Antara Demokrasi dan Democrazy?

Pertanyaan menarik untuk diajukan pada pentas demokrasi kita dewasa ini, yakni apa ukuran atau standar orang yang layak untuk menjadi pemimpin kita? Tulisan ini bukan untuk menyalahkan atau membenarkan, bukan untuk memojokkan atau menengahi, bukan pula untuk menjatuhkan atau mendukung. Melainkan tulisan ini ditulis karena “kegelian” penulis terhadap apa yang tengah dan telah terjadi di negara demokrasi ini. Penulis tidak akan berbicara panjang lebar, karena penulis tahu bahwa ini bukan area dimana penulis memiliki pengetahuan yang detail mengenai dunia politik, karena penulis sendiri adalah awam politik. Namun sebagai pengamalan nilai demokrasi, bukankah tidak salah jika penulis menyampaikan apa yang ada dalam benak penulis? Semoga saja ini tidak membuat blog ini dan penulis menjadi memiliki haters dan bukannya likers.

Politik dan sistem yang ada di dalamnya adalah merupakan suatu upaya untuk mengatur kehidupan bersama dalam suatu polis. Bagaimana cara mengatur kehidupan bersama tersebut? tentunya dengan adanya orang yang memegang wewenang dan otoritas untuk mengatur kehidupan bersama tersebut. Sekali lagi, penulis ajukan pertanyaan mengenai apa ukuran orang yang layak untuk menjadi pemimpin di negara ini? Sangat menarik jika melihat berbagai perkembangan baik di pusat maupun pelosok negara ini. Faktanya adalah budaya sektarian sangat menguat. Sektarian yang penulis maksud di sini jangkauannya luas, yakni perkesamaan suku atau perkesamaan agama. Seringkali orang-orang memilih atas dasar kesamaan suku. Ada juga yang memilih atas dasar kesamaan agama. Hal ini sangat berbahaya. Tidak ada budaya sektarian dalam politik yang bisa membawa pada suasana hidup bersama yang nyaman. Budaya sektarian malah akan memperkuat dan mempertegas garis minoritas-mayoritas, kelompokku-kelompokmu, yang kuat-yang lemah, dan perbandingan-perbandingan ironis lainnya.

Sangat disayangkan bahwa hal ini harus terjadi di Indonesia. Dengan terjadinya demokrasi sektarian, maka itu menguak fakta yang sangat menyakitkan bahwa pada dasarnya masyarakat Indonesia tidak pernah siap dan tidak pernah bisa menerima kemajemukan di antara mereka. Ironis sekali. Hidup ditengah-tengah kemajemukan, tetapi ternyata tidak pernah bisa menerima kemajemukan tersebut.

Harapan penulis, semoga masyarakat Indonesia bisa menjadi masyarakat demokratis yang kritis dan cerdas. Memilih pemimpin bukan atas dasar kesamaan suku atau agama, melainkan atas kinerja sang pemimpin yang berupaya untuk membangun bangsa dan masyarakat, menata kehidupan bersama yang majemuk dalam rasa penghargaan dan toleransi, serta mampu untuk memimpin bangsa ini menuju kemajuan, bukannya kemunduran.

Ketika budaya yang demikian terus dipertahankan, tidak dapat disangkal bahwa fakta kita berada dalam demokrasi prosedural akan semakin menguat. Bahkan demokrasi tidak akan menjadi demokrasi lagi, melainkan democrazy. Semoga tulisan singkat seorang awam politik ini dapat membawa pencerahan dan pemikiran yang baru mengenai budaya demokrasi kita dewasa ini.


Pemimpin yang kita butuhkan kini adalah:

Orang yang bisa memimpin, bukan yang tau cara memimpin

Orang yang bisa bekerja, bukan yang tau cara bicara

Orang yang penuh pengabdian, bukan yang minta banyak abdi

Orang yang berintegritas, bukan yang setengah hati memimpin, dan

Orang yang mampu menjembatani kemajemukan, bukan yang bisa meruntuhkan jembatan tersebut

Orang yang punya kemauan, bukan yang tidak punya kemaluan untuk menyalahgunakan kekuasaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s