kehilangan karakter nasional kita.

Apakah pluralitas itu berkah? Atau malah sebagai suatu musibah? Tergantung dari kepekaan kita masing-masing dalam memandangnya. Semakin peka kita, semakin mampu kita menghargai kepluralitasan tersebut. Namun sikap yang terbaik tiada lain adalah menghargai apa yang ada diluar diri kita seraya tetap mempertahankan apa yang ada di dalam diri kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s