Pemikiran Karl Marx Tentang Milik Pribadi

Jika kita melihat pemikiran-pemikiran Karl Marx secara teliti, maka kita akan menemukan suatu hal yang menarik, yakni Marx tidak hanya berpikir untuk mengartikan dunia melewati jalan pikiran dan persepsinya sendiri, melainkan ia ingin mengubah dunia melalui pandangannya.

Ketika para filsuf pendahulunya hanya memikirkan tentang bagaimana pekerjaan atau produksi itu, Marx lebih menekankan pada masalah yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Keadaan disekitarnya pada zamannya menuntut ia untuk berpikir mencari perubahan yang lebih baik. Sehingga tidaklah mengherankan jika pemikiran-pemikiran Marx hadir sebagai suatu protes, koreksi, dan sekaligus solusi untuk keadaan dunia di zamannya saat itu.

     Lahirnya pemikiran Marx tentang milik pribadi disebabkan karena kondisi di zamannya yang mana sistem kapitalisme sedang berkuasa. Sebuah sistem yang menurut Marx, tidak ada keseimbangan yang terjadi, kapitalisme menyengsarakan kaum buruh dan menyejahterakan kaum kapitalis karena atas dasar kepemilikan.

     Sesuai dengan penelitian Marx tentang kepemilikan, masyarakat dari waktu ke waktu terproses dengan sedemikian rupa sehingga membentuk perubahan-perubahan yang sangat mencolok dalam masyarakat. Setidaknya menurut Marx ada tiga bentuk masyarakat yang tercipta sebelum lahirnya kapitalisme. Bentuk pertama adalah masyarakat primitif dimana alat produksi merupakan alat milik bersama dan dimasyarakat ini tidak dikenal istilah milik pribadi. Dari masyarakat primitif berkembang lagi menjadi masyarakat perbudakan yang hadir karena persaingan antara pemilik alat produksi dan pemilik tenaga kerja. Selanjutnya, terciptalah masyarakat feodalisme yang mana alat-alat produksinya dikuasai oleh kaum bangsawan, khususnya oleh kaum tuan tanah. Sehingga pada akhirnya, terciptalah suatu bentuk masyarakat yang dikenal dengan nama kapitalisme.

     Didalam kapitalisme ini, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni kaum borjuis (kaum kapitalis, pemilik modal dan alat produksi) dan kaum proletar (kaum buruh yang tidak memiliki alat produksi). Inilah yang dimaksud Marx tentang milik pribadi dalam bidang produksi, yakni dimana segala alat produksi dan modal dikuasai oleh satu pihak saja yang pada akhirnya mengakibatkan pihak yang tidak memiliki alat produksi dan modal terpaksa bekerja dibawah kesewenangan pihak kapitalis. Kaum kapitalis menginginkan keuntungan setinggi-tingginya dengan pengorbanan (biaya produksi dan upah buruh) yang sekecil-kecilnya dan kaum buruh rela menerima upah yang minim dan kerja yang keras demi tetap mempertahankan diri agar tetap bekerja.

     Marx menganggap ini adalah suatu perlakuan yang tidak adil dari kaum pemilik modal kepada kaum buruh. Pemilik modal memonopoli waktu kaum para burh demi bekerja untuk mereka dan memenuhi kebutuhan jalannya sirkuit kapital. Kaum buruh juga kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dan upah yang begitu rendah dalam pekerjaannya. Padahal kaum buruhlah yang menciptakan nilai tambah dalam hasil produksi.

     Dalam pandangan Marx, akibat sistem milik pribadi itu terciptalah :

  1. Eksploitasi

Pengambilan nilai lebih oleh kaum kapitalis, yang mana sebenarnya, nilai lebih ini merupakan hak dari kaum buruh.

  1. Alienasi

Ada banyak aspek yang teralienasi dari kehidupan seorang buruh, yakni alienasi dari objek yang diproduksi, alienasi dari proses produksi, alienasi dari dirinya sendiri, dan alienasi dari sesamanya.

     Pada hakekatnya, manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Marx, pekerjaan adalah tanda kekhasan manusia sebagai makhluk yang bebas dan universal. Oleh karena itu semestinyalah manusia merasa senang dalam bekerja, karena bekerja merupakan suatu pernyataan diri manusia dan juga untuk mengembangkan martabat mereka. Namun apa yang terjadi di masa kapitalisme bukanlah demikian, Marx menulis :

“Pekerjaan itu sesuatu yang lahiriah bagi buruh, tidak termasuk hakikatnya, ia tidak membenarkan diri di dalam pekerjaan, melainkan menyangkal diri; tidak kerasan didalamnya, melainkan menderita; pekerjaannya tidak mengembangkan tenaga fisik dan mentalnya, melainkan mematiragakan fisiknya dan merusak mentalnya. Si buruh baru kerasan diluar pekerjaannya …”

     Melalui pernyataan Marx tersebut dapat dilihat bahwa pekerjaan membuat manusia terasing, merasa diperalat, dan direndahkan. Sekali lagi yang menjadi sumber utama hal ini adalah sistem milik pribadi yang tengah berlaku disaat itu. Dalam pandangan Marx, sistem ini benar-benar hanya merugikan buruh, oleh karena itu sistem kepemilikan ini harus dihapuskan. Diyakini bahwa masyarakat akan berjalan dengan jauh lebih baik kalau tidak berdasarkan sistem milik pribadi ini.

     Kaum buruh harus merebut kekuatan produksi dari kaum kapitalis, yakni mereka yang memiliki alat produksi, untuk kemudian mengendalika sistem produksi bersama-sama, menciptakan kesejahteraan, dan menghindari kesenjangan hingga sekecil mungkin.

***

     Marx adalah seorang filsuf humanis. Ia tidak hanya memikirkan apa yang sedang terjadi namun lebih dari pada itu, ia juga ingin merubah keadaan masyarakat pada zamannya. Perubahan yang ingin dicapai Marx adalah penghapusan sistem hak milik. Lewat penghapusan hak milik, masyarakat yang tercipta adalah masyarakat tanpa kelas, dimana masyarakat yang demikianlah yang menjadi suatu masyarakat yang adil dan menjadi ruang manusia untuk mencapai kebebasan sepenuhnya sebagai seorang individu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s