Save Our Nature, as Soon as We Can

DSC_0000296 Bencana kabut asap tengah menjadi trending topic akhir-akhir ini. Ditunjang dengan kemarau panjang, dimana nyaris hujan tak pernah turun, memang membuat hati menjadi miris. Ada banyak tanggapan dari masyarakat berkenaan dengan bencana ini. Ada yang mempersalahkan pemerintah, sesama masyarakat, dan lain-lain. Namun, siapapun yang salah atau benar, tampaknya bencana kabut asap pun tidak kunjung reda.

Semakin sedih lagi ketika mendengar kabar, bahwa di kampung, juga terjadi kebakaran. Di tempat tinggal saya, Jl. Songko Baru atau Jl. TVRI, Ampah. Ada banyak kebun karet yang terbakar. Penduduk berjaga-jaga siang dan malam untuk mengamankan kebun dan rumahnya. Dimana ada titik api, disana mereka memadamkan api. Bahkan rela bermalam di kompleks pekuburan untuk menjaga agar api tidak ke arah kuburan. Mungkin hal yang sama juga terjadi di daerah lain. Apapun penyebabnya, baik ketidaksengajaan atau kesengajaan, ini memberikan kerugian yang sangat besar bagi penduduk yang mata pencahariannya adalah menyadap karet. Selain itu juga, kebakaran ini memberikan sumbangan yang besar bagi kabut asap di Ampah.

DSC_0000297

Mundur sedikit, sebelum bencana kabut dan asap ini dan tentunya bukan rahasia umum, yakni terjadi pengeksloitasi alam. Batu bara dikeruk dari pusat bumi dan meninggalkan lubang-lubang yang menganga. Pepohonan ditebang, sungai dicemari. Ah, ada banyak perbuatan manusia yang membuat alam menjadi objek pemuasan hasrat manusia untuk menguasai bumi.

Kembali ke tempat tinggal saya, sebelumnya hanya ada kebun karet yang dikelola secara konvensional oleh para penyadap karet. Namun sekarang, sudah ada perkebunan sawit. Banyak masyarakat yang entah terpaksa atau sukarela menjual tanah (kebun karet) mereka kepada perusahaan sawit. Setelah itu, dengan bangganya memperbudak diri kepada perusahaan tersebut untuk bekerja di tanah sendiri. Ya, tanah sendiri yang ditukar dengan setumpuk uang. Sekarang, perkebunan sawit itu sudah meluas di tempat tinggal saya. Satu yang membuat saya bangga, keluarga saya tidak (entah tidak atau belum, namun semoga tetap tidak) menjual tanah (kebun) kami kepada pihak perusahaan. Kebun kami masih berada di tengah perkebunan sawit, dengan segala konsekuensinya.

Ketika listrik masuk ke Jl. TVRI, memang ini menggembirakan. Setelah sekian lama, dimana orang-orang di seluruh Ampah sudah mendapat listrik, kami masih harus menggunakan mesin generator dan lampu teplok. Tentunya kami sangat gembira. Tapi konsekuensinya sangat menyedihkan. Pepohonan yang ada dipinggir jalan harus ditebang. Pokoknya sepanjang beberapa meter dari pinggir jalan, harus ditebang. Terakhir, bertahun-tahun yang lalu ada pembuatan irigasi. Ini benar-benar merugikan masyarakat dimana ada sekian banyak pepohonan yang ditebang. Masyarakat harus rela untuk memberikan tanahnya kepada pemerintah demi jadinya irigasi. Meskipun sebenarnya bukan memberikan, tetapi menjual. Namun saya masih ingat, menjual dengan harga yang kurang pas. Sekarang, entah jadi apa irigasi itu. Ditinggalkan. Mungkin sudah selesai, ya? Atau uang proyeknya kurang? Saya hanya berharap itu jadi hutan lagi. Semoga pohon-pohon akasia dan karet yang tumbuh di sepanjang irigasi itu tumbuh besar dengan subur.

Apa yang hendak saya ungkapkan dalam tulisan ini, hanyalah curahan hati. Saya tidak mengecam pelaku pembakaran hutan, para penjahat alam, perusahaan sawit dan batubara, pemerintah yang kurang memberi perhatian, masyarakat yang tergiur oleh uang, dan sebagainya. Saya tidak mengecam, saya tidak mengkritik. Saya marah. Saya menulis ini dengan hati yang marah dan mata yang berkaca-kaca. Saya menangis untuk alam ini.

Saya dibesarkan di daerah pedalaman, dimana pepohonan. Saya terbiasa berada di tengah-tengah hutan, entah memancing, menyadap karet, bermain, mencari kayu bakar, mencari buah amusisin, belinju, rambutan hutan, sayur puka, dan lain-lain. Saya besar bersama alam. Saya mengecap kehidupan dari setiap tetesan getah karet, sampai sekarang pun. Tetesan getah karet itu yang menjelma menjadi uang kiriman tiap bulannya. Ketika saya pulang kampung, memasuki jl. Songko Baru, ada kesedihan dan kekuatiran yang terbersit. Mungkin 10 atau 20 tahun lagi, tidak ada pepohonan yang tersisa.

Please, save my nature, save your earth, save our life, as soon as we can. Please…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s