Berhak Berbahagia

Saya percaya bahwa kebahagiaan itu akan hadir dalam hidup ketika tangan selalu terbuka.  Jika tangan saya terus mengenggam, maka ada segalanya akan terpendam.  Namun jika senantiasa terbuka,  niscaya banyak hal luar biasa yang bisa ditemukan untuk menjadi sumber bahagia.  Tangan terbuka artinya bersedia berbagi,  bersedia memberi,  bersedia membantu.  Semakin banyak yang bisa saya bagi,  semakin berbahagia saya.  Semakin sedikit saya berbagi,  semakin kritis kebahagiaan saya.  Orang menerima atau menolak, mengkritisi atau menyetujui,  membuang atau mendengar, ini hanyalah ragam respon atas kebahagiaan saya. Yang perlu saya ingat adalah orang  miskin selalu ada pada kita.  Miskin dalam artian membutuhkan bantuan kita. 

Saya percaya bahwa untuk bahagia, tak perlu selalu dengan hal besar atau luar biasa.  Hal sederhana sekalipun bisa menjadi sumber kebahagiaan yang luar biasa.  Permasalahannya adalah terletak dari bagaimana kita memandang apa yang sedang kita kerjakan saat ini.  Jika kita memandang sebagai beban,  niscaya tak akan ada secuil pun kebahagiaan yang melekat.  Sementara jika kita lihat sebagai suatu amanat,  maka sukacita mengerjakan akan terus menyertai. Tak perlu gengsi mengerjakan hal sepele atau sederhana.  Kerjakan bagianmu dengan sepenuh hati, maka itu akan menjadi sumber kebahagiaan bagimu kelak. 

Saya juga percaya,  bahwa untuk membuat orang lain bahagia, saya tidak harus menjadi orang yang sempurna.  Sebab jika saya berupaya untuk menjadi sempurna,  sesuai dengan apa yang orang kehendaki, maka saya akan menjadi pribadi yang tidak berbahagia.  Bagi saya,  saya tidak perlu sempurna untuk membuat orang lain menyenangi saya.  Saya hanya perlu membuat diri saya merasa bahagia dengan apa adanya diri saya,  sehingga kemudian ini membuat orang lain bisa menerima saya sebagaimana adanya.

Saya sangat percaya bahwa kebahagiaan tidak diukur pada berapa banyak harta yang dimiliki. Sebab jika demikian,  maka saya adalah orang yang paling tidak berbahagia karena ketiadaan harta yang saya miliki.  Namun bagi saya,  kebahagiaan saya adalah penghasilan yang cukup untuk kebutuhan hidup dan penghasilan yang masih bisa disisihkan untuk berbagi kepada sesama, terlebih persembahan kepada Tuhan. 

Saya percaya juga bahwa bahagia itu adalah ketika kita dicintai,  dihargai,  dihormati,  disayangi,  dianggap berharga,  serta dirindukan oleh orang lain.  Namun ini tak akan terjadi,  jika kita tidak memberi diri untuk mencintai,  menghargai,  menghormati,  menyayangi dan merindukan orang-orang yang kita kasihi. Bahagia ada di sini,  ketika kita bukan hanya menjadi penerima,  tetapi juga pemberi.  Bahagia ada di sini,  dimana ada relasi yang indah antara kita dan sesama. 

Saya percaya bahwa sebenarnya tidak ada alasan untuk berkata bahwa saya tidak bahagia. Bahkan dalam pergumulan sekali pun.  Cara pandang dan cara bertindaklah yang bisa menjauhkan saya dari kebahagiaan.  Manusia tak selalu pintar.  Saat kebahagiaan berada satu langkah lurus di depannya,  terkadang ia mau berjalan berlangkah-langkah,  entah serong kiri atau kanan,  hingga akhirnya bukan kebahagiaan,  namun terperosok dalam lubang keterpurukan.  Sekali lagi,  saya percaya bahwa kebahagiaan itu bisa diraih karena memang senantiasa disediakan. 

Akhirnya,  setiap orang berhak untuk bahagia,  dengan caranya masing-masing.  Inilah caraku,  secuil yang bisa dibagikan dari bertumpuk-tumpuk alasan mengapa saya percaya bahwa saya berhak berbahagia. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: