Cerpen : Koki dan “Teman”-nya

Alkisah, di suatu tempat yang nun jauh di sana. Jangan ditanya nama tempatnya, karena ini terjadi di negara antah berantah. Ada seseorang yang memiliki teman. Temannya ini adalah koki terbaik yang ada di tempat itu.

Setiap hari, si teman meminta supaya dapur menghidangkan makanan yang enak, lezat dan bergizi. Sang koki pun mati-matian berupaya untuk menghasilkan makanan yang enak, lezat, dan bergizi tersebut. Setiap waktunya, ia curahkan untuk menghasilkan makanan tersebut. Ia membersihkan bahan-bahan untuk membuat makanan dengan sebersih-bersihnya, memotongnya dengan sedemikian rupa, membentuk dengan sepenuh hati, memasak dengan sukacita, dan menatanya dengan rasa bangga.
Masakan demi masakan pun selesai dimasak oleh sang koki tersebut. Masakan tersebut pun dihantarkan kepada teman yang hanya menunggu di ruang tamu. Sang teman pun segera mencicipi masakan sang koki. Kesan pertama, “lezat”. Kesan kedua, “memang bergizi”. Kesan ketiga, “ini proses memasak yang pas dan tepat”. Pesan terakhir, “tolong buat lagi!”
Sang koki tersenyum bangga, karena tampaknya sang teman sangat puas dengan hasil kerjanya. Dipandanginya setiap masakan yang telah dimasaknya, dibayangkannya bagaimana proses pembuatan yang sangat rumit. Tidak semua bahan mudah dibersihkan. Sebagian harus direbus cukup lama supaya bisa lunak. Sebagian sangat mudah hancur dan sulit untuk dibentuk. Terkadang terlalu hambar, malah ada yang asin sekali. Namun semua kerja keras sang koki tersebut akhirnya terbayar dengan pujian dari sang teman. Sekarang, pekerjaan koki pun bertambah, sang koki harus membuat lagi masakan-masakan lezat, enak, dan bergizi itu. Lebih dan lebih lagi!
Dengan penuh semangat, sang koki terus berupaya untuk membuat berbagai macam masakan. Sementara itu, sang teman setiap hari mengundang banyak tamu untuk mencicipi masakan sang koki. Pada awalnya, sang koki masih bisa mempertahankan kualitas rasa dan gizi dari masakannya. Ia masih bisa mengimbangi jumlah permintaan sang teman dan tamu-tamunya.
Hingga akhirnya, masalah pun muncul. Suatu hari, bahan masakan di dapur habis. Stok sayur dan daging di dalam kulkas sudah tidak bersisa lagi. Jangankan itu, garam, gula, atau bahan penyedap lainnya pun tak ada secuil pun.
Sang koki pun dengan tergopoh-gopoh mendatangi si teman yang tengah berbincang dengan tamu-tamunya. Sang koki melaporkan persediaan dapur yang sudah habis. Ketika si teman mendengar, ia berkata, “Tenang, sahabat. Belilah dulu dan masaklah. Kami bisa, kok, menunggu…” Si koki merasa tenang. Ia pergi ke pasar dan mencari berbagai bahan masakan. Setelah selesai berbelanja, ia bergegas pulang. Ia segera memasak dengan penuh semangat. Hingga akhirnya, berbagai masakan telah matang dan siap untuk dihidangkan. Si koki tersenyum puas, seraya membayangkan wajah puas dari teman dan tamu-tamunya.
Si koki kemudian masuk ke ruang tamu seraya membawa masakan-masakannya. Namun apa yang terjadi, ia terkejut dengan keadaan di ruang tamu. Ada banyak masakan telah terhidang. Ya, telah terhidang, di sana, di sini, dimana-mana. Sebagian tamu tengah melahap makanan tersebut, demikian juga si teman. Si koki kemudian bergegas mendatangi temannya dan bertanya dari mana si teman mendapatkan semua masakan ini. Si teman hanya menjawab, “Aku dapatkan dari koki lain. Mereka tampaknya berani memberi lebih dari apa yang kamu beri selama ini. Mengapa tidak aku terima saja tawaran ini?”
Sang koki terdiam, tubuhnya menjadi lemas. Hanya gara-gara persediaan dapur habis dan lambat terbeli, ia dikhianati!

***Ini kisah nyata atau fiksi semata, Anda tersungging atau tersinggung, Entahlah, karena saya adalah “penulis” yang terkadang suka mencampuradukkan nyata dan fiksi supaya anda tersinggung dan tersungging!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s