Karangan yang Tak Terselesaikan

Seperti pemiliknya, si laptop pun kadang-kadang bisa eror. Mungkin beliau lelah, karena terlalu sering diajak berpikir dan begadang demi si KTA. Haha… tapi tulisan ini bukan untuk membahas laptop yang lelah. Setelah si laptop rada eror, akhirnya kucoba untuk menghapus software dan data-data yang tidak penting, seraya meluncurkan para antivirus guna mensterilkan beliau. *ce’illlehhh* hasil buka sana-buka sini, aku menemukan sebuah karangan yang tidak terselesaikan. Karangan ini adalah cerita yang panjang, jadi bukan cerpen. Mungkin sudah setengah novel jadinya. *aukhhh akhh, entahlah*

Karangan ini sudah lumayan panjang. 29 halaman, size A4, margin 3322, 12 Arial font, 1,5 spasi dan tanpa judul. Genrenya bertemakan kehidupan keluarga, remaja dan rohani (spiritualitas). Karangan ini berkisah mengenai seorang anak yang berasal dari keluarga kurang harmonis. Namanya Eray Atei. Ayah dan ibunya lebih mementingkan pekerjaan. Hingga akhirnya, si anak kemudian melakukan perbuatan yang tidak baik sebagai pelampiasannya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang pendeta yang melakukan kunjungan ke rumah sakit dimana Eray sedang dirawat karena overdosis. Sayang sekali, sampai sekarang karangan ini belum selesai juga. Setengah jalan pun belum. *penulis yang menyedihkan*

Berikut beberapa cuplikannya:

kisah awal….

ERAY ATEI

 I don’t know whats worth fighting for

Or why I have to scream

I dont know why I instigate

And say what I dont mean

I dont know how i got this way

I know its not alright

So I’m breaking the habit

I’m breaking the habit tonight

           Lagu-lagu Linkin Park mengalun keras di kamar Eray. Salah satu judul lagu yang sangat disukainya, Breaking The Habits. Setiap kali mendengarkan lagu ini Eray selalu merasa bersemangat dan merasa mampu untuk mem-“breaking” semua yang memuakkan di sekitarnya. “Breaking” segala sesuatu yang tidak baik dalam kehidupannya dan menyusunnya kembali agar lebih memuaskan.

Oh ya, namanya Eray Atei. Sebuah nama yang khas dengan unsur bahasa dayak. Eray berasal dari bahasa Dayak Lawangan yang berarti satu dan atei yang berasal dari bahasa Dayak Ma’anyan yang berarti hati. Memang tidak salah, karena ayahnya adalah seorang Dayak Ma’anyan dan ibunya adalah seorang dari suku Dayak Lawangan. Kombinasi keduanya menghasilkan seorang Eray Atei, si “satu hati”. Haha, terkadang Eray tertawa sendiri jika memikirkan arti namanya. Hati apa yang perlu untuk ia persatukan sedangkan segala sesuatunya tampak berantakan di dalam kehidupannya.

Selalu ada rasa iri di hatinya ketika ia melihat keluarga teman-temannya yang harmonis. Orangtua yang perhatian dan penuh kasih sayang, serta memiliki saudara-saudara yang juga perhatian. Selalu ada sukacita dan kehangatan yang pastinya tak pernah ia rasakan selama ini. Ah, betapa indahnya. Sementara suasana di dalam keluarganya sendiri, tak pernah ada kedamaian dan sukacita yang ia rasakan. Orangtua yang pemarah dan selalu sibuk. Selalu tak pernah ada perhatian dan kasih sayang. Hal yang paling didambakan oleh Eray adalah pergi menjauh dari rumah dan juga dari keluarga ini. Segera, kalau bisa!

Bro, datang ya ke ibadah pemuda di rumahku, pukul 4 besok sore. Di tunggu lho kedatangannya. God Bless

          Arghh! Eray menggeram, SMS dari Rendy membuyarkan lamunannya. Undangan untuk ikut ibadah pemuda.

“Arghh! Kenapa sih segala pakai acara mengundang aku? Seperti tidak kenal aku saja!” Gerutu Eray seraya menghempaskan HP.

Secara formal Eray adalah seorang Kristen, namun sebenarnya lebih tepat jika dikatakan sebagai seorang atheis. Baginya tak ada yang namanya Tuhan dan agama tidak lebih dari sekedar sebuah status saja. Eray ingat apa yang dikatakan oleh Karl Marx bahwa agama adalah suatu candu bagi manusia, dan ia setuju. Eray tidak perduli masuk surga atau tidak, karena Eray memang tidak percaya apakah surga atau neraka itu benar-benar ada. Memang waktu Eray masih kecil, segala sesuatu yang berkaitan dengan agama dan Tuhan adalah hal yang menarik baginya. Sebagai seorang kutu buku sejati, Alkitab dan buku-buku rohani lainnya selalu dibacanya dengan cermat. Cerita-cerita yang ada di dalam kitab Perjanjian Lama membuat ia terpesona dan tergugah. Alangkah ajaibnya yang dilakukan oleh Allah dalam menuntun bangsa Israel menuju ke Kanaan, betapa keren mujizat yang dilakukan oleh para nabi, dan lain sebagainya. Demikian pula isi di dalam kitab Perjanjian Baru, mengenai perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan oleh Yesus serta bagaimana Ia mampu untuk merubah serta membaharui kehidupan seseorang. Memang semuanya itu sempat membuat Eray merasa kagum dan mempercayainya dengan sepenuh hati. Namun itu dulu. Seiring dengan berjalannya waktu, Eray merasa lebih mantap untuk mempercayai hal-hal yang lain, yang lebih menarik dari sekedar kumpulan kitab tersebut. Menurut pandangannya, daripada membuang-buang waktu untuk mempercayai sesuatu yang belum pasti, alangkah lebih baik jika mempercayai sesuatu yang benar-benar tak ada kepastian. Dengan pola pikir ini Eray menyadari bahwa ia bukanlah seorang Kristen, sekali lagi, ia adalah seorang atheis. Biar saja!

Ngomong-ngomong masalah undangan tersebut, tentu saja Eray tidak akan menghadirinya. Ia masih memiliki seribu alasan untuk mengelak jika besok ditanya oleh Rendy. Eray mematikan DVD dan bersiap untuk memejamkan mata ketika ia mendengar suara ribut-ribut di ruang tengah.

“Kau selalu saja seperti ini! Selalu saja sibuk, sibuk, dan sibuk!”

“Heh, Ani. Aku sibuk seperti ini untuk keluarga!”

“Untuk keluarga apanya? Aku tak pernah merasakan uang hasil kerjamu! Kau selalu saja sibuk dengan urusanmu di luar sana, tak pernah perduli dengan keluarga!”

“Kau sendiri, apa kau pikir dirimu lebih baik dari pada aku? Untung saja kau masih ingat untuk pulang ke rumah. Aku sudah mencarimu kemana-mana. Kau lebih sering meninggalkan keluarga daripada aku!”

“Aku tidak ada di rumah untuk alasan yang jelas. Usaha yang kukelola ini harus …..”

“Usaha apa? Untuk mengurus usaha kecil seperti itu tak perlu sampai kau harus meninggalkan rumah selama berhari-hari!”

“Sebaiknya kau jangan ikut campur, Anto. Karena terbukti usahaku lebih berhasil dari pada usahamu! Lihat saja harta benda yang ada di rumah ini, semuanya adalah hasil dari kerja kerasku!”

“Hah? Berani sekali kau berkata seperti itu, Ani!”

Pranggg! Terdengar suara benda pecah. Eray menghela napas panjang. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi, jadi ia merasa sangat terbiasa.

“Kau memang tidak berguna, Anto!”

“Apa yang kau katakan? Kau memang sama seperti anakmu, benar-benar sampah!”

“Apa?”

Pranggg! Kembali terdengar suara benda yang pecah. Eray meringis. Apalagi ketika ia kembali dikait-kaitkan dalam perkelahian mereka.

“Kau selalu memanjakan dia! Ya, Eray itu menjadi anak yang kurang ajar karena sikapmu sebagai seorang ibu selama ini salah.”

“Kau lebih kurang ajar dari pada dia! Kau hanya tahu memukulnya saja! tak pernah memberikan kasih sayang dan perhatian untuknya!”

“Tahu apa kau tentang kasih sayang? Tentang perhatian? Cukup Ani, aku lelah!”

“Dasar sampah!”

“Kau dan anakmu yang sampah!”

Brakkk! Terdengar pintu dibanting dengan keras dan tidak lama terdengar suara mobil dinyalakan. Kembali Eray menghela napas panjang seraya berusaha untuk memejamkan mata. Melupakan apa yang telah didengarnya barusan.

Tok, tok, tok… Terdengar pintu kamar diketok, Eray tetap memejamkan mata. Ibu masuk dan duduk di tempat tidur. Eray berpura-pura tertidur pulas meskipun sebenarnya sedikit dipaksakan. Ibu membelai rambut Eray dan menyisipkan sesuatu di tangannya, sebelum akhirnya keluar dari kamar. Tak lama kemudian Eray mendengar suaranya membereskan pecahan-pecahan kaca yang berserakan di lantai tadi.

Setelah beberapa lama rumah terasa sangat sunyi. Tak perlu ditebak, sudah pasti, ibu telah pergi untuk mengurus bisnisnya. Perlahan Eray membuka matanya dan melihat uang yang ada di tangannya. Selalu seperti ini, tak pernah ada sesuatu yang berbeda. Mereka datang ke rumah hanya untuk berkelahi dan saling menyalahkan. Seringkali Eray berharap, bahwa akan lebih baik jika mereka sebaiknya tidak usah pulang saja.

“Eray atei apaan diriku ini? Sampah! Arrgh! Sudahlah, esok hari Minggu. Aku akan bebas melakukan apa saja yang kumau esok.”

Bagian lainnya, yakni setelah Eray ditemukan oleh sahabatnya sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri dan segera dilarikan ke rumah sakit.

HARAPAN ITU MASIH ADA

 

Rendy sangat cemas, mukanya tampak pucat. Tak henti-hentinya ia berdoa untuk keselamatan sahabatnya. Ia takut sekali. Ya, ia takut jika Eray meninggal. Sementara ia menunggu, Ibu Eray datang dan menghampirinya.

“Ren,.” Sapa ibu Eray pelan.

“Eh, tante.”

“Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja, ok.” Ibu Eray menenangkan Rendy.

“Tapi, tante. Eray sudah kecanduan dan mengalami overdosis.”

Ibu Eray hanya menghela nafas panjang. Ia mengelus-elus punggung Rendy sambil mengangguk-angguk. Rendy menatap wajah ibu Eray seraya berkata,

“Tante, jika Eray masih bisa terselamatkan hari ini. Apa yang akan tante lakukan?”

Ibu Eray terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan Rendy.

“Aku tidak pernah tahu jika sebenarnya Eray sangat kesepian. Ia tidak pernah bercerita tentang keluarganya. Ia selalu menyembunyikannya, tante. Bahkan aku, sahabatnya, tak pernah tahu permasalahannya. Aku mengira semuanya baik-baik saja.” Rendy menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, “Jika Eray bisa selamat hari ini, bisakah tante berjanji satu hal padaku?”

Ibu Eray tetap diam, namun matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku tidak meminta tante untuk menjawabnya sekarang. Aku hanya ingin tante berjanji pada diri tante sendiri dan juga kepada Eray, yakni tante dan om harus bisa menyisihkan waktu untuk Eray. Kasihan Eray, tante. Ia sangat pintar, selalu juara. Ada banyak prestasi akademik yang telah diperolehnya. Apakah tante tidak bangga punya anak seperti Eray?” Rendy terdiam sejenak, “Aku sering mengajaknya ke rumah, berkumpul dan makan bersama dengan keluargaku. Tapi setiap kali aku meminta untuk datang ke rumahnya, ia selalu menolak. Awalnya aku curiga dan berusaha mencari penyebabnya, tapi lama kelamaan hal itu kuanggap biasa saja. Ah, aku ternyata bukanlah sahabat yang baik. Aku secara tidak langsung telah menyakiti hatinya dengan apa yang kumiliki. Ya, tante, kupikir ia lebih bahagia daripada aku. Ternyata tidak, aku benar-benar sahabat yang buruk!”

“Tidak, Ren. Kamu adalah sahabat yang baik. Bahkan teramat sangat baik. Eray sangat beruntung bisa memiliki sahabat sepertimu. Tante dan Om sebagai orang tualah yang salah. Mementingkan bisnis dan pekerjaan kami, sampai-sampai kami harus menelantarkan anak kami satu-satunya. Terima kasih sudah menjadi sahabat untuk Eray.” Ibu Eray memeluk Rendy dan menangis.

“Iya, tante. Rendy bukan hanya sahabat untukku. Ia sudah seperti saudaraku sendiri. Ia sudah kuanggap sebagai kakakku.” Ucap Rendy.

“Kita doakan saja, ya Ren. Semoga Eray selamat. Lagipula ayahmu adalah dokter yang hebat.”

“Ah, tante. Ngga ah, biasa aja.” Sahut Rendy, “Eh, itu ayah.” Ia segera berlari menghampiri ayahnya.

“Gimana, yah?” tanyanya.

“Sabar dulu. Ayahkan harus bicara dengan keluarga pasien dulu. Memangnya kamu keluarga pasien?” sahut Ayah Rendy seraya tersenyum melihat anaknya. Rendy memonyongkan mulutnya.

“Ck, Ayah. Itu ada Tante Ani. Ayo cepat.”

“Gimana anak saya, pak?” tanya Ibu Rendy cemas.

“Puji Tuhan, ia masih terselamatkan, bu.”

“Yes!!” Rendy berteriak kegirangan seraya melompat-lompat.

“Rendy! Ingat ini rumah sakit, tolong jangan berisik!” tegur ayahnya. Eray hanya tersenyum kemudian memeluk ibu Eray.

“Tante, Eray masih hidup. Terima kasih ya Ayah.”

“Terima kasih, pak.”

“Kenapa berterima kasih pada saya? Berterima kasihlah pada Tuhan. Ia masih memiliki rencana yang luar biasa dalam diri Eray, sehingga Eray masih memiliki kesempatan untuk hidup. Sekaranglah saatnya untuk ibu serta Pak Anto untuk bisa membimbing Eray untuk memanfaatkan kesempatan ini.”

“Iya, pak. Terima kasih” kata Ibu Eray seraya menyalami Dokter Effendi, “Kami akan berusaha untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak kami ini.”

“Saya yakin ibu dan Pak Anto pasti bisa. Saya dan istri saya juga akan membantu sebisa kami, karena bagi kami, Eray sudah seperti anak kami sendiri. Hm, baiklah. Silahkan ibu masuk untuk melihat kondisi Eray.”

“Aku, yah?” tanya Rendy seraya menunjuk dirinya sendiri.

“Sebaiknya jangan.” Sahut ayahnya seraya tersenyum.

“Eh, Ayah. Bercanda terus dari tadi!” Rendy segera berlari menyusul ibu Eray dan masuk ke ruangan dimana Eray tengah dirawat.

“Rendy! Jangan lari-lari!”

“Maaf, pak dokter!” sahut Rendy sambil tersenyum.

 

***

 

“Hei, Eray!”

Eray terdiam, pandangan matanya masih kabur, kepalanya terasa sangat sakit. Ada infus terpasang di lengannya dan ada perban di tangan kirinya.

“Eray! Kalawe habar nu[1]?

Eray memejamkan matanya seraya berusaha mengenali suara-suara itu. Setelah memejamkan mata cukup lama, akhirnya ia bisa mengenali suara-suara tadi.

“Eray!”

“Uh…” sahut Eray pendek.

“Masih ingat aku ngga?” tanya Rendy. Eray hanya mengangguk lemah, “Dan ini, masih ingat ngga?” Kembali Rendy bertanya seraya menunjuk Ibu Eray. Eray diam, ia hanya menatap ibunya.

“Lupa, ya?” tanya Rendy, “Perempuan yang cantik, ayu memikat hati ini adalah ibumu. Ayo, ingat ngga?” Eray tetap diam. Rendy melongo. Rasa takut menjalari tubuhnya, ia takut Eray hilang ingatan.

“Oh, c’mon Eray. Ini Your mother, ibumu, ineh[2] nu, mama ikam[3]!”

“Sudahlah, Ren. Pelan-pelan saja, jangan dipaksakan dulu.” Ibu Eray menenangkan Rendy, “Eray, gimana? Dimana yang sakit, nak?” Tanyanya kepada Eray. Eray tetap diam dan memalingkan mukanya. Ia tidak mau melihat ibunya.

“Ray, sini ibu urut. Dimana yang …..” belum selesai ibunya berkata, Eray memotong,

“Kenapa sih ke sini? Aku sudah gak perlu lagi orang tua yang seperti kalian! Yang ada di otak kalian itu hanya pekerjaan. Aku tidak pernah kalian ingat. Selalu ditelantarkan!” Eray terdiam sejenak sambil melanjutkan, “Mungkin lebih baik jika aku mati saja, ya? Gak usah repot kalian ngurus aku. Tak bisakah kita seperti yang dulu lagi? Kumpul bersama lagi? Sekarang jika kumpul, ibu dan ayah hanya bertengkar, saling menyalahkan, saling membanting barang di dalam rumah. Apakah itu yang aku inginkan? Ngga, bu! Kalian benar-benar tidak bisa ya menjadi orang tua yang baik?”

Ibu Eray menangis sambil menggenggam tangan Eray. Eray berusaha berontak, tapi genggaman ibunya cukup kuat. Rendy yang dari tadi diam karena tidak menyangka Eray akan marah, segera menyabarkan Eray.

“Ray, sabar. Dia ibumu!”

“Apa-apaan kau? Kau juga mengaku sahabat, tapi apa yang kau lakukan kau tak mengerti aku. Bukankah sudah kukatakan padamu supaya meninggalkan aku? Aku bukan Eray yang dulu. Dengar, lebih baik kalian berdua pergi dari sini. Aku tidak mau melihat kalian lagi!”

“Dengar dulu, nak!” kata Ibu Eray seraya memperkuat genggaman tangannya, “Ibu minta maaf, benar-benar minta maaf. Ibu janji setelah ini, ibu akan lebih memperhatikan kamu. Maafkan ibu, ya Ray.”

“Hah? Maafkan? Aku sudah kenyang makan janji, Bu. Tidak perlu lagi berjanji padaku. Lebih baik sekarang ibu pergi, Rendy juga pergi, aku ingin sendiri di sini.” Rendy dan ibu Eray saling berpandangan dan tidak beranjak dari tempat mereka. Eray merasa sangat kesal. Ia berusaha melepaskan genggaman ibunya. Tapi badannya masih terlalu lemah, hingga akhirnya ia berhenti berontak. Ia memejamkan matanya, ia benar-benar tidak ingin melihat ibunya dan Rendy. Entah karena masih ada pengaruh dari obat yang dikonsumsinya, ia pun tertidur kembali.

[1] Kalawe habar nu? : Bagaimana kabarmu?

[2] Ineh : Ibu

[3] Ikam : Kamu

setelah cerita di atas, masih ada cerita dimana seorang pendeta kunjungan ke rumah sakit dan juga cerita tentang Eray telah yang diperbolehkan untuk pulang. di rumah, ia dimarahi habis-habisan oleh ayahnya, sementara ibu terus membela Eray.

Setelah membaca karangan ini, aku tertarik untuk meneruskan jalan ceritanya. Tapi sepertinya, sama sekali tidak ada ide untuk melanjutkannya. Ada beragam pemikiran yang sedang kupertimbangkan. Apakah si Eray akan hidup benar dan bertahan walaupun keadaan keluarganya tidak harmonis? Apakah keluarganya akan menjadi keluarga yang harmonis? Apakah Eray akan hidup bersama ibunya saja? Atau pilihan praktisnya, apa sebaiknya kumatikan saja tokoh Eray ini dan akhirnya menimbulkan penyesalan orang tuanya dan membuat mereka kembali berupaya untuk hidup rukun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s