Anti Hetero-Pro Homo (dan Sebaliknya)

image

Anti hetero-pro homo

Kalo hetero mau disulap jadi serba homo, ini namanya menjungkir balikkan tatanan dunia. Kenapa demikian? Bukankah sejak awal mula penciptaan, dunia dan kehidupan terdiri atas yang sifatnya heterogen? Ketika semua dijadikan Allah, Ia katakan semua baik. So, jika ada yang memandang bahwa yang serba homo itu sebagai yang baik, it’s mean: Anda mau menciptakan dunia sendiri. -suatu hal yang mana tidak akan bisa Anda ciptakan.

Baiklah, saya carikan kata yang setara atau senada dengan ini: perbedaan, berlainan jenis, plural, multi, beraneka, many of kind, more than one, de el el.  Saya tidak paham kenapa ada banyak orang yang hidup dalam dunia anti-perbedaan. Mungkin saya gagal paham. Anti perbedaan seperti anti kalo dia beda dengan saya, beda suku lah, beda agama, beda pilihan, beda bahasa, beda budaya. Bahkan kekurang ajaran anti-beda tadi ikut-ikutan merembet ke hal sepele, semacam beda selera makan. Ya kan ribet kalo semua orang harus sama.

Pada akhirnya saya mikir, antara yang suka homo dan suka hetero, siapa yang dunianya kebalik? Mungkin bagi mereka yang pro-homo, kita yang suka beda ini kurang ajar sekali. Tetapi bagi kita yang menjunjung tinggi konsep heterogen pastilah memandang sikap mereka sebagai suatu kebodohan. -yang saya tekankan bukan orangnya, tetapi paradigmanya.

Jelas saya mengambil posisi bahwa tidak harus selalu homogen dalam hidup ini. Beraneka ragam itu indah. Paradigma ini mungkin dilatarbelakangi dari pengalaman hidup yang membuat saya terbuka terhadap berbagai perbedaan. Sejak dari kandungan pun saya sudah berada dalam konsep multi-etnis. Ayah ibu adalah campuran Dayak Maanyan dan Lawangan. Dalam keluarga besar sendiri ada beragam keyakinan, ada yang Protestan, Katolik, Islam dan Hindu Kaharingan. Waktu belajar bicara, bahasa yang keluar dari mulut saya adalah bahasa Banjar (yang terus saya gunakan hingga sekarang). Ampah sendiri adalah daerah yang majemuk. Setiap suku dan agama ada di sana. Begitulah sekelumit pengalaman hidup yang sebenarnya gak penting-penting amat untuk diutarakan. Tetapi the point is pengalaman akan menentukan kita dalam bersikap menerima perbedaan. Ketika pengalaman berjumpa dengan berbagai ke-multi-an tadi (dalam beragam segi) terus ditanamkan, maka kita akan memiliki sikap terbuka dan mau menerima. Sebab yang bercokol di otak para pendukung homogen adalah perbedaan sebagai ancaman! Akibatnya tidak ada penerimaan dan keterbukaan.

Kembali lagi ke pengalaman, maka ketika seseorang dibesarkan dan dididik di lingkungan yang serba homogen, tanpa keterbukaan pada hal lain, maka di sinilah bibit-bibit anti-heterogen tumbuh dan berkembang dengan subur. Akibatnya? Jelas, perbedaan dirasa sebagai ancaman. Segala perbedaan dipukul rata agar bisa menjadi persamaan. Ini yang membuat saya mikirnya lama, gimana cara mengubah sesuatu yang pada awalnya memang beda agar menjadi sama. Ibarat tuts piano, kalo semuanya senada, tidak akan ada musik di dunia ini -dijamin Mozart n the Ganks pun tidak akan terkenal – gara-gara kaum anti-beda ini. Saya pikir pola pikir yang terlalu sempit seperti ini harus dilebarkan. Kalo ga bisa banyak pelebaran mind nya, ya digeserin sedikit lah, setidaknya beberapa centi.

Dunia semakin maju, globalisasi semakin kuat, persaingan pun semakin ketat. Dengan beragam MOU pemerintah kerja sama dengan pihak yang notabene berbeda dengan kita, mustahil sikap anti-heterogen tadi bisa mengisi perut dan dompet kita. Mengupayakan apa yang dimiliki dalam kelompok atau bahasa kerennya swadaya memang bagus, sih. Tapi pasti saja, Anda tidak bisa melakukannya tanpa menerima orang lain yang berbeda. Konsep heterogenitas yang ditolak itu, baik sadar atau tidak, tetap Anda nikmati.

So, sikap anti heterogen tadi sebenarnya sangat mengancam. Beberapa di antaranya, mengancam keutuhan bangsa kita yang super heterogen, mengancam masyarakat dan tatanan sosial yang memang sudah ada sejak dulu. Terutama sekali nih, mengancam kehidupan Anda, karena Anda akan selalu mikir “harus sama, harus sama”. Habis waktu Anda hanya untuk mikir dan meributkan hal seperti ini. Sesuatu yang memang sudah ada dari awal dan hakiki, malah mau dirubah. Bukankah ini berbahaya untuk otak dan hati Anda? Tapi tak apalah selama kuota pasien RSJ masih mencukupi, it’s ok

By the way tulisan ini walau ditulis mengalir tanpa mikir, saya harap cukup menarik untuk memelintir otak, hati dan rasa kita. Tulisan sedikit kurang ajar, tapi saya rindu menulis dengan gaya ini. Karena ini blog ‘eksresi’-nya saya dalam berekspresi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s