Renungan : 3P Bersama Yesus (Yohanes 4:1-26)

189792_160617290658256_100001299576256_308662_1319574_n2Perenungan kita berangkat dari kisah seorang perempuan Samaria yang bercakap-cakap dengan Yesus. Percakapan yang dilakukan ini bukanlah percakapan biasa, karena tentu konteks pada masa sekarang berbeda dengan masa Yesus. Di saat itu, perempuan tidak boleh berbicara dengan laki-laki di tempat umum. Selain itu, perempuan ini adalah seorang Samaria, sementara Yesus adalah seorang Yahudi. Bukan hal yang lazim juga pada saat itu, ketika seorang Yahudi berbincang dengan orang Samaria, karena Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Jadi, percakapan ini adalah percakapan yang sebenarnya merupakan percakapan yang luar biasa. Kenapa saya katakan demikian? Karena Yesus sudah menerobos penghalang dan merubah budaya yang berlaku pada saat itu!

Saya mengajak kita untuk fokus pada proses yang terjadi di dalam cerita ini, yakni 3P. Apa saja 3P itu? Perjumpaan, percakapan dan pengenalan. Perempuan Samaria itu berjumpa dengan Yesus, ia kemudian bercakap-cakap dengan Yesus, hingga akhirnya sampai pada pengenalan yang benar tentang Yesus (Allah). 3P inilah yang hendaknya juga terjadi dalam hidup kita. Atau malah sebenarnya sudah terjadi, tetapi sering tidak kita sadari? Mari kita lihat 3P ini satu persatu.

P1) perjumpaan kita dengan Tuhan

Dimana kita berjumpa dengan Tuhan? Di Yerusalem? Di atas gunung? Di pohon? Di gereja? di kamar tidur? Allah dapat kita temui dimana saja, karena Ia ada dimana saja. Tuhan ada di setiap aspek kehidupan kita. Perempuan Samaria berjumpa dengan Yesus, bukan ketika ia tengah beribadah atau santai, tetapi ketika ia tengah menimba air! Ini adalah salah satu pekerjaan rutin yang dilakukan oleh para perempuan pada saat itu. Artinya apa? Artinya adalah dalam apapun yang kita lakukan sehari-hari, kita bertemu Tuhan dimana saja.

P2) percakapan kita dengan Tuhan

Kapan kita bercakap dengan Tuhan? Apakah hanya dalam doa? Saya ajak kita untuk melihat secara lebih luas lagi, bahwa seluruh proses atau perjalanan hidup kita adalah proses percakapan kita dengan Allah. Kita kecewa, kita bersyukur, kita memohon kepada Tuhan. Ini adalah proses percakapan itu. Seperti perempuan Samaria ini, ia berkali-kali mengajukan pertanyaan kepada Yesus, diisi dengan kesalahpahaman, keraguan, dan akhirnya pengakuan. Demikian juga dalam hidup kita, berkali-kali dalam hidup kita, kita mempertanyakan maksud dan tujuan hidup kita kepada Allah. Ketika ada hal yang tidak sesuai dengan kehendak kita, kita mengeluh pada Allah. Kita bisa ragu pada kuasa Allah yang tampaknya tidak melakukan apa-apa dalam hidup kita. Sampai akhirnya, kita mengaku bahwa Ia adalah Tuhan yang berdaulat atas hidup kita.

P3) pengenalan kita akan Tuhan

Banyak orang Kristen yang telah berjumpa dan bercakap-cakap dengan Tuhan (mengalami berbagai proses kehidupan, keajaiban atau kuasa Tuhan) dalam hidupnya, tetapi tidak pernah berhasil untuk mengenal Allah secara benar. Allah hanya dikenali sebagai si pembuat mujizat, si pemberi berkat ataupun si penghukum. Untuk dapat mengenal Allah, bukan bergantung pada dimana kita menyembah Dia. Orang Samaria menyembah di gunung Gerizim, orang Yahudi di Yerusalem, tapi jika tidak mengenal Allah yang disembah, maka itu adalah kesia-siaan. Untuk dapat mengenal Allah maka tidak lain adalah melalui Firman Tuhan. Mengenal Allah juga berkaitan dengan apa yang kita bawa dalam ibadah kita. Tidak cukup mempersiapkan tubuh jasmani atau berpakaian rapi dan sopan atau mahal. Namun yang terpenting adalah mempersiapkan hati kita. Allah adalah roh dan kita harus menyembah Dia dalam roh.

Itulah 3P, perjumpaan, percakapan, dan pengenalan!

Perempuan Samaria ini sebenarnya bukan perempuan yang baik-baik. Hal ini bisa dilihat dari dua fakta, yakni ia datang menimba air pada siang hari, yakni pada saat tidak ada orang di sumur tersebut. Pada saat itu, biasanya perempuan-perempuan akan menimba air pada pagi hari. Dengan sengaja mengambil waktu tengah hari, menunjukkan bahwa ia menjauhi perkumpulan-perkumpulan. Selain itu pernyataan bahwa ia memiliki banyak suami, bahkan yang ada padanya sekarang ini bukanlah suami, semakin menunjukkan status perempuan ini.

Yang luar biasa adalah Tuhan berkenan untuk berjumpa, berkenalan dan memperkenalkan diri. Bahkan Tuhan berkenan untuk memakai perempuan ini. saudara/i yang dikasihi Tuhan, tidak ada satu pun manusia yang tidak berdosa. Tetapi dari kisah ini, kita belajar bahwa tidak perlu tunggu sampai kita menjadi orang yang hebat, punya kedudukan, dan sempurna. Ketika kita sudah mau untuk berjumpa, bercakap dan mengenal Allah, maka kita punya kesempatan untuk dipakai oleh Tuhan.

Dipakai bagaimana? Dengan pekerjaan kita, keseharian kita. Kita bisa menjadi ibu yang baik, bapak yang baik, memberi teladan bagi sesama kita, memancarkan kasih Kristus melalui pikiran, perkataan dan perbuatan. Ingat, bahwa Tuhan tidak mencari orang sempurna untuk berjumpa, bercakap-caka dan memperkenalkan diri-Nya. Tetapi Ia hanya mencari orang yang mau untuk diajak-Nya berjumpa, bercakap dan memperkenalkan diri-Nya. Apakah salah satunya diantaranya adalah kita?

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s