PERSEMBAHAN SEBAGAI UNGKAPAN SYUKUR (II Korintus 9:6-15)

random113-5bb9d6c112ae945bf45464a2Tentunya kita sering mendengar ayat 6 dan 7 dibacakan sebagai nast pengantar persembahan. Tetapi sejauh apakah kita mengerti dua ayat ini? Ayat 6 seolah-olah merupakan suatu ancaman bagi kita, bahwa jika kita menabur hanya sedikit, maka yang kita tuai pun sedikit. Demikian sebaliknya, jika kita banyak menabur, maka kita akan menuai banyak juga. Seolah-olah jumlah besar dan kecil yang kita beri itu merupakan tolak ukur standar tentang berkat Tuhan yang akan kita terima nanti. Dengan pemahaman seperti ini, motivasi atau dorongan kita memberi persembahan adalah semata-mata agar Tuhan memberkati kita. Artinya, kita kemudian menyogok Tuhan dengan persembahan kita. Padahal ayat ini tidak dapat kita artikan demikian, melainkan diterjemahkan sebagai sikap hati. “siapa yang menabur sisa akan menuai sisa, siapa menabur dengan murah hati, karena ia akan menuai kemurahan”. Jadi, bukan masalah besar-kecil, tetapi sikap hati dalam memberi yang kemudian dijelaskan dalam ayat 7.

Sikap yang benar dalam memberikan persembahan adalah dengan kerelaan hati dan sukacita.  Seringkali kita dalam memberikan persembahan sangatlah perhitungan, kalau saya memberi segini, apakah nanti saya masih bisa makan, besok bagaimana, dan pertanyaan kekuatiran lainnya yang mengisi pikiran kita. Sehingga akhirnya, kita menjadi sulit untuk memberi persembahan. Selalu berkekurangan rasanya jika kita berencana memberi persembahan. ini karena kita kebanyakan mikir, kalau mau memberi persembahan, ya berilah, bukan mikirlah! Akibatnya kebanyakan mikir, gak keluar-keluar. Selain itu, kita bisa memberi dengan perasaan sedih. Bukan saya berkata demikian, nas hari ini juga menyinggung bahwa jangan memberi dengan sedih hati. Kenapa sedih hati? Ada pikiran seperti ini, “kalau saya memberi, berarti saya kehilangan beberapa rupiah dari dompet saya!” Terakhir, memberi karena paksaan. Terpaksa memberi karena takut tidak diberkati Tuhan. Terpaksa memberi karena dikenakan iuran wajib untuk memberi. Akibatnya bukan yang terbaik, tetapi yang sisa-sisanya yang kita berikan.

Mari kita pikirkan, pantaskah kita bersikap seperti itu? Dalam sebulan, berapa pendapatan Anda? Sesedikit apapun itu, pernahkah anda dan keluarga anda tidak makan? Pasti, selalu ada berkat, selalu ada jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Nah, kita yang melupakan Tuhan, perhitungan untuk memberi kepada Tuhan, tetap saja kita diberkati oleh-Nya. Apalagi jika kita ingat untuk memberi kepada Tuhan, dengan penuh sukacita dan rela kita memberi kepada-Nya. Tentulah kita akan sangat dikasihi dan diberkati oleh-Nya.

Memberi persembahan kepada Tuhan bukan berarti Tuhan itu kekurangan, karena Ia adalah Mahakuasa dan Mahakaya. Seluruh isi dunia adalah milik-Nya. Memberi persembahan juga bukan karena Tuhan tengah berada di dalam kondisi yang kritis, perlu sumbangan secepatnya! Tidak. Jika kita hanya tau menikmati apa yang diberikan Tuhan, dan melupakan Ia sebagai sumber dari apa yang kita miliki, kita sangatlah bodoh! Tuhan adalah sumber dari apa yang kita miliki, bayangkan jika Ia mengambil apa yang ia percayakan kepada kita, apa kita miliki? Tidak ada! Semua harta benda kita , uang, adalah hasil pemberian Allah semata-mata. Harta paling berharga di tubuh kita, yakni nafas kita, ini bukan kita usahakan sendiri, tetapi dari Allah.

Jadi jangan takut untuk memberikan persembahan. berilah persembahan yang terbaik, yang sesuai dengan kemampuan kita. Jika Tuhan beri banyak kepada kita, melalui pekerjaan yang kita lakukan, kenapa kita takut untuk memberi banyak juga kepada Tuhan. Jika pun Tuhan beri sedikit kepada kita, kenapa kita kuatir untuk menyisihkannya bagi Tuhan! Janji Tuhan itu selalu nyata, Ya dan Amin. Ia tau pengorbanan orang yang memberikan persembahan, Ia akan memelihara kehidupan kita. Hanya syaratnya, berilah dengan sukacita dan kerelaan hati. Jika bersungut-sungut, mengeluh, apalah guna persembahan kita. meskipun satu kantong itu, kita sendiri isi itu penuh, atau satu ton emas, apalah artinya jika itu tidak diberkati Tuhan. Sama saja dengan sampah! Karena Tuhan kita bukan tuhan yang senang dengan persembahan yang banyak tetapi tanpa hati yang bersukacita dan rela dalam ucapan syukur kepada-Nya!

Boleh saja kita memberi banyak, bagus lagi. Program gereja kita yang tidak jalan karena tidak ada dana bisa dilaksanakan, natal bisa terlaksana dengan mandiri dari kita, tidak banyak meminta-minta, dan pekerja gereja bisa terjamin hidupnya. Nah kalau sudah seperti ini, jika Majelis atau Hamba Tuhan tidak benar kerjanya, program-program tidak terlaksana, bisa saja anda protes, karena anda sudah punya kesadaran memberi untuk gereja, dan itu adalah kepercayaan bagi Majelis untuk mengelolanya agar pelayanan bisa berjalan dengan lancar. Jadi memberi banyak itu bagus juga, asal tadi, SIKAP HATI: rela hati dan sukacita!

Jadi, ada 3 dasar kita memberi:

  1. Sebagai pengakuan kita bahwa apa yang ada pada diri kita adalah hasil pemberian Allah.
  2. Sebagai ucapan syukur kita atas apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidup kita.
  3. Sebagai bentuk dukungan kita kepada gereja dimana kita menjadi anggotanya, itu berarti mendukung program gereja, para pekerja gereja dan keperluan saudara yang berada dalam kekurangan.

Bapak/ibu/saudara(i), Seringkali para pengkhotbah menghindar untuk berbicara mengenai persembahan. Mengapa? Ada yang mengatakan bahwa bicara persembahan, itu artinya bicara tentang uang. Sementara uang adalah sumber dosa, alat dunia, sehingga tidak layak untuk dikhotbahkan apalagi dari atas mimbar seperti ini. Ada juga yang tidak mengkhotbahkannya karena takut, takut dikatakan nanti ada udang di balik batu, dikira ada apa di balik khotbah tentang persembahan. Intinya adalah persembahan walaupun telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ibadah Kristiani, dalam kenyataannya kurang mendapat tekanan dalam pengajarannya. Sehingga tidak heran, orang Kristen kemudian menjadi “bermasalah” dalam hal memberikan persembahan! Tau tentang nas persembahan, tetapi gagal dalam mempraktekkannya.

Jika hari ini dikhotbahkan bagi kita, tentu bukan karena sengaja. Tetapi ada maksud Tuhan dibaliknya. Jadi ini jadi teguran dan tantangan bagi kita semua, untuk memberikan persembahan yang terbaik kepada Tuhan, yang sepantasnya, sesuai dengan apa yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, dengan penuh sukacita dan kerelaan hati. Karena persembahan kita, bukan sekedar memberi, tetapi juga sebagai wujud penyembahan dan ibadah kita kepada Tuhan.

Semakin besar berkat Tuhan dalam hidup kita, kita harus semakin tahu cara berterima kasih kepada Tuhan. Semakin nyata berkat-Nya, harus semakin besar juga ucapan syukur kita kepada-Nya! Karena itu, jangan takut atau kuatir untuk memberikan persembahan kepada Tuhan! Amin!

One thought on “PERSEMBAHAN SEBAGAI UNGKAPAN SYUKUR (II Korintus 9:6-15)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s